Kitāb an-Nuqāyah As-Suyūṭī

Telaah Kitab An-Nuqāyah Karya Jalāluddīn as-Suyūṭī


Telaah Kitab An-Nuqāyah Karya Jalāluddīn as-Suyūṭī

Pendahuluan: Arsitektur Epistemologi dalam An-Nuqāyah

Dalam bentangan sejarah intelektual Islam pasca-klasik, khususnya pada era Mamluk Burji di Mesir, muncul sebuah fenomena ensiklopedisme yang didorong oleh hasrat untuk menginventarisasi dan melestarikan warisan keilmuan umat. Di tengah gelombang ini, figur Al-Imām Jalāluddīn ‘Abdurraḥmān bin Abī Bakr as-Suyūṭī (849–911 H) berdiri sebagai kolosus intelektual. Karya beliau, Kitāb an-Nuqāyah (النقاية), atau yang secara lengkap sering disebut Nuqāyah al-‘Ulūm, bukan sekadar ringkasan (mukhtaṣar), melainkan sebuah manifesto kurikulum yang mengintegrasikan empat belas disiplin ilmu dalam satu kesatuan organik.

Ditulis ketika As-Suyūṭī masih berusia sangat muda, sekitar 22 tahun , an-Nuqāyah mencerminkan kematangan dini dan visi pendidikan yang holistik. Kitab ini tidak memisahkan antara ilmu-ilmu naqlī (tekstual-religius) seperti Tafsir dan Hadis, ilmu-ilmu ālāt (instrumental-linguistik) seperti Nahwu dan Balaghah, dengan ilmu-ilmu ‘aqlī dan empiris seperti Anatomi (Tasyrīḥ) dan Kedokteran (Ṭibb). Integrasi ini menegaskan sebuah pandangan dunia bahwa keselamatan spiritual (salāmah al-adyān) dan kesehatan fisikal (ṣiḥḥah al-abdān) adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam membentuk cendekiawan Muslim yang paripurna.

Riset ini disusun untuk membedah secara anatomis keempat belas cabang keilmuan dalam an-Nuqāyah, dengan merujuk langsung pada teks matn (inti) dan syarah otentik penulisnya, Itmām al-Dirāyah li-Qurrā’ an-Nuqāyah. Melalui pendekatan filologis, komparatif, dan analisis wacana, laporan ini bertujuan merekonstruksi bangunan pemikiran As-Suyūṭī, membandingkannya dengan karya-karya otoritatif lainnya, dan menyintesis relevansinya.

I. Ilmu Uṣūluddīn (Teologi Dialektis)

1. Rangkuman

Sebagai fondasi dari hierarki ilmu, As-Suyūṭī menempatkan Uṣūluddīn (prinsip-prinsip agama) pada urutan pertama. Dalam an-Nuqāyah, teologi tidak disajikan sebagai polemik filosofis yang berlarut-larut, melainkan sebagai kodifikasi akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Asy'ariyah) yang padat. Pembahasan mencakup ontologi Tuhan (Ilāhiyyāt), yang meliputi eksistensi Dzat, sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz; epistemologi kenabian (Nubuwwāt); serta eskatologi (Sam‘iyyāt) seperti alam barzah, kiamat, dan pembalasan. Struktur ini dirancang untuk memberikan imunitas akidah bagi pelajar pemula sebelum menyelami ilmu-ilmu derivatif lainnya.

2. Teks Arab Berharakat

(Direkonstruksi berdasarkan struktur Itmām al-Dirāyah dan Matn Akidah As-Suyūṭī)

أُصُولُ الدِّينِ: عِلْمٌ يُبْحَثُ فِيهِ عَنْ ذَاتِ اللهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ، وَعَنْ أَحْوَالِ المُمْكِنَاتِ مِنْ حَيْثُ المَبْدَأُ وَالمَعَادُ، وَعَنْ قَانُونِ الإِسْلَامِ. يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ شَرْعًا مَعْرِفَةُ مَا يَجِبُ للهِ تَعَالَى مِنْ صِفَاتِ الكَمَالِ وَمَا يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ وَمَا يَجُوزُ، وَالتَّصْدِيقُ بِالرُّسُلِ وَمَا جَاءُوا بِهِ.

3. Terjemah Verbatim

Uṣūluddīn: Ilmu yang dibahas di dalamnya tentang Dzat Allah Ta'ala dan sifat-sifat-Nya, dan tentang keadaan hal-hal yang mungkin (makhluk) dari segi permulaan (penciptaan) dan tempat kembali (akhirat), dan tentang hukum Islam. Wajib atas setiap mukallaf (individu akil baligh) secara syara' mengetahui apa yang wajib bagi Allah Ta'ala berupa sifat-sifat kesempurnaan, apa yang mustahil atas-Nya, dan apa yang boleh (jaiz), serta membenarkan para Rasul dan apa yang mereka bawa.

4. Analisis Internal Matn

As-Suyūṭī menggunakan istilah Uṣūluddīn alih-alih Kalām atau Tauhīd, mengisyaratkan posisinya sebagai "akar" bagi cabang-cabang ilmu lainnya. Frasa min ḥaitsu al-mabda’ wa al-ma‘ād (dari segi permulaan dan akhir) menunjukkan pengaruh struktur filsafat Islam yang diadopsi oleh mutakallimin belakangan untuk menjelaskan siklus eksistensi. Penekanan pada kewajiban syar‘an (secara syariat) menegaskan posisi Asy'ariyah yang menolak kewajiban aqli murni (seperti pandangan Muktazilah) dalam mengetahui Tuhan sebelum datangnya wahyu.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

Dalam Itmām al-Dirāyah, As-Suyūṭī mengurai matn yang ringkas ini dengan memaparkan dalil-dalil aqli (rasional) dan naqli (teks). Beliau merinci sifat-sifat Allah menjadi Nafsiyyah (Wujud), Salbiyyah (Qidam, Baqa', Mukhalafatu lil hawadits, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyyah), Ma'ani, dan Ma'nawiyyah. Syarah ini juga berfungsi sebagai benteng apologetik terhadap paham Mujassimah (antropomorfisme) dan Mu'athilah (negasi sifat). Penjelasan tentang Sam‘iyyāt (hal-hal yang didengar/wahyu) seperti siksa kubur, shirāṭ (jembatan), dan mīzān (timbangan) disajikan dengan merujuk pada hadis-hadis mutawatir dan ahad yang shahih, menunjukkan integrasi antara akidah dan hadis.

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Umm al-Barāhīn (As-Sanūsī)

Al-‘Aqā’id al-Nasafiyyah (An-Nasafī)

Jauharah at-Tauhīd (Al-Laqqānī)

Gaya Penyajian

Prosa Ensiklopedis (Sangat Ringkas)

Prosa Logis-Filosofis (Burhani)

Prosa Skolastik (Maturidiyah)

Nazham (Puisi Didaktis)

Fokus Epistemologi

Definisi & Klasifikasi Sifat

Pembuktian Logis (Dalil Huduts)

Hakikat Ilmu & Realitas Alam

Rincian Sejarah & Sam'iyyat

Posisi Madzhab

Asy'ariyah Syafi'iyah

Asy'ariyah Maghribi

Maturidiyah Hanafiyah

Asy'ariyah Maliki

Tujuan Pedagogis

Hafalan Cepat & Pengenalan

Pemahaman Mendalam Logika Tauhid

Bantahan terhadap Sofisme

Kurikulum Menengah-Lanjut

Dalam tabel di atas, terlihat an-Nuqāyah unggul dalam aspek integrasi kurikuler, sementara Umm al-Barāhīn lebih kuat dalam dialektika logika.

7. Sintesis

Bab Uṣūluddīn dalam an-Nuqāyah bukanlah risalah teologis yang berdiri sendiri untuk perdebatan, melainkan sebuah "peta kognitif". As-Suyūṭī menyaring kompleksitas perdebatan kalam abad pertengahan menjadi proposisi-proposisi aksiomatis yang mudah diingat. Tujuannya adalah menanamkan keyakinan yang sahih sebelum pelajar berinteraksi dengan interpretasi teks (tafsir) atau hukum (fiqh).

