Rindy Antika

Riendiana Weningsari

 

Musik adalah pengungkapan gagasan melalui bunyi yang mengalun secara teratur sehingga enak untuk disimak (al-Fārābī, 1967, hal. 47). Pada zaman kuno, terdapat mitos dari sekelompok masyarakat yang percaya bahwa musik memiliki kekuatan ajaib untuk menyempurnakan jiwa dan raga (McNeill, 2000, hal. 2). Pada zaman now, terdapat anggapan bahwa musik mempunyai kekuatan untuk mencirikan pandangan pribadi dan kecenderungan masyarakat (Setiawan, 2018).

 

Menyimak berbagai jenis pertunjukan musik di Indonesia, barangkali dapat dikatakan bahwa tidak ada yang lebih meriah dan meriak dibandingkan dengan dangdut. Hal ini bisa diamati melalui tulisan, tuturan, dan tayangan di beragam media massa, perbincangan di lingkungan pergaulan, maupun membludaknya para pengunjung yang menghadiri pertunjukan tersebut. Sulit dimungkiri bahwa dangdut dapat menarik perhatian banyak kalangan.

 

Dangdut, di satu sisi, terbilang mudah menjamah manah masyarakat, khususnya buat yang sedang dalam kesulitan (Weintraub, 2010, hal. 145). Larik lirik dangdut yang banyak memuat kisah tentang pergulatan pribadi dalam berjuang di tengah kehidupan sosial yang kadang timpang seakan menjadi penyalur rasa terpendam (David, 2014, hal. 258). Di sisi lain, dangdut sering dicibir karena dianggap tidak bermutu (Weintraub, 2006, hal. 411). Apalagi dangdut terbilang lentur, tak kaku untuk berpadu dengan beragam pengaruh yang tumbuh dalam dunia olah rasa, mulai dari nada ala Timur sampai Barat, tingkat ndeso hingga dunia (Wallach, 2014, hal. 272-3).

 

Cibiran terhadap dangdut kian meriak tatkala fenomena goyangan erotis penyanyinya semakin marak. Goyangan erotis sendiri sebenarnya bukan fenomena baru dalam pertunjukan musik dangdut. Keberadaan penyanyi dangdut dengan goyangan erotis sudah muncul sejak dekade 1970-an, tetapi kala itu hanya terbuka untuk kalangan dewasa belaka (Weintraub, 2010, hal. 164). Perbedaan tajam mulai terjadi pada dekade 2000-an, ketika goyangan erotis menjadi sajian biasa nyaris di setiap pertunjukan, baik on maupun off air. Masyarakat yang sejak dulu menganggap bahwa goyangan erotis sebagai perbuatan tabu pun mulai bereaksi secara menggebu (Weintraub, 2010, hal. 188).

 

Keadaan sejenis demikian membuat penyanyi dangdut perempuan (biduanita) belakangan ini mudah mendapat nilai plus dan minus dalam berkarier. Kemudahan mendapat perhatian dan mencerna larik lirik yang dilantunkan serta alunan nada yang disajikan membuat para biduanita gampang dikenal oleh banyak kalangan. Hal ini memudahkan biduanita untuk meluaskan pergaulan, menambah wawasan, hingga menggunakannya sebagai sarana menambang uang. Sayangnya, biduanita juga kerap dinista karena dianggap hanya menjual penampilan badan tanpa peduli kualitas vokal. Sebenarnya tak ada masalah dalam menjual penampilan badan, masalahnya ialah hal ini dilakukan di pasar yang menjajakan vokal.

 

Keadaan tersebut disadari sepenuhnya oleh Rindy Antika, penyanyi kelahiran Bantul yang memilih dangdut sebagai jalan karier untuk ditekuninya. Google Trends pada 6 Desember 2023 mencatat bahwa  Rindy Antika, baik dengan pencarian kata kunci “Rindy Antika” maupun “Rindi Antika”, merupakan sosok yang banyak dicari melalui mesin pencari Google (Google Trends , 2023). Sementara pencarian kata kunci “Rindi Antika” di YouTube mencatat bahwa penampilan membawakan Berbeza Kasta ditonton oleh 3.913.021 pemirsa (YouTube, 2023). Hasil serupa juga ditunjukkan melalui pencarian kata kunci “Rindy Antika” di YouTube yang tampak bahwa penampilan membawakan Korongan ditonton oleh 1.391.061 pemirsa (YouTube, 2023). Akun Instagram Rindy Antika yakni @rindyantikaku sendiri diikuti oleh sekitar 413 ribu lebih pengikut (Weningsari, 2023).

