Tanah Longsor Kudus Januari 2026


 

Ringkasan

Artikel ini menyajikan analisis mendalam, kronologis, dan teknis mengenai rangkaian peristiwa alam tanah longsor yang melanda wilayah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada periode awal Januari 2026, khususnya puncak kejadian antara tanggal 9 hingga 11 Januari 2026. Peristiwa ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan akumulasi dari anomali cuaca ekstrem berupa curah hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang yang mengguyur kawasan Pegunungan Muria. Peristiwa ini mengakibatkan kerusakan infrastruktur vital, terputusnya akses pariwisata religi yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal, kerusakan hunian warga, serta menimbulkan korban jiwa yang tragis.

Fokus utama artikel ini adalah pembedahan sistematis terhadap dampak peristiwa di tingkat desa dengan pendekatan kewilayahan. Analisis mencakup profil geografis dan astronomis presisi, demografi penduduk, kronologi kejadian per lokasi, serta dinamika respons pemangku kepentingan (stakeholder). Data menunjukkan bahwa desa-desa di Kecamatan Dawe dan Gebog—khususnya Rahtawu, Menawan, Colo, Japan, Kuwukan, Ternadi, dan Kajar—mengalami dampak paling signifikan akibat topografi lereng yang labil dan saturasi tanah yang ekstrem. Artikel ini disusun untuk memberikan gambaran utuh (holistik) bagi para pengambil kebijakan, akademisi, dan praktisi keperistiwaan.


1. Pendahuluan: Konteks Geologis dan Meteorologis

1.1 Latar Belakang Lingkungan Fisik

Kabupaten Kudus, yang secara geografis terletak di bagian utara Provinsi Jawa Tengah, memiliki karakteristik topografi yang unik dengan dominasi dataran rendah di bagian selatan dan kawasan pegunungan vulkanik di bagian utara. Kawasan utara ini merupakan bagian dari kompleks Gunung Muria, sebuah gunung api purba yang kini tidak aktif namun menyisakan bentang alam berupa lereng-lereng curam, lembah sungai yang dalam, dan lapisan tanah vulkanik yang subur namun rentan terhadap erosi. Struktur geologi di wilayah ini didominasi oleh batuan vulkanik muda yang memiliki permeabilitas tinggi, namun ketika mengalami pelapukan, lapisan tanah atas (top soil) menjadi tebal dan gembur, yang apabila jenuh air akan kehilangan kohesi dan memicu pergerakan tanah atau mass wasting.

Pada awal Januari 2026, fenomena meteorologis memainkan peran krusial sebagai pemicu utama (triggering factor) peristiwa. Berdasarkan pantauan lapangan dan laporan Badan Penanggulangan Peristiwa Daerah (BPBD), wilayah Kabupaten Kudus diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat secara terus-menerus mulai Jumat, 9 Januari 2026. Hujan yang bersifat durasi panjang (prolonged rainfall) ini sangat berbahaya bagi kestabilan lereng karena memungkinkan air meresap jauh ke dalam pori-pori tanah (infiltrasi), meningkatkan tekanan air pori (pore water pressure), dan mereduksi kekuatan geser tanah (shear strength). Ketika gaya pendorong akibat gravitasi dan beban air melebihi gaya penahan tanah, terjadilah longsor.1

1.2 Eskalasi Kejadian Peristiwa

Peristiwa yang terjadi pada Januari 2026 ini dikategorikan sebagai peristiwa hidrometeorologi basah. Tidak hanya tanah longsor, hujan ekstrem tersebut juga memicu banjir limpasan sungai di wilayah hilir seperti Kecamatan Mejobo, Jekulo, dan Kaliwungu. Sungai-sungai utama yang berhulu di Muria, seperti Sungai Gelis, Sungai Piji, dan Sungai Dawe, tidak mampu menampung debit air yang melimpah, mengakibatkan luapan yang merendam ribuan rumah. BPBD Kudus mencatat total warga terdampak peristiwa hidrometeorologi (banjir dan longsor) mencapai 14.143 jiwa atau 4.668 Kepala Keluarga (KK). Namun, fokus artikel ini akan diarahkan secara spesifik pada kejadian tanah longsor yang memiliki karakteristik dampak destruktif pada infrastruktur fisik dan ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa di wilayah hulu.3


2. Profil Kewilayahan dan Analisis Kerentanan

Sebelum membedah kronologi kejadian di setiap desa, penting untuk memahami profil demografis dan geografis wilayah terdampak. Kecamatan Gebog dan Dawe merupakan dua kecamatan yang berada di lereng Gunung Muria dan menjadi episentrum kejadian longsor kali ini.