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: العَقِيدَةُ هِيَ التَّصْدِيقُ الجَازِمُ بِوَحْدَانِيَّةِ اللهِ ذَاتًا وَصِفَاتٍ وَأَفْعَالًا، المُنَزَّهِ عَنِ الشَّبِيهِ وَالنَّقْصِ، وَالإِيمَانُ بِصِدْقِ الرُّسُلِ فِي كُلِّ مَا بَلَّغُوهُ عَنِ اللهِ مِنَ الشَّرَائِعِ وَالغَيْبِيَّاتِ، دُونَ شَكٍّ أَوْ رَيْبٍ. (Akidah adalah pembenaran yang pasti akan keesaan Allah baik dalam Dzat, sifat, maupun perbuatan, yang disucikan dari keserupaan dan kekurangan, serta beriman pada kebenaran para Rasul dalam segala yang mereka sampaikan dari Allah berupa syariat dan hal-hal gaib, tanpa keraguan atau kebimbangan.)

II. Ilmu Tafsīr (Hermeneutika Al-Qur'an)

1. Rangkuman

Berpindah dari Sang Pembicara (Allah) ke Ucapan-Nya (Al-Qur'an), As-Suyūṭī menempatkan Ilmu Tafsir di urutan kedua. Uniknya, pembahasan ini lebih condong pada Uṣūl al-Tafsīr atau ‘Ulūm al-Qur’ān daripada praktik penafsiran ayat per ayat. Matn ini mendefinisikan tafsir, syarat-syarat mufassir, dan klasifikasi keilmuan Al-Qur'an seperti asbāb an-nuzūl, nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih, serta ragam qira'at. Ini adalah ringkasan padat dari magnum opus beliau, Al-Itqān.

2. Teks Arab Berharakat

(Berdasarkan Muqaddimah Itmām al-Dirāyah dan Al-Itqān yang diringkas)

عِلْمُ التَّفْسِيرِ: عِلْمٌ يُبْحَثُ فِيهِ عَنْ أَحْوَالِ الكِتَابِ العَزِيزِ مِنْ حَيْثُ دَلَالَتُهُ عَلَى مُرَادِ اللهِ تَعَالَى بِقَدْرِ الطَّاقَةِ البَشَرِيَّةِ. وَمَدَارُهُ عَلَى النَّقْلِ الصَّحِيحِ، وَاللُّغَةِ، وَالاسْتِنْبَاطِ.

3. Terjemah Verbatim

Ilmu Tafsir: Ilmu yang dibahas di dalamnya tentang keadaan-keadaan Kitab yang Mulia (Al-Qur'an) dari segi penunjukannya atas kehendak Allah Ta'ala sesuai kadar kemampuan manusia. Dan porosnya (sandarannya) adalah pada riwayat yang shahih, bahasa, dan istinbath (penggalian makna).

4. Analisis Internal Matn

Definisi ini mengandung kerendahhatian epistemologis yang mendalam melalui frasa bi qadri al-thāqah al-basyariyyah (sesuai kemampuan manusia). As-Suyūṭī menegaskan bahwa tafsir hanyalah upaya manusiawi mendekati Murādullāh (maksud Tuhan), bukan klaim kebenaran absolut yang setara dengan Tuhan. Tiga pilar yang disebutkan—riwayat (naql), bahasa (lughah), dan nalar (istinbāṭ)—menunjukkan keseimbangan metodologis antara tafsir bil-ma'tsur dan bil-ra'yi yang terpuji.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

Dalam syarahnya, As-Suyūṭī memperluas definisi ini dengan membedakan antara Tafsir (penjelasan makna lahir) dan Takwil (pengalihan makna ke arah yang mungkin). Beliau juga menguraikan prasyarat ketat bagi seorang mufassir, yang harus menguasai 15 disiplin ilmu bantu (termasuk Nahwu, Sharaf, Balaghah, Ushul Fiqh) sebelum diperbolehkan menafsirkan Al-Qur'an. Penjelasan ini berfungsi sebagai filter akademis untuk mencegah anarki interpretasi oleh kalangan awam atau ahli bid'ah.

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān (Az-Zarkasyī)

Muqaddimah fī Uṣūl al-Tafsīr (Ibnu Taimiyah)

Manāhil al-‘Irfān (Az-Zarqānī)

Struktur

Poin per poin (Checklist)

Ensiklopedis Tematik

Metodologis & Kritis

Edukatif Modern

Isu Utama

Alat Bantu Penafsiran

Ragam Keilmuan & Sejarah

Kritik Israiliyat & Takwil

Sejarah Teks & Qiraat

Sumber

Tradisi Syafi'i/Asy'ari

Lintas Madzhab

Tradisi Salaf/Atsar

Sintesis Al-Azhar Modern

Fungsi

Pengantar Kurikulum

Referensi Peneliti Lanjut

Perbaikan Metode Tafsir

Buku Teks Akademik

7. Sintesis

Bab Tafsir dalam an-Nuqāyah berfungsi sebagai "gerbang otorisasi". As-Suyūṭī tidak sedang menafsirkan Al-Qur'an di sini, melainkan memberikan lisensi metodologis. Ia menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah teks yang memiliki struktur lapis makna yang hanya bisa dibuka dengan kunci-kunci ilmu alat yang spesifik, mencegah reduksi makna yang dangkal.

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: التَّفْسِيرُ مَنْهَجٌ عِلْمِيٌّ لِكَشْفِ مَعَانِي القُرْآنِ وَبَيَانِ مَقَاصِدِهِ التَّشْرِيعِيَّةِ وَالعَقَدِيَّةِ، مُسْتَنِدًا إِلَى صَحِيحِ المَنْقُولِ وَقَوَاعِدِ اللُّغَةِ وَمُقْتَضَيَاتِ العَقْلِ السَّلِيمِ. (Tafsir adalah metodologi ilmiah untuk menyingkap makna-makna Al-Qur'an dan menjelaskan tujuan-tujuan hukum dan akidahnya, dengan bersandar pada riwayat yang shahih, kaidah bahasa, dan tuntutan akal yang sehat.)

III. Ilmu Ḥadīts (Kritik Narasi Profetik)

1. Rangkuman

Setelah Al-Qur'an, sumber kedua adalah Sunnah. Bab ini membahas terminologi hadis (Muṣṭalaḥ al-Ḥadīts), klasifikasi validitas hadis (Sahih, Hasan, Dha'if), serta kriteria kritik perawi (al-jarḥ wa al-ta‘dīl). As-Suyūṭī, yang digelari Amīr al-Mu’minīn fī al-Ḥadīts pada zamannya, meringkas kriteria kesahihan hadis yang menjadi standar baku mayoritas muhadditsin pasca-Ibnu Shalah.

2. Teks Arab Berharakat

(Berdasarkan Matn Tadrīb al-Rāwī dan An-Nuqāyah)

عِلْمُ الحَدِيثِ: عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ حَالُ الرَّاوِي وَالمَرْوِيِّ مِنْ حَيْثُ القَبُولُ وَالرَّدُّ. وَالحَدِيثُ الصَّحِيحُ: مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقْلِ العَدْلِ الضَّابِطِ عَنْ مِثْلِهِ إِلَى مُنْتَهَاهُ مِنْ غَيْرِ شُذُوذٍ وَلَا عِلَّةٍ.

3. Terjemah Verbatim

Ilmu Hadis: Ilmu yang dengannya diketahui keadaan perawi (penyampai) dan marwi (materi yang diriwayatkan) dari segi penerimaan dan penolakan. Hadis Shahih: Apa yang bersambung sanadnya dengan penukilan orang yang adil lagi dhabit (kuat hafalan/tulisan) dari yang semisalnya sampai ke akhirnya (sumber) tanpa ada kejanggalan (syadz) dan tanpa cacat tersembunyi (‘illat).

4. Analisis Internal Matn

Definisi ini mengadopsi formulasi klasik Ibnu al-Salah yang terdiri dari lima syarat mutlak kesahihan: (1) Ittiṣāl al-sanad (kontinuitas transmisi), (2) ‘Adālah (integritas moral), (3) Ḍabṭ (akurasi intelektual), (4) ‘Adam al-syudzūdz (tidak kontradiksi dengan riwayat lebih kuat), dan (5) ‘Adam al-‘illah (bebas cacat mikroskopis). Kepadatan definisi ini dalam an-Nuqāyah menunjukkan tujuannya sebagai aksioma yang harus dihafal di luar kepala.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

As-Suyūṭī dalam syarahnya membedah istilah teknis tersebut. "Adil" dijelaskan sebagai muslim, baligh, berakal, selamat dari kefasikan dan hal yang merusak wibawa (khawārim al-murū’ah). "Dhabit" dibagi menjadi hafalan dada (ṣadr) dan tulisan (kitāb). Beliau juga menguraikan taksonomi hadis dha'if seperti Mursal, Munqaṭi‘, Mu‘ḍal, dan Mudallas. Syarah ini sangat teknis, bertujuan membedakan riwayat yang layak menjadi landasan hukum (ḥujjah) dan yang tidak.

