— Biduan Patas Magelang — Yogyakarta
Bhinneka Tunggal Rossa
Menelusuri jejak
identitas Rossa Valent di jagat maya adalah sebuah studi menarik tentang
ketidakbakukan jenama (branding) di era informasi yang serba cepat.
Layaknya naskah manuskrip kuno yang memiliki variasi penyalinan di berbagai
daerah, nama biduan asal Kabupaten Magelang ini tersebar dalam berbagai
inkarnasi ejaan yang membingungkan namun, di saat yang sama, memikat.
Pada laman
Facebook pribadinya, ia memproklamirkan diri secara tegas sebagai Rossa Valent.
Di platform visual Instagram, ia konsisten dengan ejaan tersebut namun
menambahkan penegas keaslian menjadi @rossavalent_real.
Namun, di luar kendali jemarinya, publik dan penikmat musik memiliki
interpretasi aksara mereka sendiri.
Dalam poster
hajatan, judul video YouTube, hingga celotehan penonton di kolom komentar, kita
bisa menemukan variasi penulisan yang nyaris tak terbatas: ada yang menulisnya
Rosa Valent, Rossa Valen, Rosa Valen, dan mungkin juga ada yang menuliskannya
sebagai Rosa Vallen, Rossa Vallen, Rosa Vallent, atau Rossa Vallent.
Ketidakteraturan
ortografi ini justru menambah aura misterius pada sosoknya. Seolah-olah nama
hanyalah label fana yang tidak sanggup menampung esensi karismanya secara utuh.
Apakah dia menggunakan dua 's' atau satu 's', dua 'l' atau satu 'l', pada
akhirnya semantik menjadi tidak penting ketika dirinya telah berdiri di atas
panggung. Yang penting adalah kehadiran fisiknya yang nyata dan kemampuannya dalam
berunjuk rasa (expression) melalui olah vokal dan busana. Nama boleh
beragam, namun entitas yang dirujuk tetaplah satu pusat gravitasi panggung yang
sama.
Mengamati dokumentasi visual Rossa Valent, terlihat jelas bahwa ia bukan sekadar penyanyi dangdut yang menghibur lelaki dan perempuan yang lelah bekerja. Ia adalah manifestasi keberanian dalam menabrak batas kewajaran estetika panggung di sirkuit lokal.
Di sebuah panggung
di Kabupaten Magelang, Rossa tidak muncul dengan gaun malam konvensional yang
menyapu lantai—sebuah standar baku biduan dangdut pada umumnya. Ia berdiri
tegak, memegang pelantang suara dengan percaya diri, mengenakan atasan tube
top biru muda yang memamerkan kulit, dipadukan dengan sesuatu yang mungkin
adalah pernyataan busana (fashion statement) paling berani: sebuah rok
mini bermotif tumpukan saset deterjen.
Logo-logo parodi
sabun cuci bertuliskan "BOOM" dan "BRIGHT" terpampang
jelas, membungkus tubuhnya dengan pesan visual yang jenaka sekaligus artistik.
Ini bukan sekadar pakaian, ini adalah dialog visual. Penampilan ini diperkuat
dengan tatanan rambutnya yang dicat gradasi biru keabu-abuan, senada dengan
nuansa "bersih" dari motif deterjen yang dikenakannya.
Rossa menyadari
modal daya tarik fisik yang dimilikinya dan mengelolanya dengan kecerdasan
visual yang tinggi. Ia tidak hanya bernyanyi; ia menyajikan pertunjukan rupa.
Di tengah gempuran keseragaman gaya biduan, Rossa Valent hadir sebagai anomali
yang menyegarkan, seolah hendak "mencuci" mata para penonton dari
kebosanan visual akan gaun-gaun payet yang itu-itu saja.
Rossa Valent adalah bukti bahwa seorang seniman panggung dari Kabupaten Magelang mampu memiliki sensibilitas seni yang melampaui sekat-sekat kewilayahan. Ia adalah manusia biasa yang mungkin butuh makan, minum, dan istirahat, namun di atas panggung, ia menjelma menjadi entitas yang memikat hati banyak orang.
Entah ditulis
sebagai Rossa Valent, Rosa Valent, Rossa Valen, Rosa Valen, Rosa Vallen, Rossa
Vallen, Rosa Vallent, ataupun Rossa Vallent, ia tetaplah satu sosok yang sama.
Berbeda-beda penyebutan, namun tetap satu jua pesonanya.
Bhinneka Tunggal
Dia.
Manifesto Kemandirian di Balik Layar
Rekaman itu
bermula bukan dengan gegap gempita, melainkan dalam selimut kegelapan yang
disengaja. Sebuah chiaroscuro digital tersaji di layar, mempertegas
garis batas yang tegas antara panggung depan yang gemerlap penuh ilusi dengan
realitas panggung belakang yang suram dan telanjang. Kita tidak disambut dengan
fanfara musik pembuka atau sorot lampu moving head yang menyilaukan
mata, melainkan sebuah lorong sempit di Alfa Bravo, Yogyakarta.