2.1 Kecamatan Gebog

Kecamatan Gebog memiliki luas wilayah sekitar 55,10 km² dengan topografi yang bervariasi dari dataran hingga pegunungan tinggi. Wilayah ini terdiri dari 11 desa, di mana Desa Rahtawu dan Menawan merupakan desa yang berada di elevasi tertinggi dan memiliki kerentanan gerakan tanah paling besar. Secara demografis, kecamatan ini memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi di bagian selatan, namun semakin jarang di bagian utara yang berbatasan dengan hutan lindung.5

2.2 Kecamatan Dawe

Kecamatan Dawe, dengan luas wilayah sekitar 85,84 km², merupakan kecamatan terluas di zona utara Kudus. Wilayah ini adalah pusat pariwisata alam dan religi (Makam Sunan Muria). Topografi Dawe didominasi oleh punggungan bukit dan lembah, menjadikannya sangat rawan longsor, terutama di desa-desa penyangga hutan Muria seperti Colo, Japan, Kajar, dan Ternadi. Populasi Dawe pada tahun 2023 tercatat mencapai 110.815 jiwa, menunjukkan tekanan antropogenik yang signifikan terhadap lahan.7


3. Analisis Mendalam Per Desa (Studi Kasus Kronologis)

Bagian ini menyajikan rekonstruksi kejadian peristiwa secara sistematis, urut, dan rinci untuk setiap desa terdampak.

3.1 Desa Rahtawu (Kecamatan Gebog)

Desa Rahtawu sering disebut sebagai "surga tersembunyi" di Kudus karena keindahan alamnya, namun keindahan tersebut menyimpan potensi bahaya geologis yang tinggi.

3.1.1 Profil Desa: Geografis, Astronomis, dan Demografi

Desa Rahtawu terletak di ujung utara Kecamatan Gebog, terisolasi oleh benteng alam pegunungan. Desa ini dialiri oleh sungai-sungai berbatu besar yang menjadi hulu dari Sungai Gelis.

Tabel 1. Profil Geo-Demografis Desa Rahtawu


Parameter

Detail Data

Sumber Referensi

Letak Astronomis

6°38′23″S 110°52′27″E

8

Luas Wilayah

1.610,67 Hektare (16,11 km²)

9

Persentase Wilayah

29,25% dari total luas Kec. Gebog (Desa Terluas)

9

Jumlah Penduduk

± 4.989 jiwa (Data Akhir 2022)

12

Kepadatan Penduduk

± 308 - 310 jiwa/km² (Terendah di Kec. Gebog)

5

Penggunaan Lahan

Permukiman (20 Ha), Sawah (250 Ha), Hutan/Tegalan (1.300+ Ha)

10

Kepadatan penduduk yang rendah merefleksikan kondisi geografis yang ekstrem, di mana permukiman hanya dapat dibangun di spot-spot datar yang terbatas di antara tebing dan sungai.5

3.1.2 Kondisi Pra-Peristiwa

Masyarakat Rahtawu, khususnya di Dukuh Semliro yang berada di elevasi tinggi, telah memiliki kesadaran akan risiko longsor. Sejak Jumat (9/1/2026), hujan deras mengguyur wilayah ini. Tanah di tebing-tebing sekitar permukiman mulai menunjukkan kejenuhan air. Warga melakukan pemantauan mandiri (ronda) untuk mendeteksi pergerakan tanah.14

3.1.3 Kronologi Kejadian Peristiwa

Puncak peristiwa di Rahtawu terjadi pada Minggu pagi, 11 Januari 2026.

  • Waktu: Pukul 07.00 WIB.14

  • Lokasi Spesifik: Dukuh Semliro, RT 04 RW 04 (beberapa laporan menyebut area wisata Seribu Batu Semliro di RT 01, namun dampak permukiman terpusat di RT 04).14

  • Mekanisme Kejadian: Warga yang sedang bersiap memulai aktivitas pagi melihat adanya retakan tanah yang melebar di depan rumah. Tidak lama kemudian, terdengar suara gemuruh dari tebing setinggi kurang lebih 10 meter di belakang permukiman. Material tanah bercampur batu meluncur ke bawah menimpa bangunan rumah warga.14

3.1.4 Dampak dan Kerugian

Kejadian ini mengakibatkan kerusakan fisik yang signifikan namun nihil korban jiwa berkat evakuasi dini.

  • Kerusakan Hunian: Tiga unit rumah warga mengalami kerusakan. Salah satu rumah mengalami jebol pada bagian atap belakang dan dinding akibat hantaman material longsor.14

  • Aksesibilitas: Jalan desa yang merupakan akses vital warga Dukuh Semliro tertutup total oleh material longsor, mengisolasi mobilitas ekonomi dan sosial sesaat setelah kejadian.14

  • Kerugian Materiil: Estimasi kerugian awal mencapai Rp 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah).14

3.1.5 Respon Masyarakat dan Stakeholder

Tindakan warga sangat responsif. Saat melihat retakan tanah, mereka segera mengevakuasi anggota keluarga (terutama lansia dan anak-anak) keluar rumah menuju titik aman. Pasca kejadian, sinergi antara masyarakat, Pemerintah Desa Rahtawu, Polsek Gebog, dan TNI terjalin kuat. Kapolsek Gebog, AKP Siswanto, memimpin langsung pengecekan dan koordinasi pembersihan material longsor. Alat berat diterjunkan oleh Pemkab Kudus karena volume material yang menutupi jalan cukup besar dan tidak memungkinkan dibersihkan hanya dengan alat manual.14


3.2 Desa Menawan (Kecamatan Gebog)

Desa Menawan mencatatkan peristiwa paling memilukan dalam rangkaian peristiwa ini dengan adanya korban jiwa. Desa ini memiliki karakteristik serupa dengan Rahtawu namun dengan kepadatan penduduk yang sedikit lebih tinggi di kantong-kantong permukiman.