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Nukhbah al-Fikar (Ibnu Hajar)

Al-Bā‘its al-Ḥatsīts (Ibnu Katsīr)

Al-Muqizzah (Adz-Dzahabi)

Metodologi

Definisi Ringkas (Ta'rifat)

Klasifikasi Pohon Logis (Sistematis)

Uraian Naratif

Poin Kritis Singkat

Terminologi

Mengikuti Ibnu Shalah

Inovatif (Istilah baru)

Mengikuti Ibnu Shalah

Selektif & Kritis

Kedalaman

Pemula/Menengah

Sangat Dalam (jika disyarah)

Menengah

Menengah

Fokus

Validasi Hukum

Struktur Sanad & Matan

Pengantar Studi

Kritik Perawi

7. Sintesis

An-Nuqāyah menyajikan "kerangka tulang" (skeleton) dari ilmu hadis. Tidak ada polemik spesifik tentang status perawi tertentu, melainkan kaidah umum. Ini menegaskan fungsi kitab ini sebagai dirāyah (teori kritik) bukan riwāyah (korpus hadis), membekali siswa dengan alat filtrasi informasi sebelum mereka berhadapan dengan ribuan teks hadis.

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: مُصْطَلَحُ الحَدِيثِ هُوَ مِيزَانُ نَقْدِ الأَخْبَارِ النَّبَوِيَّةِ، يُمَيِّزُ الصَّحِيحَ مِنَ السَّقِيمِ عَبْرَ تَمْحِيصِ السَّنَدِ وَالمَتْنِ، لِضَمَانِ حِفْظِ الدِّينِ مِنَ الدَّخِيلِ وَالوَضْعِ. (Mustalah Hadis adalah neraca kritik berita-berita kenabian, yang membedakan yang shahih dari yang sakit (palsu/lemah) melalui pengujian sanad dan matan, untuk menjamin terjaganya agama dari unsur asing dan pemalsuan.)

IV. Ilmu Uṣūl Fiqh (Metodologi Hukum)

1. Rangkuman

Berada di persimpangan antara teologi dan hukum, Uṣūl Fiqh membahas dalil-dalil hukum (Al-Qur'an, Sunnah, Ijma', Qiyas) dan metode operasional penggalian hukum (istinbāṭ). Topik utama mencakup perintah (Amr), larangan (Nahy), umum (‘Ām), khusus (Khāṣ), mutlak, dan muqayyad. Ini adalah "logika hukum" dalam Islam.

2. Teks Arab Berharakat

(Berdasarkan struktur Jam'ul Jawami' yang menjadi acuan Suyuti)

أُصُولُ الفِقْهِ: عِلْمٌ يُبْحَثُ فِيهِ عَنْ أَدِلَّةِ الفِقْهِ الإِجْمَالِيَّةِ، وَكَيْفِيَّةِ الاسْتِفَادَةِ مِنْهَا، وَحَالِ المُسْتَفِيدِ. وَالأَدِلَّةُ: الكِتَابُ، وَالسُّنَّةُ، وَالإِجْمَاعُ، وَالقِيَاسُ.

3. Terjemah Verbatim

Uṣūl Fiqh: Ilmu yang dibahas di dalamnya tentang dalil-dalil fiqh secara global, dan tata cara mengambil faedah (hukum) darinya, dan keadaan orang yang mengambil faedah (mujtahid). Dan dalil-dalil itu adalah: Al-Kitab, As-Sunnah, Konsensus (Ijma'), dan Analogi (Qiyas).

4. Analisis Internal Matn

Definisi ini mencakup trikotomi klasik ushul fiqh: (1) Materi Hukum (Dalil), (2) Metode (Istinbath), dan (3) Subjek Hukum (Mujtahid). As-Suyūṭī dalam an-Nuqāyah sangat menekankan aspek linguistik (dilālah al-alfāzh) seperti Ḥaqīqah dan Majāz, karena bagi Syafi'iyah, ushul fiqh pada dasarnya adalah hermeneutika teks.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

As-Suyūṭī menjelaskan hierarki dan interaksi antar dalil. Ia memberikan contoh bagaimana dalil Khāṣ (khusus) membatasi (men-takhṣīṣ) dalil ‘Ām (umum). Syarah ini juga menyentuh isu krusial Ta‘āruḍ (pertentangan dalil) dan Tarjīḥ (metode mengunggulkan satu dalil), yang merupakan jantung proses fatwa. Penjelasan tentang syarat ijtihad dan taklid juga disertakan, relevan dengan konteks zamannya di mana pintu ijtihad sering diperdebatkan.

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Al-Waraqāt (Al-Juwainī)

Al-Mustaṣfā (Al-Ghazālī)

Jam‘ul Jawāmi‘ (Tajuddin Subki)

Cakupan

Esensial & Definisi

Dasar Pemula Mutlak

Filosofis & Logis Mantiqi

Sangat Komprehensif/Rumit

Gaya

Ringkas Padat

Definisi Simpel

Analisis Mendalam

Kompilasi (Jam') Lintas Madzhab

Madzhab

Syafi'i (Mutakallimin)

Syafi'i

Syafi'i

Syafi'i

Fungsi

Hafalan Cepat

Pengantar Dasar

Studi Lanjut

Referensi Puncak (Umda)

7. Sintesis

Ushul Fiqh dalam an-Nuqāyah adalah jembatan intelektual yang menghubungkan teks suci yang terbatas dengan kasus-kasus kehidupan yang tak terbatas. As-Suyūṭī menonjolkan aspek metodologis, mengajarkan siswa bagaimana berpikir yuridis, bukan sekadar menghafal produk hukum, mempersiapkan mereka menjadi faqīh al-nafs.

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: أُصُولُ الفِقْهِ مَنْهَجِيَّةُ اسْتِنْبَاطِ الأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ العَمَلِيَّةِ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيلِيَّةِ، بِوَاسِطَةِ قَوَاعِدَ لُغَوِيَّةٍ وَمَقَاصِدِيَّةٍ مُنْضَبِطَةٍ. (Ushul Fiqh adalah metodologi penggalian hukum-hukum syara' yang bersifat praktis dari dalil-dalilnya yang terperinci, melalui perantara kaidah-kaidah kebahasaan dan tujuan hukum (maqashid) yang terukur.)

V. Ilmu Farā'iḍ (Hukum Waris Islam)

1. Rangkuman

Ilmu tentang perhitungan dan pembagian harta warisan (tirkah). As-Suyūṭī merinci Furūḍ al-Muqaddarah (bagian pasti yang disebut dalam Qur'an), ahli waris ‘Aṣabah (sisa), dan Ḥajb (penghalang waris). Ini adalah representasi ilmu matematika dalam syariat.

2. Teks Arab Berharakat

(Rekonstruksi standar matn Fara'id Syafi'iyyah)

عِلْمُ الفَرَائِضِ: عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ مَنْ يَرِثُ وَمَنْ لَا يَرِثُ وَمِقْدَارُ مَا لِكُلِّ وَارِثٍ. وَالفُرُوضُ المُقَدَّرَةُ فِي كِتَابِ اللهِ سِتَّةٌ: النِّصْفُ، وَالرُّبُعُ، وَالثُّمْنُ، وَالثُّلُثَانِ، وَالثُّلُثُ، وَالسُّدُسُ.

3. Terjemah Verbatim

Ilmu Fara'id: Ilmu yang dengannya diketahui siapa yang mewarisi dan siapa yang tidak mewarisi serta kadar bagian bagi setiap ahli waris. Dan bagian-bagian yang ditentukan dalam Kitab Allah ada enam: Setengah (1/2), Seperempat (1/4), Seperdelapan (1/8), Dua pertiga (2/3), Sepertiga (1/3), dan Seperenam (1/6).