Ini adalah ruang
liminal, sebuah area transisi yang penuh ketegangan diam-diam. Di sinilah sang
biduan berada di ambang dua dunia: ia belum sepenuhnya menjadi milik publik
yang siap dipuja, namun juga sudah melepaskan sebagian privasi dirinya sebagai
manusia biasa. Di lorong inilah, persona panggung mulai dikenakan, namun
sisa-sisa kelelahan manusiawi masih jelas terlihat.
Dalam detik-detik
awal yang krusial itu, kamera menangkap sebuah gestur kecil yang sering kali
luput dari narasi besar dunia hiburan: sebuah demonstrasi kemandirian fisik.
Rossa Valent tidak muncul dari balik tirai dengan iring-iringan asisten yang
membawakan tas rias, tidak pula didampingi manajer yang sibuk mengusir lalat
atau memastikan jalanan steril. Sebaliknya, ia muncul dengan tangan yang sibuk.
Ia membawa kursi plastiknya sendiri.
Tindakan ini
sederhana, namun sarat makna. Di sirkuit dangdut lokal, kursi plastik adalah
singgasana kaum pekerja. Ia ringan, fungsional, dan tidak menjanjikan
kenyamanan berlebih. Dengan menenteng kursi itu sendiri, Rossa sedang
meruntuhkan mitos "sang diva" yang harus dilayani. Ia menunjukkan
bahwa tubuhnya tidak hanya berfungsi estetik untuk dinikmati penonton lewat
tarian, tetapi juga berfungsi praktis untuk mengangkut beban logistiknya
sendiri.
Melihat
pemandangan yang tidak biasa bagi seorang "bintang" ini, sang pembawa
acara tidak bisa menahan rasa kagumnya. Pujian itu meluncur spontan, sebuah
pengakuan jujur bahwa di medan tempur dangdut lokal, manja adalah kemewahan
yang tidak terbeli.
"Ini
Mbak Rosa, woah. Strong. Biduan sing mandiri," serunya, suaranya menyiratkan rasa hormat pada
etos kerja yang "banting tulang" tersebut.
Kata
"mandiri" di sini bukan sekadar jargon motivasi. Dalam ekosistem
panggung hiburan rakyat, kemandirian adalah strategi bertahan hidup. Di
belakang panggung yang sering kali semrawut, minim fasilitas, dan didominasi
oleh laki-laki yang sibuk dengan urusan teknis, seorang biduan perempuan harus
mampu mengurus dirinya sendiri. Jika ia menunggu disediakan tempat duduk,
mungkin ia akan berdiri sepanjang malam. Dengan mengambil kursinya sendiri,
Rossa sedang melakukan klaim atas ruang (claiming space). Ia tidak
menunggu diizinkan duduk; ia menciptakan tempat duduknya sendiri.
Rossa tidak
menampik label itu. Ia tidak berpura-pura merendah atau malu ketahuan
mengangkat perabot. Dengan sigap, tanpa beban, dan mungkin dengan sedikit
kebanggaan yang terselip di sudut bibirnya, ia mengafirmasi status tersebut.
"Iya
dong," jawabnya singkat,
padat, dan mengunci perdebatan.
Dua kata itu,
"Iya dong," adalah sebuah proklamasi. Itu adalah penegasan bahwa ia
memegang kendali penuh atas kenyamanan dan kariernya. Ia bukan boneka yang
digerakkan oleh manajemen; ia adalah operator bagi dirinya sendiri. Di tengah
keremangan Alfa Bravo, Rossa Valent mengajarkan bahwa menjadi bintang tidak
berarti harus kehilangan daya juang untuk mengangkat beban—sekecil apa pun
itu—di atas pundak sendiri.
Di Balik Kursi Plastik Biduan
Jawaban dua kata
itu, "Iya dong," meluncur ringan dari bibir Rossa, namun
mendarat dengan bobot sosiologis yang berat. Di jagat hiburan nasional yang
sering kita saksikan melalui layar kaca, konstruksi seorang "bintang"
dibangun di atas fondasi eksklusivitas. Mereka dicitrakan sebagai entitas yang
"tidak boleh lelah" dan "harus dilayani". Dalam kontrak
mereka, sering kali terlampir rider (daftar permintaan khusus) yang
panjang dan kadang absurd—mulai dari merek air mineral tertentu, suhu ruangan
yang presisi, hingga warna handuk yang spesifik.
Namun, Rossa
Valent hadir merepresentasikan realitas yang berbeda. Ia adalah wajah dari
lapisan industri hiburan yang menopang pesta rakyat di akar rumput. Di sirkuit
ini, kemandirian bukan sekadar jargon motivasi di seminar, melainkan strategi
bertahan hidup yang fundamental.
Membawa kursi
sendiri adalah sebuah pernyataan sikap (statement). Mari kita bayangkan
ekologi belakang panggung tempat ia berada: semrawut, minim fasilitas,
kabel-kabel berseliweran seperti ular, dan kru laki-laki yang berlalu-lalang
mengurus sound system yang mendengung. Di tengah kekacauan maskulin itu,
seorang biduan tidak bisa pasif menunggu kenyamanan diantarkan kepadanya. Jika
ia ingin duduk, ia harus mengambil kursinya sendiri. Tindakan ini meruntuhkan
dinding tebal yang biasanya memisahkan "artis" dengan "pekerja
kasar". Rossa menunjukkan bahwa tubuhnya tidak hanya berfungsi estetik
untuk dinikmati penonton lewat tarian, tetapi juga berfungsi fungsional untuk
mengangkut beban logistiknya sendiri.