3.2.1 Profil Desa: Geografis, Astronomis, dan Demografi

Desa Menawan terletak di sebelah timur Rahtawu. Wilayah ini dikenal dengan potensi wisata alam dan hasil bumi berupa buah-buahan.

Tabel 2. Profil Geo-Demografis Desa Menawan


Parameter

Detail Data

Sumber Referensi

Letak Astronomis

6°41′27″S 110°50′48″E

19

Luas Wilayah

825,50 Hektare (8,25 km²)

19

Jumlah Penduduk

± 5.680 jiwa (Proyeksi data 2020)

19

Karakteristik

Desa Wisata, Topografi Berbukit

20

3.2.2 Kronologi Kejadian Peristiwa

Peristiwa fatal di Desa Menawan terjadi pada Minggu siang, 11 Januari 2026, di tengah hujan lebat yang masih mengguyur.

  • Waktu: Pukul 12.45 WIB.3

  • Lokasi Spesifik: Dukuh Kambangan, Desa Menawan. Dukuh ini merupakan area permukiman yang konturnya miring dan berbatasan langsung dengan tebing.3

  • Korban Jiwa:

  • Meninggal Dunia: Nursidi (52 tahun), laki-laki.

  • Selamat: Sriyatun (45 tahun), istri korban.

  • Klarifikasi Data: Terdapat variasi laporan awal yang menyebut nama Sriyatun sebagai korban tewas 21, namun laporan lanjutan yang memuat konfirmasi dari Bupati Kudus saat takziah memastikan bahwa Nursidi adalah korban meninggal yang tertimpa reruntuhan, sementara Sriyatun selamat.3

3.2.3 Narasi Detik-detik Kejadian

Pada saat kejadian, pasangan suami istri Nursidi dan Sriyatun sedang berada di sebuah warung milik mereka atau kerabat yang berlokasi tidak jauh dari rumah tinggal di Dukuh Kambangan. Hujan turun dengan intensitas tinggi. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh dari arah tebing di atas bangunan warung. Menyadari bahaya, keduanya berusaha lari menyelamatkan diri keluar bangunan.

Namun, dalam situasi panik tersebut, Sriyatun teringat tas miliknya tertinggal di dalam dan mencoba kembali untuk mengambilnya. Saat itulah tebing longsor. Material tanah menghantam dinding warung hingga roboh. Tragisnya, Nursidi yang berada di dekat pintu justru tertimpa reruntuhan tembok yang didorong oleh massa tanah, menyebabkannya meninggal dunia di tempat akibat himpitan material berat. Sriyatun, meskipun berada di lokasi bahaya, berhasil selamat dari hantaman langsung.3

3.2.4 Pasca Peristiwa dan Respon Stakeholder

Kejadian ini memicu respons darurat tingkat tinggi. Tim Inafis Polres Kudus, BPBD, TNI, dan relawan segera melakukan evakuasi jenazah. Garis polisi (police line) dipasang mengelilingi lokasi kejadian untuk mencegah warga mendekat karena kondisi tanah masih sangat labil dan berpotensi longsor susulan.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, melakukan kunjungan langsung ke rumah duka di Desa Menawan untuk melepas jenazah ke pemakaman umum Dukuh Kambangan. Kehadiran kepala daerah ini menegaskan perhatian serius pemerintah terhadap dampak fatal peristiwa ini. Bupati juga menyerahkan santunan duka dan menginstruksikan Dinas Sosial serta BPBD untuk menjamin kebutuhan logistik keluarga korban selama masa berkabung dan pemulihan.3


3.3 Desa Colo (Kecamatan Dawe)

Desa Colo adalah jantung pariwisata Kabupaten Kudus karena keberadaan Makam Sunan Muria. Peristiwa di wilayah ini memiliki implikasi ekonomi yang luas karena menyangkut infrastruktur akses vital.

3.3.1 Profil Desa: Geografis, Astronomis, dan Demografi

Desa Colo terletak pada ketinggian ±700 mdpl, memberikan iklim sejuk yang mendukung pertanian kopi dan parijoto serta pariwisata.

Tabel 3. Profil Geo-Demografis Desa Colo


Parameter

Detail Data

Sumber Referensi

Letak Astronomis

6°39′30″S 110°53′56″E

22

Luas Wilayah

584 Hektare (5,84 km²)

23

Jumlah Penduduk

4.145 jiwa (2.055 Laki-laki, 2.090 Perempuan)

25

Jumlah KK

1.255 Kepala Keluarga

25

Struktur Wilayah

Terbagi dalam 4 Dukuh (Colo, Panggang, dll)

25

3.3.2 Kronologi Kejadian Peristiwa

Peristiwa di Colo terjadi lebih awal dibandingkan Rahtawu dan Menawan, yakni pada Jumat malam, 9 Januari 2026.