4. Analisis Internal Matn

Bab ini sangat matematis dan kaku (rigid). Fokusnya adalah enumerasi (penyebutan angka dan golongan). Tidak ada ruang untuk ijtihad bebas; ini adalah ilmu hukum positif yang qaṭ‘ī (pasti). As-Suyūṭī menyajikannya dengan urutan logis: dari pecahan terbesar ke terkecil.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

As-Suyūṭī menjelaskan kasus-kasus spesifik yang rumit seperti Al-Gharrawiytain (kasus Umar bin Khattab), ‘Aul (pembengkakan angka pembagi saat jatah melebihi harta), dan Radd (kebalikan Aul). Ia juga mengidentifikasi ahli waris dari pihak laki-laki (15 golongan) dan perempuan (10 golongan) secara rinci, memberikan peta genealogis yang jelas bagi pembagian harta.

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Ar-Raḥbiyyah (Ibnu al-Mutqinah)

As-Sirājiyyah (Al-Sajawandi)

At-Tahqiqat (Kontemporer)

Format

Prosa Ringkas

Nazham (Puisi Rajaz)

Prosa (Hanafi)

Tabel/Diagram/Flowchart

Kalkulasi

Aritmatika Dasar

Menengah

Rumit (Matematika Lanjut)

Praktis & Aplikatif

Popularitas

Kurikulum Integratif

Kurikulum Khusus Faraid

Kurikulum India/Pakistan

Referensi Modern

Fokus

Identifikasi Ahli Waris

Hafalan Rumus

Kasus-Kasus Hipotetis

Solusi Praktis

7. Sintesis

Kehadiran Fara'id menunjukkan aspek pragmatis an-Nuqāyah. Ulama tidak hanya dididik untuk memikirkan Tuhan (Ushuluddin), tetapi juga penyelesaian konflik harta di masyarakat. Ini adalah penerapan keadilan distributif Islam yang paling konkret.

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: الفَرَائِضُ نِظَامٌ حِسَابِيٌّ شَرْعِيٌّ لِتَوْزِيعِ تَرِكَةِ المَيِّتِ عَلَى مُسْتَحِقِّيهَا، ضَمَانًا لِلْعَدَالَةِ الاجْتِمَاعِيَّةِ وَمَنْعًا لِلنِّزَاعِ المَالِيِّ بَيْنَ الأَقَارِبِ. (Fara'id adalah sistem perhitungan syar'i untuk mendistribusikan peninggalan mayit kepada yang berhak, sebagai jaminan keadilan sosial dan pencegah sengketa harta antar kerabat.)

VI. Ilmu Naḥwu (Sintaksis Arab)

1. Rangkuman

Ilmu tentang struktur kalimat dan perubahan akhir kata (I‘rāb). As-Suyūṭī membahas Marfū‘āt (Subjek/Predikat), Manṣūbāt (Objek/Keterangan), Majrūrāt (Genitif), dan ‘Awāmil (faktor penyebab perubahan). Ini adalah kunci utama untuk membuka teks Arab.

2. Teks Arab Berharakat

عِلْمُ النَّحْوِ: عِلْمٌ بِأُصُولٍ يُعْرَفُ بِهَا أَحْوَالُ أَوَاخِرِ الكَلِمِ إِعْرَابًا وَبِنَاءً. الكَلَامُ: هُوَ اللَّفْظُ المُرَكَّبُ المُفِيدُ بِالوَضْعِ. وَأَقْسَامُهُ ثَلَاثَةٌ: اسْمٌ، وَفِعْلٌ، وَحَرْفٌ جَاءَ لِمَعْنًى.

3. Terjemah Verbatim

Ilmu Nahwu: Ilmu tentang dasar-dasar yang dengannya diketahui keadaan akhir kata, baik secara i'rab (berubah) maupun bina' (tetap). Kalam: Adalah lafadz yang tersusun yang memberi faedah sempurna dengan kesengajaan (peletakan bahasa). Pembagiannya ada tiga: Isim (kata benda), Fi'il (kata kerja), dan Huruf yang datang memiliki makna.

4. Analisis Internal Matn

Definisi Kalam ini sangat klasik, mirip dengan Al-Jurūmiyyah, menunjukkan preferensi As-Suyūṭī pada definisi yang stabil dan mapan. Namun, As-Suyūṭī, yang juga penulis Al-Asybāh wa al-Naẓā’ir fī al-Naḥw, menyajikan materi ini secara fungsional, langsung membagi fungsi sintaksis ke dalam empat kategori I'rab: Rafa', Nashab, Jar, dan Jazm.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

Dalam syarah, As-Suyūṭī mengurai tanda-tanda I'rab (asli dan pengganti). menunjukkan pembahasan mendalam tentang Badal (apposisi) dan perbedaannya dengan ‘Aṭf Bayān, sebuah nuansa gramatikal yang sering membingungkan. Ia menganalisis struktur kalimat untuk memastikan pemahaman makna yang tepat, karena kesalahan i'rab dapat memicu kesalahan teologis (misal: membedakan fā‘il dan maf‘ūl dalam ayat Qur'an).

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Al-Ajurrūmiyyah (Ibnu Ajurrum)

Alfiyyah (Ibnu Malik)

Qaṭr an-Nadā (Ibnu Hisham)

Target Audien

Pemula Cerdas (Integratif)

Pemula Mutlak

Lanjutan (Hafalan Spesialis)

Menengah Analitis

Konten

Poin Kunci & Definisi

Struktur Dasar Minimalis

Semua Kaidah & Pengecualian

Analisis & Syawahid (Bukti)

Gaya

Ringkas Padat

Prosa Sangat Sederhana

Nazham (1000 Bait)

Prosa dengan Diskusi

7. Sintesis

Nahwu dalam an-Nuqāyah bukanlah tujuan akhir (ghāyah), melainkan alat (wasīlah). Posisinya di tengah kitab menegaskan fungsinya sebagai pelayan bagi ilmu-ilmu sebelumnya (Tafsir/Hadis) dan prasyarat bagi ilmu setelahnya (Balaghah).

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: النَّحْوُ دُسْتُورُ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ، يَضْبِطُ أَوَاخِرَ الكَلِمَاتِ وَيُحَدِّدُ وَظَائِفَهَا التَّرْكِيبِيَّةَ، لِصِيَانَةِ اللِّسَانِ عَنِ اللَّحْنِ وَفَهْمِ النُّصُوصِ فَهْمًا سَلِيمًا. (Nahwu adalah konstitusi bahasa Arab, yang mengatur akhir kata dan menentukan fungsi sintaksisnya, untuk menjaga lisan dari kesalahan (lahn) dan memahami teks secara lurus.)

VII. Ilmu Taṣrīf (Morfologi Arab)

1. Rangkuman

Ilmu tentang pembentukan kata dan perubahan bentuk internalnya. Berbeda dengan Nahwu yang fokus pada akhir kata, Tasrif fokus pada "tubuh" kata. Topik mencakup Wazan (pola), Fi‘il Mujarrad & Mazīd, I‘lāl (perubahan huruf penyakit), dan Idghām.

2. Teks Arab Berharakat

(Rekonstruksi standar morfologi Syafi'i)

عِلْمُ التَّصْرِيفِ: عِلْمٌ بِأَبْنِيَةِ الكَلِمَةِ وَمَا لِحُرُوفِهَا مِنْ أَصَالَةٍ وَزِيَادَةٍ وَصِحَّةٍ وَإِعْلَالٍ. وَأَبْنِيَةُ الفِعْلِ المُجَرَّدِ الثُّلَاثِيِّ ثَلَاثَةٌ: فَعَلَ، فَعِلَ، فَعُلَ.

3. Terjemah Verbatim

Ilmu Tasrif: Ilmu tentang bangunan-bangunan (struktur/pola) kata dan apa yang terjadi pada huruf-hurufnya berupa keaslian, penambahan, kesehatan (shahih), dan penyakit (i'lal/perubahan vokal). Dan bangunan fi'il mujarrad (kata kerja dasar) tiga huruf ada tiga: Fa‘ala, Fa‘ila, Fa‘ula.

4. Analisis Internal Matn

As-Suyūṭī memisahkan Tasrif dari Nahwu, mengikuti tradisi ulama mutakhirin. Matn ini sangat teknis, memadatkan ribuan variasi kata menjadi kaidah qiyās (analogi pola). Fokusnya adalah pada wazan sebagai cetakan makna.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

Syarah menjelaskan proses Isytiqāq (derivasi): bagaimana mencetak Isim Fā‘il, Isim Maf‘ūl, dan Maṣdar dari satu akar kata. Penjelasan tentang I‘lāl (seperti perubahan Qawala menjadi Qāla) sangat vital untuk menghindari kebingungan saat mencari kata di kamus. menyoroti pentingnya Tasrif dalam memahami nuansa leksikal yang halus (misal: beda Rahman dan Rahim berdasarkan pola).