Fenomena ini
menarik ingatan kita pada etos kerja seniman panggung keliling di masa lalu,
seperti pemain ketoprak tobong atau rombongan lenong, yang kerap merangkap
sebagai kru bagi diri mereka sendiri. Dalam ekosistem dangdut di Yogyakarta dan
Jawa Tengah, batas antara bintang dan pendukung acara memang sangatlah tipis di
area backstage. Solidaritas terbentuk bukan karena hierarki status,
melainkan karena kesamaan nasib sebagai pekerja malam yang mencari nafkah di
bawah langit yang sama.
Lebih jauh lagi,
kemandirian ini bisa dibaca sebagai bentuk resistensi halus terhadap kerentanan
perempuan di ruang publik. Dengan membawa kursinya sendiri, Rossa secara
simbolik sedang mengklaim ruang (claiming space). Ia tidak menunggu
diizinkan duduk; ia menciptakan tempat duduknya sendiri. Ia menentukan di mana
ia akan beristirahat, mengatur teritori kecilnya di tengah kekacauan persiapan
acara.
Kata
"mandiri" yang disematkan oleh sang Host juga memantik telaah budaya
yang menarik. Dalam konteks budaya Jawa, perempuan yang mandiri sering kali
dipandang dengan dua sisi mata uang: dikagumi karena ketangguhannya ("perempuan bakul"), namun kadang dikasihani karena dianggap harus menanggung beban
hidup sendirian. Namun, perhatikan nada bicara Rossa saat menjawab "Iya
dong". Tidak ada nada keluhan sedikit pun di sana. Itu adalah nada bangga.
Sebuah proklamasi bahwa ia memegang kendali penuh atas karier dan kenyamanan
dirinya. Ia bukan boneka yang digerakkan oleh manajemen; ia adalah operator
bagi dirinya sendiri.
Kita juga tidak
bisa mengabaikan objek yang ia bawa: kursi plastik. Perabot ini adalah artefak
paling jujur dan demokratis dalam pesta rakyat Indonesia. Ia ada di hajatan
kampung, di warung makan pinggir jalan, dan di rapat RT. Kursi plastik tidak
menjanjikan kemewahan, tetapi menjanjikan fungsi. Dengan duduk di kursi plastik
yang ia bawa sendiri, Rossa menegaskan bahwa ia adalah bagian organik dari
rakyat kebanyakan. Ia tidak duduk di sofa empuk yang memisahkan dirinya dari
realitas penontonnya. Ia duduk di level yang sama, dengan material yang sama
dengan yang diduduki oleh para penggemarnya di depan panggung.
Kemandirian
semacam ini juga mencerminkan pola ekonomi gig economy dalam industri
dangdut koplo. Para biduan ini pada hakikatnya adalah freelancer atau
pekerja lepas. Mereka tidak memiliki jaminan gaji bulanan, asuransi kesehatan
korporat, atau tunjangan pensiun. Modal utama mereka adalah suara, penampilan,
dan kesehatan fisik. Jika mereka menjadi sosok yang "ribet" atau high
maintenance, mereka akan tergilas oleh kerasnya kompetisi.
Dalam durasi yang
sangat singkat itu, kita melihat sebuah mikrokosmos dari kehidupan Rossa
Valent. Ia datang, ia memetakan situasi, dan ia beradaptasi dengan mengangkat
kursinya sendiri. Tidak ada drama, tidak ada permintaan khusus. Hanya
pragmatisme murni. Sikap "tanpa ribet" inilah yang mungkin menjadi
nilai jual tersendiri yang membuat para penyelenggara acara dan sesama musisi
nyaman bekerja dengannya.
Kehadiran fisik
kursi itu kemudian menjadi jangkar bagi adegan selanjutnya. Setelah kursi
diletakkan, Rossa duduk dengan tenang. Gestur tubuhnya rileks, menandakan bahwa
ia sudah terbiasa dengan segala keterbatasan fasilitas. Ia telah berhasil
mengubah sudut gelap di belakang panggung itu menjadi ruang pribadinya, sebuah dressing
room imajiner yang ia bangun hanya dengan bermodalkan satu kursi plastik
dan rasa percaya diri yang utuh. Kini, setelah urusan tempat duduk selesai,
matanya mulai awas memindai lingkungan sekitarnya, bersiap menemukan
"teman dialog" lain di kegelapan itu.
Tanaman Liar dan Absurditas Percakapan Panggung
Belakang
Setelah drama
kecil tentang kursi plastik itu usai, suasana hening sejenak mengisi ruang
antara Rossa dan si pembawa acara. Dalam jeda yang menggantung itu, perhatian
sang biduan tidak terpaku pada lensa kamera yang menyorot wajahnya, juga tidak
pada layar ponsel yang biasanya menjadi pelarian para bintang saat bosan.