  • Waktu: Pukul 19.30 WIB.26

  • Lokasi Spesifik: Jembatan/Talud di sisi barat Portal Pintu Masuk Kawasan Wisata Colo. Lokasi ini sangat strategis karena merupakan gerbang utama bagi kendaraan wisatawan menuju terminal parkir atas.26

  • Mekanisme Kejadian: Hujan deras disertai angin kencang yang berlangsung sejak pagi hari menyebabkan tanah urugan di bawah jembatan/talud menjadi jenuh air (saturasi). Aliran air permukaan yang deras menggerus pondasi talud, menyebabkan struktur tersebut kehilangan daya dukung dan ambrol ke jurang sungai sedalam 20 hingga 30 meter.26

3.3.3 Kendaraan Terdampak dan Korban

Saat kejadian, terdapat dua kendaraan yang berada di atas jembatan atau sedang melintas pelan/parkir:

  1. Mobil Suzuki Ertiga (Minibus).

  2. Truk Tangki Air Isuzu Elf.
    Kedua kendaraan tersebut ikut terseret material longsor dan jatuh ke dasar jurang. Secara ajaib, peristiwa dramatis ini tidak menimbulkan korban jiwa. Pengemudi dan penumpang kedua kendaraan hanya mengalami luka ringan dan shock, serta berhasil dievakuasi oleh warga dan petugas sesaat setelah kejadian.26

3.3.4 Dampak Infrastruktur dan Tindakan Stakeholder

Kerusakan jembatan ini melumpuhkan akses utama pariwisata. Sebagian badan jalan menuju Desa Colo ambles, menjadikannya berbahaya untuk dilalui kendaraan berat.

  • Tindakan Polisi: Satlantas Polres Kudus dan Polsek Dawe segera menutup akses jalur tersebut bagi kendaraan besar, khususnya bus pariwisata peziarah. Arus lalu lintas direkayasa; bus peziarah dilarang naik, sementara mobil pribadi diarahkan melalui jalur alternatif yang lebih sempit atau sistem buka-tutup dengan kewaspadaan tinggi.3

  • Evakuasi Kendaraan: Proses evakuasi bangkai mobil dan truk dari jurang sedalam 20 meter dilakukan menggunakan crane (derek) berkapasitas besar. Operasi ini diawasi langsung oleh Kapolres Kudus AKBP Heru Dwi Purnomo dan Bupati Kudus untuk memastikan keamanan personel karena kondisi tanah yang masih labil.26

  • Dampak Ekonomi: Penutupan akses bus berdampak langsung pada penurunan jumlah pengunjung Makam Sunan Muria, yang berimbas pada pendapatan pedagang oleh-oleh, warung makan, dan penyedia jasa ojek di kawasan wisata tersebut selama periode peristiwa.


3.4 Desa Japan (Kecamatan Dawe)

Desa Japan, yang bertetangga dengan Colo, mengalami intensitas kejadian longsor yang paling tinggi dari sisi jumlah titik kejadian, menunjukkan ketidakstabilan lereng yang meluas di wilayah ini.

3.4.1 Profil Desa: Geografis, Astronomis, dan Demografi

Desa Japan berada di lereng utara Muria, dikenal sebagai sentra penghasil Jeruk Pamelo dan Kopi Muria.

Tabel 4. Profil Geo-Demografis Desa Japan


Parameter

Detail Data

Sumber Referensi

Letak Geografis

Sebelah Timur Desa Colo, Ketinggian ±600 mdpl

31

Luas Wilayah

317 Hektare (3,17 km²)

24

Jumlah Penduduk

Estimasi 12.187 - 13.106 jiwa (Padat Penduduk)

33

Penggunaan Lahan

Tegal/Kebun (207,89 Ha), Sawah (109,11 Ha)

31

Tingginya jumlah penduduk di desa dengan luas wilayah yang relatif kecil (317 Ha) dibandingkan desa tetangganya mengindikasikan tekanan lahan hunian yang tinggi di area lereng, meningkatkan risiko keterpaparan peristiwa.

3.4.2 Kronologi dan Dampak Peristiwa

Kejadian longsor di Desa Japan terjadi secara sporadis mulai Jumat malam, 9 Januari 2026 hingga Sabtu, 10 Januari 2026.

  • Intensitas: BPBD Kudus mencatat terdapat 24 titik longsor di wilayah Desa Japan. Angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan desa-desa lain, menunjukkan kerentanan masif struktur tanah di wilayah ini.4

  • Lokasi Kritis: Salah satu dampak terparah adalah terputusnya akses jalan menuju Dukuh Rejenu. Dukuh ini merupakan lokasi situs mata air "Tiga Rasa" yang keramat. Longsoran menutup total badan jalan, mengisolasi warga dukuh tersebut dari akses logistik dan kesehatan.35

  • Kerusakan Hunian: Sejumlah rumah warga dilaporkan rusak ringan hingga sedang akibat rembesan lumpur dan hantaman material longsor skala kecil.