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Al-Amtsilah at-Taṣrīfiyyah

Al-Maqṣūd

Syarḥ al-Shāfiyah (Radhi)

Metode

Teoritis (Kaidah)

Praktis (Tabel Latihan)

Teoritis Puitis

Analitis Mendalam

Fokus

I'lal & Ibdal

Pola Konjugasi (Tashrif)

Filosofi Bentuk

Argumentasi Linguistik

Kedalaman

Ringkas

Latihan Hafalan

Menengah

Sangat Lanjut

7. Sintesis

Tasrif adalah "pabrik kata" dalam bahasa Arab. Tanpa ilmu ini, seorang pelajar tidak akan mampu memproduksi kata atau memahami derivasi makna. As-Suyūṭī meletakkannya berdampingan dengan Nahwu sebagai fondasi linguistik.

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: التَّصْرِيفُ فَنُّ تَحْوِيلِ الأَصْلِ الوَاحِدِ إِلَى أَبْنِيَةٍ مُخْتَلِفَةٍ لِتَوْلِيدِ مَعَانٍ جَدِيدَةٍ، كَالتَّصْغِيرِ وَالنَّسَبِ وَالتَّعَدِّيَةِ، لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِهَذَا التَّحْوِيلِ. (Tasrif adalah seni mengubah satu asal kata menjadi bangunan-bangunan yang berbeda untuk melahirkan makna-makna baru, seperti pengecilan, penisbatan, dan transitivitas, yang tidak akan tercapai kecuali dengan pengubahan ini.)

VIII. Ilmu Khaṭ (Ortografi & Standarisasi Tulisan)

1. Rangkuman

Unik dan jarang ditemukan dalam mutūn dasar lainnya, bab ini membahas tata cara penulisan huruf Arab yang benar (Rasm). Fokusnya pada penulisan Hamzah, Alif Layyinah, Ta' Marbutah/Mabsutah, serta etika penulisan (Adab al-Kātib) untuk menjamin akurasi transmisi teks.

2. Teks Arab Berharakat

عِلْمُ الخَطِّ: عِلْمٌ يُبْحَثُ فِيهِ عَنْ كَيْفِيَّةِ كِتَابَةِ الأَلْفَاظِ مِنْ مُرَاعَاةِ حُرُوفِهَا لَفْظًا أَوْ أَصْلًا، وَالزِّيَادَةِ وَالنَّقْصِ، وَالوَصْلِ وَالفَصْلِ.

3. Terjemah Verbatim

Ilmu Khat: Ilmu yang dibahas di dalamnya tentang tata cara penulisan lafadz-lafadz dengan memperhatikan huruf-hurufnya secara pelafalan atau secara asal, serta penambahan, pengurangan, penyambungan, dan pemisahan huruf.

4. Analisis Internal Matn

Ini bukan tentang seni kaligrafi estetik (aesthetic calligraphy), melainkan ortografi (ejaan baku/imla'). As-Suyūṭī menyadari bahwa lisan dan tulisan sering berbeda dalam bahasa Arab (misal: Amr ditulis dengan wawu tapi tidak dibaca).

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

As-Suyūṭī membedakan Rasm ‘Utsmānī (khusus Qur'an yang bersifat tauqīfī) dan Rasm Imlā’ī (standar umum penulis). Ia menjelaskan aturan rumit penulisan Hamzah (di awal, tengah, akhir) yang sering menjadi sumber kesalahan penyalinan naskah. mencatat alasan As-Suyūṭī: "Saya mendahulukan Khat sebelum Ma'ani karena ini merekam lafadz."

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Adab al-Kuttāb (As-Suli)

Subḥ al-A‘syā (Al-Qalqasyandi)

Qawā‘id al-Imlā’ (Modern)

Fokus Utama

Aturan Ejaan (Imla')

Etika Birokrat

Ensiklopedia Administrasi

Standarisasi Baku

Konteks

Ulama/Santri

Sekretaris Istana

Sekretaris Negara

Pendidikan Umum

Detail

Prinsip Dasar

Seni Surat-Menyurat

Sangat Detail & Historis

Pedagogis

7. Sintesis

Masuknya Ilmu Khat menunjukkan visi literasi As-Suyūṭī. Ilmu tidak bisa ditransmisikan secara akurat antargenerasi jika alat rekamnya (tulisan) cacat atau ambigu.

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: قَوَاعِدُ الإِمْلَاءِ نِظَامٌ لِتَصْوِيرِ اللَّفْظِ المَنْطُوقِ بِحُرُوفٍ مَكْتُوبَةٍ بِشَكْلٍ صَحِيحٍ، يُمَيِّزُ بَيْنَ المُتَشَابِهَاتِ وَيَحْفَظُ المَعْنَى مِنَ التَّحْرِيفِ الكِتَابِيِّ. (Kaidah Imla' adalah sistem untuk menggambarkan lafadz yang diucapkan dengan huruf-huruf tertulis secara benar, membedakan hal-hal yang serupa dan menjaga makna dari penyimpangan penulisan.)

IX. Ilmu Ma‘ānī (Semantik Retoris)

1. Rangkuman

Bagian pertama dari trilogi Balaghah. Ilmu ini membahas kesesuaian ucapan dengan situasi dan kondisi (muqtaḍā al-ḥāl). Topik utamanya adalah struktur kalimat: Musnad, Musnad Ilaih, Qashr (pembatasan), Inshā’ (kalimat performatif), dan Khabar (informatif).

2. Teks Arab Berharakat

عِلْمُ المَعَانِي: عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ أَحْوَالُ اللَّفْظِ العَرَبِيِّ الَّتِي بِهَا يُطَابِقُ اللَّفْظُ مُقْتَضَى الحَالِ. وَهُوَ الاعْتِبَارُ المُنَاسِبُ لِلْمَقَامِ.

3. Terjemah Verbatim

Ilmu Ma'ani: Ilmu yang dengannya diketahui keadaan-keadaan lafadz Arab yang dengannya lafadz tersebut sesuai dengan tuntutan keadaan (situasi). Dan itu (muqtadha al-hal) adalah pertimbangan yang sesuai bagi maqam (konteks pembicaraan).

4. Analisis Internal Matn

Fokus Ma'ani adalah konteks sosial. Mengapa kita mengatakan "Zaid berdiri" (kepada orang netral) vs "Sesungguhnya Zaid berdiri" (kepada yang ragu) vs "Demi Allah, sungguh Zaid berdiri" (kepada pengingkar)? As-Suyūṭī menekankan aspek sosiolinguistik ini sebagai inti kefasihan.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

As-Suyūṭī merinci Aḥwāl al-Isnād (penguatan kalimat). Ia juga membahas Ījāz (ringkas padat), Iṭnāb (panjang lebar berfaedah), dan Musāwah (seimbang). mengaitkan definisi ini dengan warisan Abdul Qahir al-Jurjani yang melihat "susunan" (nazhm) sebagai letak keajaiban bahasa.

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Talkhīṣ al-Miftāḥ (Al-Qazwini)

Dalā’il al-I‘jāz (Al-Jurjani)

Al-Balāghah al-Wāḍiḥah (Jarim)

Sumber

Turunan Qazwini

Standar Emas Matn

Filosofis & Argumentatif

Didaktis Modern

Gaya

Ringkasan Ekstrem

Sistematis Kering

Diskursif Mengalir

Banyak Contoh Sastra

Fokus

Definisi Teknis

Taksonomi

Teori Nazhm

Apresiasi Sastra

7. Sintesis

Ilmu Ma'ani dalam an-Nuqāyah mengajarkan kecerdasan emosional dan sosial dalam berbahasa: berbicara sesuai kadar akal dan kondisi psikologis pendengar (li kulli maqām maqāl).

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: عِلْمُ المَعَانِي هُوَ هَنْدَسَةُ الجُمْلَةِ لِتُلَائِمَ سِيَاقَ المُخَاطَبِ وَحَالَتَهُ النَّفْسِيَّةَ، سَوَاءً بِالذِّكْرِ أَوِ الحَذْفِ، التَّقْدِيمِ أَوِ التَّأْخِيرِ، لِإِيصَالِ المَعْنَى بِأَدَقِّ صُورَةٍ. (Ilmu Ma'ani adalah rekayasa kalimat agar sesuai dengan konteks lawan bicara dan kondisi psikologisnya, baik dengan penyebutan atau pembuangan, pendahuluan atau pengakhiran, untuk menyampaikan makna dengan gambaran paling akurat.)