Matanya justru berkelana, menembus batas area wawancara yang diterangi lampu
seadanya, menuju kegelapan pekat di punggungnya.
Di sana, sebuah
pagar besi berdiri kaku membatasi area operasional panggung dengan lahan sisa
di belakang gedung Alfa Bravo. Bagi mata orang awam, area gelap itu hanyalah
latar belakang yang tidak relevan, sekumpulan semak belukar yang luput dari
perawatan. Namun, bagi Rossa, ada kehidupan di sana yang menarik untuk
didefinisikan ulang. Ia merasa perlu mengajak penonton untuk melihat apa yang
ia lihat, mengubah sudut pandang dari sosok dirinya yang gemerlap menuju
realitas lingkungan yang suram namun jujur.
"Ada
apa di situ. Itu adalah kebon, guys. Ya... kurang lebih isinya adalah
tanam-tanaman," ucap Rossa sambil
menunjuk lurus ke arah kegelapan dengan nada bicara layaknya seorang pemandu
wisata yang sedang memperkenalkan situs bersejarah, meski yang ditunjuk
hanyalah gulita.
Rossa tidak
berhenti pada identifikasi objek semata. Ia melakukan klasifikasi yang spesifik,
sebuah taksonomi jalanan yang membedakan dengan tegas antara apa yang
dipelihara dan apa yang bertahan hidup. Kalimat selanjutnya yang ia luncurkan
adalah sebuah pengamatan botani yang, tanpa sadar, menjadi cermin bagi dunia
yang ia geluti.
"Yang
tumbuh liar, tidak ditanam. Itu namanya tanaman liar," lanjutnya dengan penekanan intonasi pada kata
"tidak ditanam", seolah ingin memastikan bahwa kita memahami
perbedaan mendasar antara tanaman hias di pot dengan vegetasi di belakang
panggung itu.
Metafora yang Tak Disengaja
Frasa "tidak
ditanam" ini memiliki daya ledak makna yang luar biasa jika kita mau duduk
sejenak merenunginya. Tanaman yang ditanam biasanya hidup di tanah yang sengaja
digemburkan, diberi pupuk terjadwal, disiram secara teratur, dan dilindungi
dari hama. Mereka indah karena dimanjakan. Mereka tumbuh karena ada campur
tangan manusia yang menginginkan mereka tumbuh sesuai estetika tertentu. Ini
sangat mirip dengan karier artis-artis pop industri besar yang
"ditanam" oleh label rekaman: dibentuk citranya, diatur jadwalnya,
dan dilindungi dari skandal agar tetap wangi di mata publik.
Sebaliknya, apa
yang ditunjuk Rossa adalah antitesis dari kemanjaan tersebut. Tanaman liar di
belakang panggung Alfa Bravo tumbuh bukan karena keinginan tukang kebun,
melainkan karena kehendak hidup mereka sendiri. Mereka mencengkeram tanah
berbatu, berebut air hujan, dan tetap berdiri meski terinjak sepatu bot kru
panggung atau terpapar debu jalanan. Mereka tidak butuh perlakuan khusus untuk
ada. Mereka mandiri, tangguh, dan organik.
Rossa Valent,
dalam banyak hal, adalah manifestasi manusia dari tanaman liar tersebut.
Kariernya tidak tumbuh di dalam inkubator manajemen artis ibu kota yang steril.
Ia tumbuh merambat dari satu panggung hajatan ke panggung klub malam, ditempa
oleh kerasnya persaingan biduan daerah, dan bertahan menghadapi angin malam
serta risiko jalanan Magelang—Yogyakarta. Tidak ada yang "menanam"
Rossa Valent agar menjadi bintang; ia menanam dirinya sendiri, mengakar kuat
pada demografi penontonnya, dan mekar dengan caranya yang liar. Ketangguhan
inilah yang membuatnya relevan dan hidup, berbeda dengan bunga potong yang
cantik tapi cepat layu.
Menertawakan Diri Sendiri
Setelah momen
kontemplasi botani yang mendadak itu usai, Rossa kembali menarik kesadarannya
ke situasi saat ini. Ia duduk di kursi plastik, di depan kamera, diwawancarai
oleh seseorang, di tempat yang dikelilingi semak belukar. Tiba-tiba, rasa
absurditas itu menghantamnya.
Untuk apa semua
ini? Apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan? Apakah deskripsi tentang
tanaman liar tadi memiliki nilai berita?
Kesadaran ini
memicu sebuah respons humor yang sangat cerdas. Alih-alih berpura-pura serius
atau mencoba membangun citra intelektual, Rossa memilih untuk meruntuhkan
dinding keempat (breaking the fourth wall). Ia menelanjangi proses pembuatan
konten itu sendiri dengan sebuah pertanyaan yang menohok namun jenaka.
"Ini
kita... penting ngomong ya, enggak ngomong penting ya?" tanyanya sambil terkekeh menutup mulut, matanya
menyipit menangkap kejenakaan situasi di mana dua orang dewasa berbicara serius
tentang hal-hal yang mungkin tidak ada gunanya.