3.4.3 Respon Warga

Masyarakat Desa Japan, yang dikenal memiliki modal sosial (social capital) yang kuat, segera melakukan kerja bakti massal (gotong royong). Mereka membersihkan material longsoran di jalan-jalan desa menggunakan alat seadanya seperti cangkul dan sekop sebelum bantuan alat berat dari Pemkab tiba. Kecepatan reaksi warga ini sangat krusial dalam membuka kembali akses isolasi parsial antar-RT/RW.36


3.5 Klaster Desa Terdampak Lainnya: Kuwukan, Ternadi, dan Kajar

Selain empat desa di atas, peristiwa longsor juga melanda desa-desa penyangga lainnya di Kecamatan Dawe dengan intensitas yang bervariasi.

3.5.1 Desa Kuwukan (Kecamatan Dawe)

  • Profil: Desa seluas 228 Ha dengan penduduk ±1.850 jiwa. Wilayahnya berbatasan langsung dengan Colo dan Japan.24

  • Dampak Peristiwa: Tercatat sekitar 20 titik longsor skala kecil hingga sedang. Sebanyak enam rumah warga dilaporkan terdampak kerusakan pada bagian dinding atau halaman akibat longsoran tebing pekarangan.4

3.5.2 Desa Ternadi (Kecamatan Dawe)

  • Profil: Desa pegunungan (700 mdpl) dengan luas 367,48 Ha dan populasi yang terus berkembang (estimasi 2.170 - 4.653 jiwa).39 Desa ini memiliki potensi wisata pendakian Puncak Natas Angin.

  • Dampak Peristiwa: Terdapat 4 titik longsor. Dua rumah warga mengalami kerusakan.4 Lokasi Ternadi yang tinggi dan akses jalan yang curam membuat distribusi bantuan logistik menjadi tantangan tersendiri bagi BPBD.

3.5.3 Desa Kajar (Kecamatan Dawe)

  • Profil: Desa seluas 504 Ha yang dikenal sebagai sentra kuliner getuk dan kopi. Hutan rakyat mendominasi penggunaan lahannya (445 Ha).41

  • Dampak Peristiwa: Teridentifikasi 6 titik longsor.4 Meskipun jumlah titik lebih sedikit, longsor di Kajar mengganggu konektivitas jalur wisata kuliner yang menjadi sumber ekonomi utama warga.


4. Analisis Kausalitas Peristiwa

Peristiwa longsor di Kudus pada Januari 2026 bukan merupakan kejadian tunggal, melainkan hasil dari interaksi kompleks berbagai faktor:

4.1 Faktor Meteorologis (Pemicu Utama)

Analisis data menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem adalah pemicu dominan. Hujan yang turun tanpa henti selama lebih dari 24 jam (9-10 Januari) menciptakan kondisi jenuh air yang sempurna. Air hujan mengisi rongga-rongga tanah, menambah beban massa tanah secara signifikan, dan sekaligus berfungsi sebagai pelumas pada bidang gelincir batuan dasar, memicu terjadinya longsoran rotasional maupun translasional.

4.2 Faktor Geologis dan Topografis

Wilayah terdampak berada di kompleks vulkanik Muria. Tanah andosol dan latosol di wilayah ini subur namun gembur. Kemiringan lereng yang curam (>40%) di Rahtawu, Menawan, dan Colo mempercepat laju limpasan air dan meningkatkan gaya gravitasi yang bekerja pada massa tanah. Ketiadaan vegetasi penguat akar dalam (deep-rooted vegetation) di beberapa tebing buatan (talud jalan/permukiman) memperparah kondisi ini.

4.3 Faktor Antropogenik

Pola pemanfaatan lahan juga berkontribusi. Pembangunan permukiman yang memotong lereng (cutting) di Menawan dan Rahtawu seringkali tidak disertai dengan penguatan dinding penahan tanah (retaining wall) yang memadai. Selain itu, drainase jalan yang buruk di Colo menyebabkan air hujan tidak teralirkan dengan baik, melainkan meresap dan menggerus tanah dasar jalan.


5. Sintesis Dampak dan Respons Stakeholder

5.1 Dampak Akumulatif

Secara keseluruhan, peristiwa hidrometeorologi (banjir dan longsor) di Kudus pada periode 9-11 Januari 2026 berdampak pada 14.143 jiwa. Khusus longsor, kerugian meliputi satu korban jiwa, kerusakan puluhan rumah, putusnya akses jalan wisata Colo dan Rahtawu, serta kerugian ekonomi akibat terhentinya aktivitas pariwisata religi.4

5.2 Manajemen Penanganan Peristiwa

Respons pentahelix (Pemerintah, Masyarakat, Akademisi, Dunia Usaha, Media) terlihat dalam penanganan peristiwa ini:

  • Pemerintah Daerah (BPBD): Menetapkan status Siaga Darurat Peristiwa hingga 31 Mei 2026. BPBD melakukan kaji cepat (rapid assessment), mendirikan posko, dan menyalurkan logistik pangan serta material bangunan (seng, genteng) bagi korban terdampak.4

  • TNI/Polri: Berperan vital dalam evakuasi korban jiwa (Menawan) dan evakuasi kendaraan (Colo), serta pengamanan lokasi (rekayasa lalu lintas) untuk mencegah korban tambahan.