X. Ilmu Bayān (Imagery & Visualisasi Bahasa)

1. Rangkuman

Bagian kedua Balaghah. Membahas cara menyampaikan satu makna dengan berbagai gaya visualisasi atau citraan. Topik utamanya adalah Tasybīh (Simile), Majāz (Metafora/Istiarah), dan Kināyah (Metonimia).

2. Teks Arab Berharakat

عِلْمُ البَيَانِ: عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ إِيرَادُ المَعْنَى الوَاحِدِ المَدْلُولِ عَلَيْهِ بِكَلَامٍ مُطَابِقٍ لِمُقْتَضَى الحَالِ بِطُرُقٍ مِنَ التَّرَاكِيبِ مُخْتَلِفَةٍ فِي وُضُوحِ الدَّلَالَةِ عَلَيْهِ.

3. Terjemah Verbatim

Ilmu Bayan: Ilmu yang dengannya diketahui (cara) mendatangkan makna yang satu, yang ditunjuk oleh kalam yang sesuai dengan tuntutan keadaan, dengan jalan-jalan susunan yang berbeda-beda dalam hal kejelasan penunjukannya atas makna tersebut.

4. Analisis Internal Matn

Kuncinya adalah Wuḍūḥ al-Dalālah (Kejelasan penunjukan). Bayan bermain di ranah imajinasi: bagaimana membandingkan sifat abstrak (keberanian) dengan objek konkret (singa) melalui Tasybīh atau Isti‘ārah.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

As-Suyūṭī menjelaskan rukun Tasybih (Musyabbah, Musyabbah bih, Adat, Wajah Syabah). Ia juga membedakan Majāz Lughawī (penggunaan kata bukan pada makna asli karena hubungan keserupaan/lainnya) dan Majāz ‘Aqlī (penisbatan tindakan bukan kepada pelaku asli). menegaskan bahwa inti Bayan terbatas pada tiga: Tasybih, Majaz, Kinayah.

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

(Sama dengan Ma'ani, karena biasanya satu paket). An-Nuqāyah di sini sangat bergantung pada Talkhīṣ al-Miftāḥ, namun As-Suyūṭī juga menulis ‘Uqūd al-Jumān (Alfiyyah Balaghah) yang menunjukkan kepakarannya dalam memadatkan aturan retorika.

7. Sintesis

Ilmu Bayan mengasah estetika visual dalam bahasa. Ini adalah alat utama untuk mengapresiasi keindahan sastra (literary appreciation) dan memahami aspek I‘jāz (kemukjizatan) Al-Qur'an yang kaya metafora.

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: البَيَانُ فَنُّ التَّصْوِيرِ اللُّغَوِيِّ، يَنْقُلُ المَعَانِيَ العَقْلِيَّةَ المُجَرَّدَةَ إِلَى صُوَرٍ حِسِيَّةٍ بَدِيعَةٍ عَبْرَ التَّشْبِيهِ وَالاسْتِعَارَةِ، لِتَقْرِيبِ الفَهْمِ وَإِثَارَةِ الخَيَالِ. (Bayan adalah seni lukis bahasa, yang memindahkan makna-makna rasional abstrak menjadi citraan-citraan indrawi yang indah melalui penyerupaan dan metafora, untuk mendekatkan pemahaman dan menggugah imajinasi.)

XI. Ilmu Badī‘ (Estetika & Embellishment)

1. Rangkuman

Bagian ketiga Balaghah, fokus pada memperindah kata dan makna setelah kalimat itu benar (Ma'ani) dan jelas (Bayan). Topik mencakup keindahan verbal (Saja', Jinas) dan maknawi (Tauriyah, Thibaq).

2. Teks Arab Berharakat

عِلْمُ البَدِيعِ: عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ وُجُوهُ تَحْسِينِ الكَلَامِ بَعْدَ رِعَايَةِ المُطَابَقَةِ لِمُقْتَضَى الحَالِ وَوُضُوحِ الدَّلَالَةِ، أَيِ الخُلُوِّ عَنِ التَّعْقِيدِ.

3. Terjemah Verbatim

Ilmu Badi': Ilmu yang dengannya diketahui sisi-sisi memperindah kalam setelah menjaga kesesuaian dengan tuntutan keadaan dan kejelasan penunjukan, yakni sepi dari kerumitan.

4. Analisis Internal Matn

Definisi ini menempatkan Badi' sebagai "kosmetik" (taḥsīn), bukan fondasi. Syaratnya mutlak: kalimat harus sudah benar dan jelas terlebih dahulu. Tanpa dua pilar sebelumnya, Badi' hanya akan menjadi hiasan palsu yang membingungkan.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

As-Suyūṭī adalah master dalam seni ini (terlihat dari judul-judul bukunya yang bersajak). Dalam syarah, ia membagi Badi' menjadi Muḥassināt Lafẓiyyah (keindahan bunyi seperti Sajak dan Jinas) dan Ma‘nawiyyah (keindahan makna seperti Kontras/Thibaq dan Tauriyah). menyebutkan jenis Badi' sangat banyak, mencapai ratusan dalam karya khususnya.

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Badī‘iyyah (Safi al-Din al-Hilli)

Al-Īḍāḥ (Al-Qazwini)

Kitāb al-Badī‘ (Ibnu al-Mu'tazz)

Pendekatan

Selektif (yang populer)

Puitis (Contoh dalam Syair)

Analitis Kategoris

Historis Awal

Jumlah Jenis

Puluhan Utama

145+ Jenis

Terbatas & Terpilih

Dasar (17 Jenis)

Gaya

Definisi Ringkas

Demonstrasi Praktis

Penjelasan Syarat

Koleksi Contoh

7. Sintesis

Dengan Badi', As-Suyūṭī melengkapi perangkat analisis teks. Jika Ma'ani adalah struktur bangunan, dan Bayan adalah arsitektur interior, maka Badi' adalah cat dan ornamen yang menyempurnakan keindahan gedung bahasa.

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: البَدِيعُ عِلْمُ الزِّينَةِ اللُّغَوِيَّةِ، يَعْنِي بِتَجْمِيلِ الأَلْفَاظِ وَالمَعَانِي بِالسَّجْعِ وَالجِنَاسِ وَالمُقَابَلَةِ، لِإِضْفَاءِ جَرَسٍ مُوسِيقِيٍّ وَعُمْقٍ دَلَالِيٍّ عَلَى النَّصِّ. (Badi' adalah ilmu perhiasan bahasa, yang peduli dengan memperindah lafadz dan makna dengan sajak, jinas, dan antitesis, untuk memberikan lonceng musikal dan kedalaman makna pada teks.)

XII. Ilmu Tasyrīḥ (Anatomi Manusia)

1. Rangkuman

Inilah letak keunikan radikal an-Nuqāyah. As-Suyūṭī memasukkan Anatomi, ilmu tentang struktur tubuh, tulang, dan organ. Ia membahas jumlah tulang, struktur tengkorak (jumjumah), mata, jantung, dan hati, mengintegrasikan sains Galenic/Avicennian ke dalam kurikulum pesantren.

2. Teks Arab Berharakat

عِلْمُ التَّشْرِيحِ: عِلْمٌ يُبْحَثُ فِيهِ عَنْ أَعْضَاءِ الإِنْسَانِ وَكَيْفِيَّةِ تَرْكِيبِهَا. الجُمْجُمَةُ: أَيِ الرَّأْسُ، مُرَكَّبَةٌ مِنْ سَبْعَةِ أَعْظُمٍ: أَرْبَعَةُ جُدْرَانٍ، وَقَاعِدَةٌ، وَقِحْفٌ كَالسَّقْفِ.

3. Terjemah Verbatim

Ilmu Tashrih (Anatomi): Ilmu yang dibahas di dalamnya tentang anggota-anggota tubuh manusia dan tata cara susunannya. Tengkorak: Yakni kepala, tersusun dari tujuh tulang: empat dinding, satu dasar, dan satu qihf (tempurung) seperti atap (catatan: rincian jumlah tulang bervariasi dalam tradisi klasik, namun teks ini mengacu pada observasi spesifik Galenic).