Pertanyaan ini
adalah oase kejujuran di tengah gurun konten digital yang sering kali penuh
kepalsuan. Hari ini, kita dibanjiri oleh video-video yang berusaha keras
terlihat "inspiratif", "edukatif", atau
"berbobot". Semua orang ingin bicaranya dianggap penting. Namun,
Rossa justru melakukan sebaliknya. Ia mempertanyakan signifikansi suaranya
sendiri. Ia mengajak sang lawan bicara—dan kita sebagai penonton—untuk tidak
terlalu menganggap diri sendiri serius.
Ada kerendahan
hati dalam pertanyaan tersebut. Rossa menyadari bahwa panggung hiburan,
wawancara belakang layar, dan segala hiruk-pikuk ini pada dasarnya adalah
permainan belaka. Mungkin obrolan mereka memang tidak "penting" dalam
skala besar dunia, tidak akan mengubah kebijakan negara atau menemukan obat
penyakit. Tapi justru dalam pengakuan "ketidakpentingan" itulah
muncul koneksi manusiawi yang tulus.
Rossa tidak sedang
menjadi narasumber yang berjarak; ia sedang menjadi teman nongkrong. Dan dalam
budaya tongkrongan, pembicaraan yang "enggak ngomong penting" sering
kali justru menjadi perekat sosial yang paling kuat. Obrolan ngalor-ngidul
tanpa arah yang jelas adalah cara manusia beristirahat dari beban hidup yang
menuntut serba produktif. Dengan pertanyaan itu, Rossa Valent mengundang kita
untuk rileks, melupakan beban "kepentingan", dan sekadar menikmati
momen receh bersama seorang biduan yang baru saja memberi kuliah singkat
tentang tanaman liar.
Panggung Alfa Bravo dan Ekosistem Malam di Jalan
Parangtritis
Setelah tawa
renyah mereda dan momen absurd tentang "tanaman liar" berlalu, sang
pembawa acara berusaha menarik kembali kendali percakapan ke jalur yang lebih
membumi. Ia melakukan semacam check-in realitas, sebuah prosedur standar
untuk memastikan bahwa penonton tahu siapa yang sedang berbicara dan di mana
peristiwa ini berlangsung.
"Mbak,
apa kabar e, Mbak?" tanyanya, sebuah
pertanyaan basa-basi yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban panjang lebar.
"Baik," jawab Rossa singkat. Satu kata yang padat.
Di dunia hiburan,
kata "baik" sering kali bukan deskripsi medis atau psikologis,
melainkan sebuah kode profesionalisme. Mungkin kakinya pegal setelah menyetir
dari Magelang, mungkin pikirannya sedang bercabang memikirkan cicilan atau
urusan rumah, namun di depan kamera dan di area kerja, jawabannya harus selalu
"baik". Ini adalah topeng pertama yang dikenakan sebelum
topeng-topeng panggung lainnya dipasang.
Host kemudian
melanjutkan dengan pertanyaan kunci yang mengikat mereka pada koordinat ruang
dan waktu.
"Sekarang
berada di mana, Mbak?"
"Eh
sekarang kita lagi di Alfa Bravo, panggung Alfa Bravo," jawab Rossa, menyebut nama tempat itu dengan nada
familiar, seolah sedang menyebut nama rumah keduanya.
Bagi mereka yang
awam dengan peta hiburan malam Yogyakarta, Alfa Bravo mungkin terdengar seperti
kode militer. Namun, bagi penikmat dangdut di wilayah selatan, nama ini adalah
institusi. Terletak di Jalan Parangtritis Km 5, Sewon, Bantul, tempat ini
berdiri di jalur arteri legendaris yang menghubungkan denyut nadi Kota
Yogyakarta dengan mistisnya laut selatan. Alfa Bravo Enterprise I bukan sekadar
bangunan fisik; ia adalah sebuah ekosistem.
Hubungan antara
Rossa Valent dan panggung Alfa Bravo adalah sebuah simbiosis mutualisme yang
sempurna dalam ekonomi hiburan rakyat. Tempat nongkrong semacam ini adalah
"tubuh" yang mati tanpa "jiwa", dan jiwanya adalah para
biduan. Panggung, setumpuk sound system menggunung, dan lampu sorot yang
mahal tidak akan berarti apa-apa tanpa kehadiran sosok seperti Rossa yang mampu
menyedot energi massa. Sebaliknya, Rossa membutuhkan Alfa Bravo sebagai
"etalase". Di sinilah ia menjajakan suaranya, merawat basis
penggemarnya, dan tentu saja, mengais rezeki.
Ada pertukaran
energi yang intens di lokasi ini. Orang-orang datang ke Sewon bukan untuk
berkontemplasi di perpustakaan. Mereka datang—para pekerja kasar, mahasiswa,
hingga pegawai kantoran yang penat—untuk melepas lelah. Mereka mencari
pelepasan (release). Dan di sinilah peran Rossa menjadi krusial. Di atas
panggung Alfa Bravo, ia bukan sekadar penyanyi; ia adalah terapis massal. Ia
menyerap kelelahan penonton, mengolahnya lewat goyangan dan cengkok dangdut,
lalu mengembalikannya dalam bentuk kegembiraan kolektif.