 

Menjadi penyanyi bukanlah sebuah kebetulan buat Rindy Antika, sapaan karibnya. Jalan agar bisa menjadi penyanyi seakan sudah ditatakan Tuhan. “Dari awal saya tidak ada cita-cita menjadi seorang penyanyi. Semuanya mengalir begitu saja.” tutur Rindy Antika mengenang masa lalunya (Antika, 2023).

 

Rindy Antika memang belum bercita-cita menjadi penyanyi ketika anak-anak. Namun, sejak anak-anak, dirinya mulai menunjukkan talenta sebagai penyanyi. “Waktu kecil saya suka menari dan menyanyi, “ tuturnya membuka cerita. “Waktu TK saya ikut paduan suara, bersama teman-teman yang lain. Tapi di rumah, saya juga sering nyanyi-nyanyi sendiri sama karaokean, dan kebetulan waktu kelas 3 SD itu jaman booming lagu Goyang Inul.” lanjutnya, “Saya mengikuti goyangan yang ada di DVD juga nyanyinya. Terus orangtua saya mendaftarkan saya untuk ikut lomba pentas 17-an gerak dan lagu. Saya menyanyikan lagu Goyang Inul tersebut juga sambil goyang ngebor seperti yang dilakukan mbak Inul Daratista di video klip tersebut. Saya dapat juara 2. Setelah itu mungkin orang-orang terutama orangtua saya menlihat saya ada potensi, saya terus-terusan dilatih bernyanyi di rumah. Kebutulan tetangga bude saya ada yang punya campursari, laku diikutkan latihan disitu.” pungkasnya (Antika, 2023).

 

Walau kedua orangtua mengarahkan, tak ada pemaksaan untuk diikuti putri sulung pasangan Ibu Sutarmi & Bapak Suparman ini. Rindy Antika sendiri berpikir kalau arahan tersebut bukanlah ambisi orangtua, melainkan kepedulian orangtua yang melihat bakat buah hati tak boleh mati. Apalagi kegemaran dan keadaan lingkungan mendukung. Keadaan lingkungan pun dimanfaatkan oleh Rindy Antika untuk belajar olah vokal secara rapi dan rinci sedari dini.

 

Dukungan sepenuhnya, baik secara psikis, teknis, maupun ekonomis, dirasakan oleh Rindy Antika. Wajar jika dirinya gembira melakukannya. Kegembiraan yang turut membahagiakan orangtua tentunya. Rindy Antika tak lelah belajar mengolah vokal sesuai jenis suara yang dimiliki agar berpadu apik dengan alunan nada yang mengiringi. Dirinya terus mengelaborasi pita suaranya maupun beragam bunyi alat musik agar kelak bisa menyajikan pertunjukan prima ketika menjadi penyanyi. Apalagi dirinya mulai merasakan manfaat finansial sebagai penyanyi.

 

“Sering latihan lama-lama player-nya juga mengajak saya bernyanyi di pentas, “ ungkap Rindy Antika, “Pertama saya bayaran nyanyi di kelas 3/4 SD Rp10.000. Karena saya tau bernyanyi bisa menghasilkan uang, saya jadi semangat untuk latihan bernyanyi dan menghafal lagu. Karena dulu katanya semakin banyak lagu yang saya bisa semakin banyak juga uang yang kudapatkan. Ibaratnya bisa 10 lagu = Rp10.000, bisa 50 lagu = Rp50.000.” pungkasnya (Antika, 2023).

 

Selain memanfaatkan bakat suara dan titian yang ditatakan orangtua, Rindy Antika juga menyadari modal lain yang dimiliki, ialah daya tarik fisik. Wajah cantik dan badan estetik menjadi sisi yang turut digali untuk menyajikan gerakan badan yang apik dan enerhik. Rindy Antika mengerti bahwa modal ini sama pentingnya dengan modal ekonomi, sosial, dan budaya (Hakim, 2010, hal. 500).

 

Dukungan orangtua dan usaha yang dilakukan Rindy Antika kian diperkuat dengan pendidikan formal. Tak hanya berlatih autodidak dan mengikuti sangar campursari yang dikelola tetangga bu dhe nya, Rindy Antika belakangan memilih untuk menimba ilmu seni secara formal. “Seiring berjalanya waktu saya sering nyanyi banyak juga yang menyarankan saya untuk sekolah di seni,” tambahnya, “Jadi saya lulus SMP terus melanjutkan ke SMKI. Di sana belajar lagu-lagu jawa karena saya ambil jurusan karawitan.” pungkasnya (Antika, 2023).