  • Masyarakat: Solidaritas warga sangat tinggi. Di Rahtawu, sistem peringatan dini berbasis komunitas (pemantauan retakan tanah) terbukti efektif menyelamatkan nyawa.


6. Penutup dan Rekomendasi

Peristiwa tanah longsor di Kabupaten Kudus pada Januari 2026 memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi anomali cuaca di kawasan rawan peristiwa geologis. Meskipun respons tanggap darurat berjalan cukup efektif, kejadian ini mengungkap kerentanan infrastruktur fisik dan permukiman di zona merah.

Rekomendasi:

  1. Penguatan Infrastruktur: Diperlukan audit teknis menyeluruh terhadap talud jalan dan jembatan di akses wisata Colo dan Rahtawu. Perbaikan harus menggunakan standar konstruksi tahan longsor dan drainase berkapasitas tinggi.

  2. Relokasi Parsial: Pemerintah perlu mempertimbangkan opsi relokasi bagi rumah-rumah yang berada tepat di bibir tebing atau jalur luncuran longsor di Dukuh Kambangan (Menawan) dan Semliro (Rahtawu).

  3. Sistem Peringatan Dini (EWS): Memperluas jangkauan pemasangan alat EWS tanah longsor (landslide sensor) di titik-titik kritis yang teridentifikasi (Japan, Colo, Ternadi) dan mengintegrasikannya dengan aplikasi pemantauan cuaca real-time.

  4. Edukasi Berkelanjutan: Terus meningkatkan kapasitas masyarakat melalui Desa Tangguh Peristiwa (Destana), agar kearifan lokal dalam membaca tanda alam seperti yang terjadi di Rahtawu dapat direplikasi di desa-desa lain.


Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan data dan fakta lapangan yang dihimpun hingga tanggal 11 Januari 2026. Data dinamis seperti jumlah pengungsi dan estimasi kerugian total dapat berkembang seiring proses asesmen pasca peristiwa.

Karya yang dikutip

  1. Satu Orang Meninggal Dunia Akibat Tertimpa Tanah Longsor di ..., diakses Januari 11, 2026, https://suarabaru.id/2026/01/11/satu-orang-meninggal-dunia-akibat-tertimpa-tanah-longsor-di-kudus

  2. Bencana Hidrometeorologi Terjang Kudus, 14.143 Warga Terdampak, diakses Januari 11, 2026, https://harian7.com/2026/01/bencana-hidrometeorologi-terjang-kudus-14-143-warga-terdampak.html

  3. Longsor Kambangan Menawan Telan Korban Jiwa, Bupati Kudus ..., diakses Januari 11, 2026, https://isknews.com/longsor-kambangan-menawan-telan-korban-jiwa-bupati-kudus-lepas-jenazah/

  4. 14.143 Jiwa Terdampak Bencana Hidrometeorologi di Kudus, diakses Januari 11, 2026, https://isknews.com/14-143-jiwa-terdampak-bencana-hidrometeorologi-di-kudus/

  5. https://kuduskab.bps.go.id, diakses Januari 11, 2026, https://web-api.bps.go.id/download.php?f=iwgxEbJcewKQkAYJmurUSDF2b2luTW81V2NsNitLdDB4ZitFaDE5UlpTZkttcnNDRjRJVkZKbTZUQWltNnJZc2JWc2ZuV0IwaTRkMWh5MFJMVUlHeUsxNU1sOXh2VG1EZnZkWkZIN2lBWm55dzhwOCtaekxTZFBFc3FQT0Ird0piOERLTFN5NjIyQ3NTTmU3Tm0yaVhxRHZ3Ymwwb0hPd2xkTG1kVVFLUjhVanFNczNkVEk2N3JFdWNyd00rcWhTZ0E2Nnh6OW9KVEc5aHFvS25ISHVDRjRrSWVkUE5ydDM5andrMU1ENnJLV2ZZMG9xZjFzYTJmR3VpWmJ4Mk5ZY3N5bG55Zm9YRTl6Wm1UUFY=