Berada di sana, di
belakang panggung yang berbatasan dengan kebun liar itu, Rossa mungkin
merasakan campur aduk perasaan yang kompleks. Ada antisipasi demam panggung
yang tidak pernah benar-benar hilang, ada adrenalin yang mulai terpompa
mendengar suara check sound yang berdentum di dada, dan ada rasa
memiliki terhadap kerumunan yang sebentar lagi akan meneriakkan namanya.
Alfa Bravo menjadi
titik temu dua kebutuhan mendasar manusia: kebutuhan untuk menghibur dan
kebutuhan untuk dihibur. Dan Rossa Valent, dengan kostum deterjennya yang
ikonik atau gaun apapun yang ia kenakan malam itu, berdiri tepat di tengah
pusaran energi tersebut. Ia sadar, begitu ia melangkah keluar dari lorong gelap
itu menuju sorot lampu, ia bukan lagi Rossa yang menyetir sendirian dari
Magelang. Ia adalah milik panggung Alfa Bravo, ratu semalam bagi warga Sewon
dan sekitarnya.
Saat Biduan Menjadi Muse Digital
Di tengah
hiruk-pikuk persiapan naik panggung, sang tuan rumah wawancara sempat mengalami
momen blank. Sebuah jeda kognitif yang wajar terjadi ketika seseorang
berhadapan dengan sosok yang memiliki banyak dimensi. Rossa Valent bukan hanya
penyanyi; ia adalah entitas yang cair. Kebingungan itu terekam jelas dalam
kegagapan yang jujur.
"Mbak
Rossa... Hmm tanya apa ya kok bingung aku ya. Oh, Mbak. Jarene gawe video
musik, Mbak, dirimu Mbak?"
tanyanya, mencoba menggali ingatan tentang aktivitas digital sang biduan di
luar panggung Alfa Bravo.
Pertanyaan ini
membuka gerbang menuju sisi lain karier Rossa yang jarang terekspos di panggung
luring. Rossa tidak menampik. Dengan nada yang ringan, seolah hal itu adalah
rutinitas biasa, ia mengonfirmasi keterlibatannya dalam sebuah proyek kreatif.
"Oh
iya. Aku di... eh di klip videonya Kak TT, ya rilis single, terus di situ aku
jadi model video klipnya."
Sebutan "Kak
TT" di sini merujuk pada sosok Tetegalaga, sebuah nama yang cukup
bising di skena musik elektronik dan remix lokal. Kolaborasi ini bukanlah
pertemuan kebetulan, melainkan sebuah penyatuan dua kekuatan: audio dan visual.
Dalam proyek bertajuk "DJ Goyang Goyang", Rossa Valent tidak
diposisikan sebagai vokalis utama yang memamerkan cengkok, melainkan
bermetamorfosis menjadi seorang muse—sebuah jangkar visual yang memberi
nyawa pada ketukan musik elektronik yang repetitif.
Jika kita
menelusuri jejak digital dari karya-karya yang disebutkan—berbagai versi
"DJ Goyang Goyang" yang tersebar di YouTube—kita akan menemukan
sebuah pola estetika yang menarik. Musik yang diracik oleh Tetegalaga adalah
jenis functional music yang dirancang khusus untuk menggerakkan tubuh.
Dentuman bass yang konstan dan loop melodi yang hipnotik membutuhkan
representasi visual yang setara energinya. Di sinilah Rossa Valent masuk.
Sebagai
"model video klip", Rossa tidak sekadar berpose manis. Ia
menerjemahkan energi musik itu ke dalam bahasa tubuh. Dalam ekosistem YouTube
dangdut dan remix, visual adalah raja. Penonton tidak hanya
"mendengarkan" lagu; mereka "menonton" lagu. Kehadiran Rossa
memberikan wajah pada suara, memberikan karakter pada beat. Ia menjadi
jembatan yang menghubungkan produser musik (Tetegalaga) dengan audiens yang
haus akan hiburan mata.
Fenomena ini
menunjukkan bahwa Rossa Valent memiliki kesadaran transmedia. Ia paham
bahwa panggung Alfa Bravo memberinya massa yang riil dan keringat yang nyata,
tetapi YouTube dan video klip memberinya keabadian digital. Jejak digital di
"DJ Goyang Goyang" memungkinkan sosoknya dinikmati tanpa batas
geografis dan waktu. Ia bisa hadir di layar ponsel seorang TKI di Taiwan atau
di warung kopi di Kalimantan, jauh melampaui jangkauan fisik panggung di Jalan
Parangtritis.
Ucapan Rossa yang
menekankan frasa "jadi model" juga menyiratkan kerendahan hati
sekaligus fleksibilitas profesional. Ia tidak egois harus selalu memegang mik.
Ia bersedia menjadi bagian dari visi artistik orang lain, meleburkan egonya
demi sebuah karya kolaboratif. Ini adalah bukti lain dari etos kerjanya yang
cair: di panggung ia adalah ratu yang memegang kendali, namun di depan lensa
Tetegalaga, ia adalah aset visual yang patuh pada arahan artistik demi
terciptanya sebuah banger digital.
