Setiap musim, saya nyaris bermain 3 peran sekaligus di madrasah:
wali kelas, guru kelas, dan guru mata pelajaran. Sebagai wali kelas, tujuan
utama saya ialah membangun tim. Dalam perspektif tim, tidak selalu kumpulan
individu yang bagus seperti murid yang cerdas maupun murid yang santun, bisa serta
merta membentuk satu kebersamaan yang padu. Kosok balinya, tidak selamanya kumpulan
individu yang dianggap buruk dan akhlaq minus, akan membuat tim menjadi bobrok.
Manfaat membangun tim dalam kelas ialah untuk mewujudkan
suasana tenang ketika di kelas, saling percaya dan mendukung antar penghuni kelas
dan pihak terkait (seperti wali murid dan perwakilan pondok pesantren) untuk
bisa berkembang bersama, serta terdapat sistem kontrol yang saling mengingatkan
ketika berbuat kesalahan ataupun saling memulihkan ketika terdapat anggota tim
yang sedang jatuh mental. Hal ini, buat saya, penting untuk diperhatikan lebih
dahulu sebelum menerapkan desain pembelajaran yang disusun. Hal ini juga,
menurut saya, perlu disertakan ketika sedang melakukan evaluasi dan refleksi.
Saya tidak tahu apakah saya sukses atau gagal dalam membangun
tim di kelas yang saya wali kelas-i. Namun, berikut ini beberapa hal utama yang
saya lakukan dalam upaya membangun tim.
Berkomunikasi Secara Transparan.
Langkah pertama dan paling penting dalam membangun tim adalah
bersikap transparan terhadap anggota tim. Ini tidak berarti saya harus
mengungkapkan seluruh rencana saya terlebih dahulu dan memberi tahu semua orang
apa yang saya lakukan. Apalagi secara pribadi saya tertutup, itulah sebabnya banyak
orang yang sering bersama saya kerap tidak tahu menahu – apalagu mengerti –
tentang saya. Transparansi tidak berarti membiarkan seluruh tim mengetahui
keseluruhan rencana saya. Hal ini juga bisa berarti bersikap jujur kepada
mereka tentang kekurangan mereka dan apa yang perlu mereka lakukan untuk
memperbaikinya. Menurut saya, anggota tim dapat berkinerja lebih baik jika
mereka mengetahui keadaannya.
Menetapkan Harapan yang Jelas
Setelah berkomunikasi dengan tim saya, saya perlu meminta
pertanggungjawaban mereka atas tindakan mereka. Meminta pertanggungjawaban tidak
hanya berarti menghukum mereka atas kesalahan mereka; itu juga berarti memuji
mereka atas keberhasilan mereka. Meminta pertanggungjawaban orang-orang
menetapkan standar keunggulan yang diperlukan dalam tim sukses mana pun. Yang
terbaik adalah memiliki orang-orang berkualitas tinggi yang bertanggung jawab
atas tindakan mereka untuk mencapai hal-hal sesuai tujuan bersama maupun
individu.
Membangun Iklim Peningkatan Konsisten
Untuk membangun tim yang benar-benar sukses, saya harus
menciptakan iklim “neraka” yang memaksa anggota tim terus belajar dan
berkembang. Pertumbuhan tidak hanya berlaku untuk individu dalam tim saya; tetapi
itu juga berlaku untuk kami semua sebagai satu tim. Meskipun sebagian besar anggota
tim mungkin sedang berada di puncak performanya, mereka dapat terus meningkat. Setiap
orang dapat terus berkembang, dan setiap orang harus selalu berusaha untuk
menjadi lebih baik. Merupakan tanggung jawab seorang wali kelas untuk
menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan.
Membiasakan Disiplin
Ada perbedaan antara mendisiplinkan anggota tim dan
bertanggung jawab atas semua yang mereka lakukan. Saya hanya bisa mengharapkan anggota
tim saya melakukan sesuatu jika saya memberi mereka alasan yang jelas. Jika saya
ingin anggota tim saya disiplin dalam ritme dan pola belajarnya, saya harus
memastikan bahwa saya juga disiplin dalam menuntun mereka. Saya merasa, tidak
elok kita menuntut seseorang ketika kita tidak menuntun. Hal ini memaksa saya harus
memastikan bahwa cara saya menuntun mereka bisa jelas, ringkas, dan dapat
dimengerti tanpa distorsi. Saya harus konsisten dan terorganisir serta perlu
memastikan bisa berkomunikasi secara efektif dengan anggota tim saya.
Membangun Lingkungan Inovasi dan Eksperimen
Setelah menciptakan iklim peningkatan konsisten, saya perlu
menciptakan lingkungan di mana anggota tim saya dapat bereksperimen dengan cara
belajar yang baru. Bereksperimen mungkin tampak bertentangan dengan poin
sebelumnya, tapi sebenarnya tidak. Jika kami ingin mencapai kesuksesan yang
konsisten, kami harus terus-menerus mencoba hal baru. Saya harus terbuka
terhadap pendekatan baru dan bereksperimen dengan model pembelajaran yang
berbeda. Hanya beberapa pembelajaran yang memerlukan model student-centerd;
terkadang model teacher-centered lebih ampuh untuk beberapa pembelajaran.
Pertanyaan Saya harus selalu, “Model manakah yang cocok untuk pembelajaran topik
ini?” Saya dapat menemukan cara yang cocok untuk menyelesaikan masalah dengan
bereksperimen dengan lebih dari satu model dan memilih salah satu yang paling cocok
dengan kondisi anggota tim saya.