  6. Gebog, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Gebog,_Kudus

  7. https://kuduskab.bps.go.id, diakses Januari 11, 2026, https://web-api.bps.go.id/download.php?f=DzFdsaHfTT3Bw4TxPdbRJzdkZkVILzkwR2Y1L0R3NFo1NTdzK2FrVm1hZjc3VnZ1WGFyc0RXTGpqMVhmcFk1bWNGdEltdi9XODZMSm1KdDFFZUZleEs4Q2V2VzlEZENnYlFQSTEwMkFOZk1oVzhScm90a1pJMzFLWkJ0U0E5MEVXd2ZpSFp5VlhjVnNEUlBCeFZqYlIxRnE0M2h4YXlJT0dZeHVKajZIZXNGaHo5WmQ5ZUZHaTlhV2hOc0VpRlBMRnFRNDdHdkpOSnlWRVJWYW50WTNoZGpMN0Fqbzl6WDA3V3hYTW5MSTR5amlvNzdiby9jV004U3lEWFRNVGppSEtta2xnTjIvaGhxb3ZuSHg=

  8. Rahtawu, Gebog, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia ..., diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Rahtawu,_Gebog,_Kudus

  9. http://kuduskab.bps.go.id, diakses Januari 11, 2026, https://web-api.bps.go.id/download.php?f=nwYQRN533PBuc0j7ye/j5UhTZlVaa24zL2RDNm50U3E1a2g2K2JjNlhZdHVma0FOTk5rYkRFSk94ajhoVTdvdXVYVytXMm5qNFUwSTZFT0E1TnZyZzIzSHJRWEJhQ2ZEVm05bWp1YnR6R1FOREYyOGZwaEVKek5JUHlTUzFTYXhxNU5MOGdQcDJydHdoKy9nSnFZd3VzNFpNTm5SR1RLZjk2YitUUWFSWE1wdlBnZW9SbWFIU1dmUnBRSGQ5RUdEc3BqTnR3QWo4NXMyS2tSWm9VUlZTeUxVYTRMVWhSdFlncEJoV3c9PQ==

  10. bab iv hasil penelitian dan pembahasan - IAIN Kudus Repository, diakses Januari 11, 2026, http://repository.iainkudus.ac.id/9335/7/07%20BAB%20IV.pdf

  11. BAB II, diakses Januari 11, 2026, https://eprints2.undip.ac.id/31147/3/BAB%20II%20SKRIPSI.pdf

  12. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN, diakses Januari 11, 2026, http://repository.iainkudus.ac.id/10584/7/7.%20BAB%20IV.pdf

  13. Kecamatan GeboG DaLam anGKa 2021 - https://kuduskab.bps.go.id, diakses Januari 11, 2026, https://bappeda.kuduskab.go.id/document/Kecamatan%20Gebog%20Dalam%20Angka%202021.pdf

  14. Tanah longsor terjadi di Kudus akibatkan tiga rumah warga ..., diakses Januari 11, 2026, https://www.antaranews.com/berita/5345149/tanah-longsor-terjadi-di-kudus-akibatkan-tiga-rumah-warga-terdampak

  15. Tanah Longsor Kudus Terjang Desa Rahtawu, Tiga Rumah Warga Terdampak Akibat Hujan Deras, diakses Januari 11, 2026, https://www.merdeka.com/peristiwa/tanah-longsor-kudus-terjang-desa-rahtawu-tiga-rumah-warga-terdampak-akibat-hujan-deras-519755-mvk.html

  16. Hujan Deras Picu Longsor di Gebog Kudus, Warga Dievakuasi, diakses Januari 11, 2026, https://m1.harianjogja.com/news/read/2026/01/11/500/1242182/hujan-deras-picu-longsor-di-gebog-kudus-warga-dievakuasi

  17. Penanganan Longsor di Dukuh Semliro Desa Rahtawu Kecamatan ..., diakses Januari 11, 2026, https://bpbd.kuduskab.go.id/penanganan-longsor-di-dukuh-semliro-desa-rahtawu-kecamatan-gebog/

  18. Jalan Rahtawu Tertutup Longsor, Bupati Kudus Terjunkan Alat Berat, diakses Januari 11, 2026, https://jurnalpantura.id/jalan-rahtawu-tertutup-longsor-bupati-kudus-terjunkan-alat-berat/

  19. Menawan, Gebog, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia ..., diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Menawan,_Gebog,_Kudus

  20. Desa Wisata Menawan - Jadesta - Jawa Tengah, diakses Januari 11, 2026, https://jateng.jadesta.com/desa/menawan

  21. Perempuan Paruh Baya di Kudus Tewas Tertimbun Longsor, diakses Januari 11, 2026, https://www.metrotvnews.com/read/bmRCY359-perempuan-paruh-baya-di-kudus-tewas-tertimbun-longsor

  22. Colo, Dawe, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Colo,_Dawe,_Kudus

  23. BAB III GAMBARAN UMUM, diakses Januari 11, 2026, https://eskripsi.usm.ac.id/files/skripsi/C51A/2017/C.511.17.0033/C.511.17.0033-06-BAB-III-20210901090404.pdf