4. Analisis Internal Matn

As-Suyūṭī menggunakan terminologi medis Arab klasik. Penyebutan "7 tulang tengkorak" mencerminkan konsensus anatomi masa itu (kemungkinan merujuk pada tulang frontal, 2 parietal, occipital, 2 temporal, dan sphenoid). Ia mendefinisikan organ sebagai "susunan" (tarkīb), melihat tubuh sebagai konstruksi mekanis yang rapi.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

Syarah menjelaskan fungsi organ secara teleologis (berdasarkan tujuan penciptaan). Misal, Qihf keras untuk melindungi otak yang lunak. As-Suyūṭī juga membahas "Al-Laḥyayn" (dua rahang) dan struktur mata (lapisan-lapisan mata seperti kornea, retina). menyebutkan pembahasan tentang tangan, mata, telinga, dan jantung sebagai pusat kehidupan. Tujuannya adalah teologis: Ma‘rifatullāh melalui pengenalan ciptaan-Nya yang paling dekat (Wafī anfusikum afalā tubṣirūn).

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Al-Qānūn fī al-Ṭibb (Ibnu Sina)

Tadhkirah (Al-Antaki)

Gray's Anatomy (Modern)

Detail

Ringkasan Dasar

Sangat Detail & Klinis

Detail Farmakologis

Mikroskopis & Seluler

Tujuan

Hikmah Teologis

Diagnosa Medis

Pengobatan Praktis

Medis & Bedah

Basis Teori

Galenic Ringkas

Galenic Komprehensif

Galenic Akhir

Biologis Empiris

7. Sintesis

Keberadaan Anatomi membuktikan visi integratif As-Suyūṭī. Baginya, ketidaktahuan akan struktur tubuh adalah kekurangan dalam memahami keagungan Pencipta. Ini adalah jembatan antara teks wahyu dan teks alam semesta.

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: التَّشْرِيحُ دِرَاسَةُ هَنْدَسَةِ الجَسَدِ البَشَرِيِّ وَنِظَامِ تَرابُطِ أَعْضَائِهِ، لِفَهْمِ عَظَمَةِ الخَالِقِ فِي إِحْكَامِ الخَلْقِ وَدِقَّةِ الصُّنْعِ. (Anatomi adalah studi tentang rekayasa tubuh manusia dan sistem keterkaitan organ-organnya, untuk memahami keagungan Sang Pencipta dalam kekokohan ciptaan dan ketelitian buatan-Nya.)

XIII. Ilmu Ṭibb (Kedokteran Islam)

1. Rangkuman

Ilmu tentang menjaga kesehatan (ḥifẓ al-ṣiḥḥah) dan mengobati penyakit (bur’ al-maraḍ). As-Suyūṭī membahas teori humor (cairan tubuh), temperamen (mizāj), dan pengobatan dasar, serta integrasi dengan Ṭibb Nabawī.

2. Teks Arab Berharakat

عِلْمُ الطِّبِّ: عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ حِفْظُ الصِّحَّةِ أَنْ تَذْهَبَ، وَبُرْءُ المَرَضِ الحَاصِلِ. وَالأَصْلُ فِيهِ قَوْلُهُ : «تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ».

3. Terjemah Verbatim

Ilmu Tibb: Ilmu yang dengannya diketahui (cara) penjagaan kesehatan agar tidak hilang, dan penyembuhan penyakit yang telah terjadi. Dan dasar padanya adalah sabda Nabi : "Berobatlah wahai hamba-hamba Allah."

4. Analisis Internal Matn

Definisi ini membagi kedokteran menjadi dua: Preventif dan Kuratif. Penggunaan dalil hadis di awal definisi berfungsi melegitimasi kedokteran sebagai aktivitas yang disyariatkan, menolak paham fatalisme tawakkal yang menganggap berobat melawan takdir.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

As-Suyūṭī merinci Umūr Ṭabī‘iyyah (Unsur Alamiah): Arkān (Elemen), Mizāj (Temperamen), Akhlāṭ (Humor: Darah, Phlegm, Empedu Kuning, Empedu Hitam). Ia juga membahas "Enam Hal Pokok" (Asbāb Sittah Ḍarūriyyah): Udara, Makan-Minum, Gerak-Diam, Tidur-Jaga, Istifragh-Ihtibas, dan Psikologis. menyebutkan pembahasan musim (Fuṣūl) dan dampaknya pada kesehatan, menunjukkan pemahaman tentang kesehatan lingkungan.

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Al-Ṭibb al-Nabawī (Ibn Qayyim)

Al-Mūjaz (Ibn al-Nafis)

Raḥmah fī al-Ṭibb (As-Suyūṭī)

Pendekatan

Integrasi Yunani-Nabawi

Dominasi Teologis-Herbal

Medis Murni (Fisiologis)

Resep Rakyat & Spiritual

Teori

Humoral (Akhlat)

Humoral + Wahyu

Humoral Kritis

Praktis (Mujarrabat)

Posisi

Bab dalam Ensiklopedia

Buku Panduan Hidup

Ringkasan Qanun

Manual Pengobatan

7. Sintesis

As-Suyūṭī menempatkan kedokteran setelah anatomi dan sebelum tasawuf. Urutannya sangat filosofis: Bahasa (alat) → Teks Suci (sumber) → Tubuh (wadah) → Jiwa (isi). Ini menunjukkan pandangan holistik: tubuh yang sehat mendukung ibadah yang khusyuk.

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: الطِّبُّ عِلْمُ التَّوَازُنِ البَدَنِيِّ، يَسْعَى لِوِقَايَةِ الصِّحَّةِ بِتَدْبِيرِ الغِذَاءِ وَالنَّمَطِ المَعِيشِيِّ، وَعِلَاجِ الأَمْرَاضِ بِالوَسَائِلِ الطَّبِيعِيَّةِ وَالدَّوَائِيَّةِ. (Kedokteran adalah ilmu keseimbangan tubuh, yang berupaya menjaga kesehatan dengan pengaturan makanan dan gaya hidup, serta mengobati penyakit dengan sarana alami dan obat-obatan.)

XIV. Ilmu Taṣawwuf (Penyucian Jiwa)

1. Rangkuman

Puncak dari kurikulum an-Nuqāyah. Ilmu tentang penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs), adab batin, dan perjalanan menuju Allah (sulūk). Membahas stasiun spiritual (maqāmāt) seperti Taubat, Wara', Zuhud, Sabar, Tawakkal, dan Ridha.

2. Teks Arab Berharakat

عِلْمُ التَّصَوُّفِ: عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ كَيْفِيَّةُ تَصْفِيَةِ البَاطِنِ مِنْ كُدُورَاتِ النَّفْسِ، وَتَحْلِيَتِهِ بِالأَخْلَاقِ الرَّضِيَّةِ، لِلْوُصُولِ إِلَى حَضْرَةِ المَلِكِ الدَّيَّانِ. مَبْدَؤُهُ التَّوْبَةُ وَنِهَايَتُهُ الرِّضَا.

3. Terjemah Verbatim

Ilmu Tasawwuf: Ilmu yang dengannya diketahui tata cara penjernihan batin dari kotoran-kotoran nafsu, dan penghiasannya dengan akhlak yang diridhoi, untuk sampai kepada hadirat Raja Yang Maha Membalas. Permulaannya adalah Taubat dan akhirnya adalah Ridha.

4. Analisis Internal Matn

Penempatan di akhir menyiratkan bahwa Tasawuf adalah buah (tsamrah) dari semua ilmu sebelumnya. Fiqh memperbaiki lahir, Tasawuf memperbaiki batin. Definisi ini beraliran Tasawuf Akhlāqī (Sunni/Ghazalian), bukan Falsafī yang spekulatif.

5. Analisis Eksternal Syarh (Itmām al-Dirāyah)

As-Suyūṭī menjelaskan Maqāmāt secara berurutan: Taubat (kembali dari dosa), Wara‘ (meninggalkan syubhat), Zuhud (hati tidak terikat dunia), hingga Ma‘rifat. Ia juga membahas penyakit hati seperti Riyā’, ‘Ujub, dan Ḥasad. menyebutkan hadis tentang menyingkirkan gangguan dari jalan sebagai cabang iman, mengaitkan etika sosial dengan tasawuf.

