Lelahnya Menonton Film dan Drama Korea



Saya sungguh lelah menonton film dan drama Korea yang tidak memberikan celah sedikit pun bagi kita untuk mencela. Sungguh menyebalkan ketika kita ingin mencari hiburan ringan, tetapi malah disuguhi riset akademis yang menyamar sebagai tontonan. Sineas di sana sepertinya memiliki obsesi tidak sehat terhadap detail yang seharusnya bisa diabaikan demi kenyamanan produksi. Kenapa mereka tidak bisa santai sedikit dan membiarkan satu atau dua gelas kopi starbucks bocor di drama sejarah? Ketelitian yang berlebihan ini membuat penonton merasa bodoh karena tidak menyadari detail tersebut di awal. Mari kita bedah betapa mengganggunya dedikasi mereka pada deretan karya berikut ini.

Kita mulai dengan film Exit (31 Juli 2019) yang benar-benar menghancurkan fantasi kita tentang pahlawan super instan. Alih-alih menampilkan aksi terbang yang tidak masuk akal, film ini malah menyiksa penonton dengan teknik panjat tebing yang akurat secara teknis. YoonA dan Jo Jung-suk dipaksa melakukan prosedur keselamatan tali-temali dan penggunaan kapur yang sesuai standar atlet profesional. Kenapa mereka harus mengajarkan cara membuat tandu darurat dan sinyal SOS yang benar-benar bisa diaplikasikan di dunia nyata? Ini film aksi komedi, bukan tutorial bertahan hidup dari Badan Penanggulangan Bencana yang sangat edukatif. Detail fisik yang realistis ini membuat kita kehilangan kesempatan untuk menertawakan kebodohan karakter utama.

Kemudian ada Confidential Assignment (18 Januari 2017), film yang membuat kesalahan fatal dengan membuat karakter pendukung terlalu berdimensi. YoonA, yang berperan sebagai adik ipar pengangguran, tampil terlalu natural dengan pakaian rumah yang lusuh dan kelakuan memalukan. Sineasnya terlalu niat membangun chemistry komedik yang solid di tengah ketegangan spionase antara Korea Utara dan Selatan. Adegan pertarungan jarak dekat Hyun Bin dirancang dengan koreografi yang memperhitungkan efisiensi gerak, bukan sekadar gaya-gayaan. Mengapa mereka tidak membiarkan pelurunya tidak terbatas seperti film aksi murahan pada umumnya? Realisme senjata dan taktik militer di sini sungguh merusak imajinasi liar kita tentang perang yang serampangan.

Kekesalan berlanjut pada sekuelnya, Confidential Assignment 2: International (07 September 2022), yang justru melipatgandakan kesalahan film pertamanya. Skala aksinya diperbesar, tetapi mereka tetap keras kepala mempertahankan konsistensi logika cerita dan pengembangan karakter. YoonA kembali dengan porsi komedi yang timing-nya terlalu presisi, seolah-olah naskahnya dijaga ketat oleh pakar humor. Penambahan karakter Daniel Henney sebagai agen FBI malah memperumit riset karena mereka harus memadukan tiga gaya bertarung yang berbeda. Kenapa mereka repot-repot memikirkan detail forensik digital dan birokrasi antarnegara yang masuk akal? Sungguh membuang waktu karena penonton sebenarnya hanya ingin melihat ledakan tanpa otak.

Puncak kekecewaan saya jatuh pada Exhuma (22 Februari 2024), sebuah film yang terlalu serius menanggapi klenik dan sejarah. Jang Jae-hyun sebagai sutradara pasti kurang kerjaan sampai melakukan riset mendalam tentang ritual perdukunan dan Feng Shui tradisional. Kim Go-eun dan Lee Do-hyun melakukan rapalan mantra dan tarian ritual yang terlalu meyakinkan hingga terasa seperti dokumenter antropologi. Mereka bahkan repot-repot memasukkan konteks sejarah pendudukan Jepang dan pasak besi dengan akurasi data yang mengerikan. Kenapa hantunya tidak dibuat kaget-kagetan saja tanpa perlu filosofi tanah dan leluhur yang berat? Film ini terlalu menghormati budaya dan sejarah, sehingga menghilangkan sensasi horor murahan yang kita rindukan.