  24. http://kuduskab.bps.go.id, diakses Januari 11, 2026, https://web-api.bps.go.id/download.php?f=ove+q5EY61F4C0mKosUStzM5ZDJVemtpNVM4b3BwKzlSa1lLanZ6NXkzazk3WjZYczdWN2VTWnBTMmtPSFk0ZkZrdm9WYkpXaXBjeXBMYTEzTkorRHVaUkFCZ2FDZ0VlbEZBSmp3SkdLdmhsRnJSS3B1N2ovRzErOWF6cWhsdzNIa2oxOVdXZ29yNThLbU03STBXbG51UEF0aEVBa0p4Qk9qT0RkelFMekxIWFFzd2dTb001QTIrU0JPNGlPU0NDQUp6WEZ4MUtmYkFObk1vM3NHeng2M0pZbkV2SzU1UDhkQVpRUSszUkVVZWptalpsR2ZYWm04S1dScFliaXB3WlVTSDdYN3NaRnNuYnhDcTM=

  25. BAB IV HASIL PENELITIAN - IAIN Kudus Repository, diakses Januari 11, 2026, http://repository.iainkudus.ac.id/12636/7/7.%20BAB%20IV.pdf

  26. Mobil Ertiga dan Truk Tangki Terjun ke Jurang saat Terjadi Longsor ..., diakses Januari 11, 2026, https://jateng.tribunnews.com/ex-polwil-pati/1240089/mobil-ertiga-dan-truk-tangki-terjun-ke-jurang-saat-terjadi-longsor-di-colo

  27. Jembatan akses ke Wisata Colo Kudus longsor, dua kendaraan terdampak, diakses Januari 11, 2026, https://www.antaranews.com/berita/5343069/jembatan-akses-ke-wisata-colo-kudus-longsor-dua-kendaraan-terdampak

  28. Jembatan Colo Ambles, Jalur Utama Ziarah Sunan Muria Dialihkan ..., diakses Januari 11, 2026, https://jurnalpantura.id/jembatan-colo-ambles-jalur-utama-ziarah-sunan-muria-dialihkan-ke-portal-timur/

  29. BREAKING NEWS: Talud Jembatan Colo Menuju Makam Sunan Muria Kudus Longsor, 2 Mobil Jatuh 30 Meter, diakses Januari 11, 2026, https://jateng.tribunnews.com/jawa-tengah/1239985/breaking-news-talud-jembatan-colo-menuju-makam-sunan-muria-kudus-longsor-2-mobil-jatuh-30-meter

  30. Terdampak Longsor, Berikut Pengalihan Rute Bus Peziarah Menuju Makam Sunan Muria, diakses Januari 11, 2026, https://banyumas.tribunnews.com/jateng/86676/terdampak-longsor-berikut-pengalihan-rute-bus-peziarah-menuju-makam-sunan-muria

  31. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian, diakses Januari 11, 2026, http://repository.iainkudus.ac.id/11655/7/BAB%20IV.pdf

  32. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN, diakses Januari 11, 2026, http://repository.iainkudus.ac.id/7904/7/7.%20BAB%20IV.pdf

  33. 1. Gambaran Desa Jepang Kecamatan Mejobo Kabupaten, diakses Januari 11, 2026, http://repository.iainkudus.ac.id/7377/7/07%20BAB%20IV.pdf

  34. Wilayah Desa - Desa Jepang - Kabupaten Kudus, diakses Januari 11, 2026, https://desa-jepang.kuduskab.go.id/artikel/2016/8/26/wilayah-desa

  35. BPBD Kudus mencatat tanah longsor terjadi di empat desa, diakses Januari 11, 2026, https://jateng.antaranews.com/berita/615501/bpbd-kudus-mencatat-tanah-longsor-terjadi-di-empat-desa

  36. Waspada, Bencana Tanah Longsor Tutup Akses Jalan dan Timpa Rumah Warga di Kudus - Radar Kudus, diakses Januari 11, 2026, https://radarkudus.jawapos.com/kudus/697055322/waspada-bencana-tanah-longsor-tutup-akses-jalan-dan-timpa-rumah-warga-di-kudus

  37. Kuwukan, Dawe, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia ..., diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Kuwukan,_Dawe,_Kudus

  38. BPBD Kudus Catat 18 Titik Tanah Longsor di Empat Desa Akibat Hujan Deras, diakses Januari 11, 2026, https://www.merdeka.com/peristiwa/bpbd-kudus-catat-18-titik-tanah-longsor-di-empat-desa-akibat-hujan-deras-519417-mvk.html

  39. Bab IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN, diakses Januari 11, 2026, http://repository.iainkudus.ac.id/10977/7/7.%20Bab%20IV.pdf

  40. Ternadi, Dawe, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia ..., diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Ternadi,_Dawe,_Kudus

  41. BAB II GAMBARAN UMUM 2.1. Profil Kabupaten Kudus 2.1.1 ..., diakses Januari 11, 2026, https://eprints2.undip.ac.id/19583/3/Bab%202.pdf

  42. Sejarah Desa - Desa Kajar Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus, diakses Januari 11, 2026, https://desa-kajar.kuduskab.go.id/artikel/2023/1/4/sejarah-desa

  43. Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Indonesia ..., diakses Januari 11, 2026, https://bnpb.go.id/berita/perkembangan-situasi-dan-penanganan-bencana-di-indonesia-pada-11-januari-2026