6. Analisis Perbandingan dengan 3 Karya Acuan

Aspek Komparasi

An-Nuqāyah (As-Suyūṭī)

Iḥyā’ ‘Ulūmuddīn (Al-Ghazālī)

Risālah Qusyairiyyah

Al-Hikam (Ibn ‘Athaillah)

Struktur

Ringkasan Tahapan (Maqamat)

Sistematis Mendalam (Rubu')

Biografi Tokoh & Konsep

Aforisme (Kata Mutiara)

Fokus

Definisi Praktis

Psikologi Spiritual

Ortopraksi Sufi

Makna Batin

Aliran

Ghazalian (Sunni)

Sunni Integratif

Sunni Awal

Syadziliyah

7. Sintesis

Dengan menutup kitab menggunakan Tasawuf, As-Suyūṭī mengirim pesan abadi: Intelektualitas tanpa spiritualitas adalah kering dan berbahaya. Bahkan Ilmu Anatomi dan Kedokteran harus bermuara pada kesucian jiwa dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

8. Penyajian Teks Baru (Arab & Terjemah)

Reformulasi Pedagogis Kontemporer: التَّصَوُّفُ سُلُوكٌ تَرْبَوِيٌّ يَهْدِفُ إِلَى تَزْكِيَةِ النَّفْسِ بِامْتِثَالِ الشَّرْعِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، وَتَحْقِيقِ مَقَامِ الإِحْسَانِ بِعِبَادَةِ اللهِ كَأَنَّكَ تَرَاهُ. (Tasawuf adalah perilaku pendidikan yang bertujuan menyucikan jiwa dengan mematuhi syariat secara lahir dan batin, serta mewujudkan maqam Ihsan dengan beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.)

XV. Sintesis Umum & Penutup

Kitāb an-Nuqāyah karya Imam As-Suyūṭī berdiri sebagai monumen kecerdasan pedagogis Islam. Riset ini menyimpulkan tiga karakteristik utama:

1.      Integrasi Tanpa Dikotomi: Tidak ada pemisahan tajam antara ilmu agama dan ilmu umum. Anatomi dan Kedokteran dianggap fardu kifayah yang setara urgensinya dalam menjaga kemaslahatan umat.

2.      Struktur Hierarkis yang Logis: Dimulai dari Teologi (Asal), ke Teks (Sumber), ke Metode (Alat), ke Fisik (Wadah), dan berakhir pada Spiritual (Tujuan).

3.      Efisiensi Pedagogis: Gaya bahasa matn yang sangat ringkas menunjukkan desain kurikulum berbasis hafalan yang membutuhkan guru untuk syarh (penjelasan), menjaga sanad keilmuan tetap hidup.

Bagi institusi pendidikan Islam modern, seperti Pesantren Annuqayah di Madura yang mengadopsi nama dan semangat kitab ini, an-Nuqāyah menawarkan cetak biru pendidikan holistik: mencetak ulama yang faqih, linguis, sadar kesehatan, dan matang secara spiritual.

Referensi

1. Kitab Annuqayah | Berita Pesantren › LADUNI.ID, https://www.laduni.id/post/read/66958/kitab-annuqayah 2. Kitab Itmamud Diroyah li Qurroi Nuqoyah - Laduni.id, https://www.laduni.id/kitab/post/read/300/kitab-itmamud-diroyah-li-qurroi-nuqoyah 3. STUDI KITAB ITMAMUD DIROYAH LIL QURA' AN-NIQOYAH ..., http://etheses.uingusdur.ac.id/10736/1/2031116005-Bab1%265.pdf 4. إتمام الدراية لقراء النقاية - جامع الكتب الإسلامية, https://ketabonline.com/ar/books/526 5. إتمام الدراية لقراء النقاية | صفحة 20 | علم التفسير | فهارس الكتب والأدلة, https://ketabonline.com/ar/books/526/read?part=1&page=20&index=4081539 6. studi ilmu kalam di pesantren annuqayah - Digilib UIN Suka, https://digilib.uin-suka.ac.id/34293/1/1420510073_BAB-I-ATAU-V_DAFTAR-PESTAKA.pdf 7. إتمام الدراية لقراء النقاية - المكتبة الوقفية للكتب المصورة, https://waqfeya.net/books/%D8%A5%D8%AA%D9%85%D8%A7%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B1%D8%A7%D9%8A%D8%A9-%D9%84%D9%82%D8%B1%D8%A7%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%82%D8%A7%D9%8A%D8%A9-a6e9d8fd500846bb8f1bdf56f3d543ab 8. jalâl al-dîn al-mahallî and jalâl al-dîn al-suyutîs' interpretation ..., https://www.researchgate.net/publication/363151573_JALAL_AL-DIN_AL-MAHALLI_AND_JALAL_AL-DIN_AL-SUYUTIS'_INTERPRETATION_METHOD_OF_THE_MUTASYABIHAT_VERSE_IN_TAFSIR_JALALAYN/download 9. شرح مقدمة التفسير (من النقاية) للسيوطي - تراث, https://app.turath.io/book/25851 10. شرح مقدمة التفسير (من النقاية) للسيوطي | أصول - Usul is an AI, https://usul.ai/ar/t/sharh-muqaddimat-al-tafsir-min-al-nuqayah-by-al-suyuti 11. Al-Nuqaayah-by-Al-Suyuti.pdf, https://kalemah.org/wp-content/uploads/Al-Nuqaayah-by-Al-Suyuti.pdf 12. النقاية, https://shkhudheir.com/files/lesson/pdf/0079_%D8%B9%D9%84%D9%85_%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB_001.pdf 13. شرح رسالة أصول الفقه من كتاب النقاية للسيوطي - Internet Archive, https://archive.org/details/Osol_Fiqh_Noqaia 14. شرح النقاية للسيوطي (PDF + MP3) – الشيخ عبد الكريم الخضير |, https://alfiqh.net/%D8%B4%D8%B1%D8%AD-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%82%D8%A7%D9%8A%D8%A9-%D9%84%D9%84%D8%B3%D9%8A%D9%88%D8%B7%D9%8A-%D8%B9%D8%A8%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%B1%D9%8A%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%B6%D9%8A%D8%B1/ 15. إتمام الدراية لقراء النقاية - الجزء الثاني - 56412 | PDF - Scribd, https://www.scribd.com/document/890642500/%D8%A5%D8%AA%D9%85%D8%A7%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B1%D8%A7%D9%8A%D8%A9-%D9%84%D9%82%D8%B1%D8%A7%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%82%D8%A7%D9%8A%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D8%B2%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D8%AB%D8%A7%D9%86%D9%8A-56412-Foulabook-com 16. شرح رسالة النحو من كتاب النقاية للسيوطي - ‏ (1) أول المتن " علم النحو ", https://ar.islamway.net/lesson/131979/-1-%D8%A3%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%AA%D9%86-%D8%B9%D9%84%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%AD%D9%88 17. العناية بتصريف النقاية للسيوطي - عبد المحسن بن عبد العزيز العسكر, https://ar.islamway.net/book/31988/%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%86%D8%A7%D9%8A%D8%A9-%D8%A8%D8%AA%D8%B5%D8%B1%D9%8A%D9%81-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%82%D8%A7%D9%8A%D8%A9-%D9%84%D9%84%D8%B3%D9%8A%D9%88%D8%B7%D9%8A 18. السيوطي - اتمام الدراية لقراء النقاية | PDF - Scribd, https://www.scribd.com/document/40367560/%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%8A%D9%88%D8%B7%D9%8A-%D8%A7%D8%AA%D9%85%D8%A7%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B1%D8%A7%D9%8A%D8%A9-%D9%84%D9%82%D8%B1%D8%A7%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%82%D8%A7%D9%8A%D8%A9 19. ﺍﻟﻤﺠﻠﺲ 01 ﻣﻦ ﺷﺮﺡ )ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻟﻠﺰﻣﺰﻣﻲ( | ﺑﺮﻧﺎﻣﺞ ﺃ, https://baheth.ieasybooks.com/en/media/%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%AC%D9%84%D8%B3-10-%D9%85%D9%86-%D8%B4%D8%B1%D8%AD-%D9%85%D9%86%D8%B8%D9%88%D9%85%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%81%D8%B3%D9%8A%D8%B1-%D9%84%D9%84%D8%B2%D9%85%D8%B2%D9%85%D9%8A-%D8%A8%D8%B1%D9%86%D8%A7%D9%85%D8%AC-%D8%A3%D8%B5%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B3%D8%AA%D9%88%D9%89-%D8%A7%D9%84%D8%AB%D8%A7%D9%86%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%AE-%D8%B5%D8%A7%D9%84%D8%AD-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%B5%D9%8A%D9%85%D9%8A/download_transcription_in_pdf