Redefinisi Healing dan Ekonomi Kegembiraan di Kaki
Merapi
Setelah mengupas
lapisan teknis dari keterlibatannya sebagai model video klip, sang pembawa
acara mencoba menggali lebih dalam ke dimensi pengalaman. Ia tidak puas hanya
dengan mengetahui "apa" yang dilakukan Rossa; ia ingin tahu
"bagaimana" rasanya. Sebuah pertanyaan terbuka dilontarkan,
memberikan ruang bagi Rossa untuk menarasikan memori emosionalnya selama proses
produksi tersebut.
"Mbak...
emm... selama bikin video apa Mbak cerita-ceritanya?" tanyanya, mencoba memancing anekdot atau keluhan
yang mungkin tersembunyi di balik layar produksi.
Namun, jawaban
yang keluar dari mulut Rossa Valent bukanlah keluhan tentang panjangnya jam
kerja atau lelahnya mengulang adegan. Sebaliknya, ia membuka kotak pandora
berisi definisi ulang tentang hakikat bekerja.
"Ya...
asik aja sih ya," jawabnya dengan
nada ringan, seolah beban pekerjaan itu menguap begitu saja.
Kata
"asik" di sini adalah kunci pembuka. Dalam leksikon anak muda,
"asik" menandakan sebuah keadaan di mana seseorang hanyut dalam flow.
Rossa tidak merasakan gesekan (friction) yang menyakitkan antara kewajiban
profesional dengan keinginan personalnya. Ia melanjutkan dengan menjelaskan
elemen kunci yang membuat pekerjaan itu menjadi "asik".
"Eh
kita seru-seruan sama temen-temen."
Di sinilah letak
fondasi sosiologis pertama: Komunalitas. Bagi Rossa, kerja video klip bersama
tim Tetegalaga bukan sekadar transaksi jasa antara model dan produser. Itu
adalah pertemuan antarteman. "Seru-seruan" mengindikasikan bahwa
atmosfer produksi tidak kaku dan hierarkis, melainkan cair dan egaliter. Ketika
rekan kerja bermetamorfosis menjadi "temen-temen", maka alienasi (keterasingan)
yang sering dirasakan kaum buruh terhadap pekerjaannya menjadi sirna. Rossa
tidak merasa menjadi sekrup dalam mesin industri; ia merasa menjadi bagian dari
sebuah klan yang sedang bermain.
Narasi Rossa
kemudian bergerak menuju sebuah konsep yang belakangan ini mengalami inflasi
makna luar biasa di media sosial: Healing.
"Ya
itung-itung holiday healing gitu lah."
Penggunaan frasa holiday
healing untuk mendeskripsikan sebuah sesi syuting video klip profesional
adalah sebuah anomali yang jenius. Secara konvensional, kaum pekerja urban
memandang healing sebagai antitesis dari bekerja. Orang pergi healing
untuk melarikan diri dari pekerjaan, mematikan notifikasi email, dan menjauh
dari tuntutan klien. Healing adalah jeda dari produktivitas.
Namun, Rossa
Valent melakukan subversi terhadap logika tersebut. Ia tidak memisahkan
produktivitas dari pemulihan jiwa. Ia meleburkannya. Ia menjadikan momen kerja
sebagai momen liburan. Bagaimana bisa? Jawabannya terletak pada konteks spasial
yang ia sebutkan selanjutnya.
"Soalnya
tempatnya itu kan kita ngambilnya... eh di bawah Gunung Merapi ya."
Lokasi menjadi
variabel penentu. "Bawah Gunung Merapi" bukan sekadar koordinat
geografis. Bagi masyarakat Jawa, Merapi adalah entitas yang sublime
(agung), penuh energi, dan magis. Bandingkan dengan lingkungan kerja Rossa
sehari-hari: panggung klub malam yang gelap, penuh asap rokok, pengap, dan
dibatasi tembok beton (seperti lorong Alfa Bravo tadi).
Ketika ia dibawa
keluar dari ruang claustrophobic (sempit/tertutup) menuju ruang terbuka
di kaki gunung, tubuh dan jiwanya merespons. Udara sejuk Kaliurang atau
Cangkringan, hamparan hijau, dan kemegahan gunung berapi aktif itu memberikan
kontras sensorik yang menyegarkan.
"Jadi
kita sekalian sambil healing, terus lihat suasana pemandangan alam, terus
seru-seruan."
Di sinilah terjadi
simbiosis antara tugas dan wisata. Matanya dimanjakan oleh alam (leisure),
sementara tubuhnya bekerja untuk kamera (labor). Rossa tidak merasa dieksploitasi
oleh pekerjaan karena ia mendapatkan "upah psikis" berupa pemandangan
alam dan udara segar, di luar upah finansial yang ia terima. Ia cerdas dalam
mengambil keuntungan ganda dari situasi tersebut.
Refleksi ini
membawanya pada sebuah kesimpulan filosofis tentang gaya hidup yang ia jalani.
Sebuah etos kerja yang mungkin menjadi impian utopis bagi banyak orang yang
terjebak dalam rutinitas 9-to-5.
"Ya
asik aja sih. Eh kalau aku sih kerja sambil dolan gitu ya."