Beralih ke drama, Brain Works (02 Januari 2023) adalah contoh nyata bagaimana sains neurobiologi dipaksakan masuk ke ranah hiburan. Drama ini dengan lancang menjelaskan fungsi bagian otak tertentu untuk memecahkan kasus kriminal dengan terminologi yang valid. Interaksi antar karakter dibangun berdasarkan tipe kepribadian otak yang memiliki dasar ilmiah, bukan sekadar mood penulis naskah. Mengapa kita harus belajar tentang prefrontal cortex saat sedang ingin menonton polisi mengejar penjahat? Penulis naskahnya pasti seorang akademisi yang tersesat di stasiun TV dan ingin menguliahi penontonnya. Detail medis yang akurat ini sungguh mengganggu bagi kita yang ingin berpikir dangkal.

Drama Melancholia (10 November 2021) melakukan dosa besar dengan membuat matematika terlihat estetis dan penuh filosofi kehidupan. Mereka menampilkan rumus-rumus rumit di papan tulis yang, sayangnya, ditulis dengan benar dan bukan sekadar coretan acak. Dialog-dialognya dipenuhi metafora angka yang mendalam, memaksa penonton untuk merenungkan keindahan logika di balik sains. Kenapa mereka harus menunjukkan bahwa matematika bisa menjadi bahasa cinta dan seni yang begitu puitis? Seharusnya sekolah digambarkan membosankan, bukan tempat di mana guru dan murid berdebat cerdas tentang pembuktian teorema. Visualisasinya yang artistik membuat mata pelajaran paling dibenci ini malah terlihat romantis dan agung.

Lalu ada Doctor Cha (15 April 2023) yang dengan tidak sopan mencampurkan drama perselingkuhan dengan akurasi prosedur medis yang ketat. Kisah ibu rumah tangga yang kembali menjadi residen dokter ini terlalu teliti menggambarkan hierarki dan tekanan di rumah sakit. Istilah-istilah penyakit, prosedur transplantasi hati, hingga penanganan gawat darurat disajikan tanpa kesalahan fatal yang biasa kita tertawakan. Mengapa mereka tidak membiarkan dokter melakukan CPR dengan tangan bengkok seperti di sinetron pada umumnya? Realitas emosional dan teknis yang seimbang ini membuat kita tidak bisa mencemooh plotnya yang sebenarnya klise. Sungguh menyedihkan melihat tontonan yang digarap dengan hati dan otak sekaligus.

Terakhir, mari kita hujat beberapa episode dari Undercover Miss Hong (sebuah judul representatif untuk drama bergenre penyamaran perempuan yang sok rapi). Di episode-episode pertengahan, ketika karakter utamanya menyamar, ia benar-benar mengubah postur tubuh, logat bicara, dan detail kecil lainnya, bukan sekadar pakai kacamata hitam lalu semua orang pangling. Sangat menyebalkan melihat bagaimana naskah drama ini menutup celah logika penyamaran (seperti: kok suaranya mirip?, kok tingginya sama?), dengan memberikan alasan teknis yang masuk akal. Penyamaran yang dilakukan terlalu niat dan didukung backstory yang kuat membuat kita tidak bisa teriak Woi, itu jelas-jelas orang yang sama!. Penulis skenarionya pasti orang yang sangat kaku dan tidak bisa menikmati seni pembodohan publik yang biasanya menjadi ciri khas genre penyamaran.

Industri hiburan Korea ini benar-benar tidak ramah bagi penonton yang hobi mencari kesalahan teknis. Mereka menutup semua celah kritik dengan riset mendalam, akting totalitas, dan naskah yang solid. Kita dipaksa untuk menikmati karya mereka sebagai sebuah seni yang utuh, bukan sekadar produk massal asal jadi. Hal ini tentu sangat merugikan bagi ego kita yang ingin merasa lebih pintar dari pembuat film. Semoga suatu saat nanti mereka sadar bahwa ketidaksempurnaan itu indah, dan mulai membuat karya yang asal-asalan. Sampai saat itu tiba, kita terpaksa menderita menikmati kesempurnaan yang memuakkan ini.