Kata
"Dolan" dalam bahasa Jawa memiliki spektrum makna yang luas: bermain,
berkunjung, jalan-jalan, bersenang-senang. Konsep "Kerja sambil
dolan" ini sejatinya adalah kearifan lokal yang mendahului tren Digital
Nomad atau Work from Anywhere yang diagung-agungkan kaum milenial
kota. Jauh sebelum orang-orang membawa laptop ke kafe di Bali, seniman panggung
seperti Rossa sudah mempraktikkan mobilitas ini.
Namun, Rossa
menambahkan satu elemen krusial yang membuat konsep "dolan"-nya
menjadi sangat pragmatis dan tidak naif.
"Dolan
tapi menghasilkan uang gitu lho."
Ini adalah kalimat
pamungkas. Biasanya, "dolan" diasosiasikan dengan konsumsi
(pengeluaran uang). Kita membayar bensin, tiket masuk, dan jajan saat dolan.
Rossa membalik logika ekonomi tersebut. Ia melakukan aktivitas dolan (pergi ke
tempat baru, menikmati alam), tetapi aktivitas itu justru menjadi keran
pemasukan (produksi).
Ia merayakan
posisi uniknya dalam rantai ekonomi. Ia tidak perlu menabung berbulan-bulan
hanya untuk melihat Merapi. Pekerjaannya membawanya ke sana, dan membayarnya
untuk berada di sana. Ada nada kemenangan kecil dalam kalimatnya, sebuah
kebanggaan bahwa ia berhasil meretas sistem kehidupan: bersenang-senang dan
dibayar karenanya.
Sang pembawa
acara, yang mungkin juga seorang pekerja kreatif yang merasakan dinamika
serupa, tidak bisa tidak setuju.
"Setuju,
Mbak."
Persetujuan ini
menciptakan sebuah ruang gema (echo chamber) validasi. Mereka berdua, di
lorong gelap itu, saling menguatkan pilihan hidup mereka yang tidak
konvensional.
Rossa kemudian
memadatkan seluruh uraian panjang lebarnya menjadi satu frasa yang sering
menjadi jargon motivasi, namun kali ini terdengar sangat otentik.
"Iya.
Hobi yang menghasilkan uang."
Frasa ini adalah Holy
Grail (cawan suci) kehidupan modern. Confucius pernah berkata,
"Pilihlah pekerjaan yang kau cintai, dan kau tidak akan pernah perlu
bekerja sehari pun dalam hidupmu." Rossa Valent adalah manifestasi hidup
dari pepatah kuno tersebut di era dangdut koplo. Ia membingkai menyanyi dan
menjadi model bukan sebagai beban kewajiban, melainkan sebagai ekstensi dari
hobi.
Host mengulanginya
kembali, seolah ingin mantra itu meresap ke dalam dinding-dinding Alfa Bravo.
"Hobi
yang menghasilkan uang."
Pengulangan ini
menegaskan sebuah konsensus. Bahwa di tengah ketidakpastian gig economy, di
tengah risiko perjalanan malam dan ancaman klithih, satu-satunya hal
yang membuat mereka tetap waras dan bertahan adalah rasa cinta pada apa yang
mereka lakukan. Bahwa ini adalah hobi.
Namun, apakah
benar sesederhana itu? Apakah benar tidak ada lelah? Apakah benar semuanya
murni kesenangan?
Tiba-tiba, setelah
puncak filosofis tentang hobi dan uang itu tercapai, realitas percakapan
kembali menghantam dinding buntu. Semua hal "pintar" dan
"bijak" rasanya sudah tertumpahkan. Tidak ada lagi naskah, tidak ada
lagi topik berat.
"Ngomong
apa ya..." gumam Host,
suaranya mengecil, menyiratkan kehabisan bahan bakar intelektual.
Momen ini sangat
manusiawi. Setelah membahas hal-hal tinggi tentang healing dan ekonomi
kreatif, mereka kembali menjadi dua manusia biasa yang canggung di depan kamera
yang masih merekam. Bingung harus membawa obrolan ke mana lagi.
Respons Rossa
terhadap kekosongan ini adalah respons yang paling purba dan jujur: Tawa.
Tawa ini bukan tawa yang meremehkan. Ini adalah tawa pelepasan. Tawa yang mengakui absurditas situasi: dua orang di belakang panggung, mencoba mencari makna di tengah kebingungan, setelah sok bijak bicara soal kehidupan. Gestur menutup mulut menyiratkan kesopanan sekaligus upaya menahan ledakan geli yang tak terbendung.
Dalam tawa itu,
runtuhlah segala pretensi. Tidak ada lagi biduan, tidak ada lagi pewawancara.
Yang ada hanya momen cringe yang dinikmati bersama. Dan mungkin, justru
di situlah letak healing yang sesungguhnya: kemampuan untuk menertawakan
kebingungan kita sendiri setelah lelah berbicara tentang uang dan pekerjaan.
Di kaki Merapi
mereka menemukan uang, tapi di keheningan canggung Alfa Bravo, mereka menemukan
kemanusiaan yang renyah lewat tawa. Sebuah penutup segmen yang sempurna untuk
sebuah diskusi tentang kebahagiaan.