 

Rindy Antika berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan tugas akhir Gending Endol-Endol (Weningsari, 2020). Tak cukup dengan pendidikan menengah, Rindy Antika pun melanjutkannya sampai jenjang pendidikan tinggi. Dirinya memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, tepatnya di Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan. “Saya di ISI ambil jurusan seni pretunjukan prodi pendidikan seni pertunjukan. Pendidikan seni pertunjukan mencakup semua seni yang ada di pertunjukan (drama, tari, dan musik).” ceritanya (Antika, 2023).

 

Di tengah kesibukan menjadi penyanyi, Rindy Antika masih tetap berhasil lulus tepat waktu. Melalui skripsi berjudul Nilai-Nilai Pendidikan Karakter pada Tari Angguk Putri Sripanglaras Desa Pripih, Hargomulyo, Kokap, Kulon Progo, Rindy Antika mengungkap nilai-nilai pendidikan karakter pada tari Angguk Putri Sripanglaras yaitu: religius, toleransi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, dan tanggung jawab (Weningsari, 2019). Rindy Antika menyampaikan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter tersebut terlihat pada motif gerak, tata busana, dan lirik lagu. Menurutnya, tari ini layak diajarkan kepada masyarakat khususnya remaja dan anak karena memuat nilai-nilai pendidikan karakter. Alhasil dirinya berhasil secara resmi merampungkan masa belajarnya pada 27 September 2019 silam.

 

Rindy Antika terbilang klop dengan musik dangdut. Ini tak lepas dari masa lalunya yang lebih dini mendengar, mengenal, dan menekuni genre dangdut dibanding genre lain. “Karena musik pertama yang saya dengar dan pelajari adalah dangdut. Jadi seterusnya mengalir menjadi penyanyi dangdut, namun juga sedikit-sedikit belajar genre lain.” jawabnya ketika ditanya alasan lebih memilih menjadi penyanyi dangdut, meskipun bisa bebernyanyi lintas genre musik (Antika, 2023).

 

Dalam hal musik dangdut, Rindy Antika menyebut Inul Daratista sebagai role model-nya. Bahkan pada masa lalu, berkah meniru Inul Daratista lah yang telah membuka jalan Rindy Antika di dunia dangdut. Meski demikian, dirinya juga menyukai beberapa genre lain, seperti campursari dan pop.

 

Sejak kecil, Rindy Antika terbilang memiliki showmanship yang tinggi. Tak sulit baginya untuk mendapat perhatian dari lingkungannya. Bahkan kemauan dan kemampuannya untuk bernyanyi sekaligus bergoyang di depan banyak orang membuatnya dianggap sebagai sosok antik. Keadaan tersebut membuatnya mendapat sematan sebagai “antik” yang belakangan digunakan sebagai nama panggung “Antika” sekaligus nama fanbase “Antikaku”.

 

“Saya kurang tahu karena sudah melekat dari dulu waktu kecil. Tapi kalau dulu kan nama panggung pasti ada ya, mungkin karena antik ya anak kecil jaman dulu sudah bisa nyanyi sambil goyang-goyang di depan orang,” tegasnya menjelaskan asal usul kata Antika sebagai nama panggung (Antika, 2023). Tampak kentara bahwa kisah Rindy Antika tak ada sangkutpaut dengan Ratna Intikasari as known as Ratna Antika, penyanyi yang sejak 2007 sering bersama Monata Band, New Pallapa, dan Sera.

 

Rindy Antika berusaha untuk menjadi penyanyi yang pantas dikagumi. Memang dirinya kadang tampil tak jauh berbeda dengan biduanita, dengan menyajikan goyangan menawan dalam balutan busana menggoda. Walakin penampilan Rindy Antika tak sampai senonoh, apalagi vulgar dan jorok!

 

Dalam banyak aksi panggung, Rindy Antika memang cenderung berbusana terbuka laiknya biduantita pada umumnya. Namun, Rindy Antika juga kerap tampil tertutup mengenakan kebaya. Sayangnya, walau sudah menyajikan lantunan vokal apik dan berbusana pantas, banyak khalayak yang memandang Rindy Antika “modal badan doang”. Tak dimungkiri bahwa kesintalan badan turut berperan dalam melambungkan nama Rindy Antika. Karena kesintalan badan pula Rindy Antika banyak mudah mendapatkan cibiran kelewat cemar. Cibiran yang nyaris membutakan hingga enggan mendengar, alih-alih mengapresiasi, kualitas vokal.

 

Wajar saja. Sah-sah saja. Mungkin penampilan Duo Serigala memantik amarah sebagian orang. Amarah yang muncul karena cemburu, dengki, atau jengkel. Sementara tak bisa dielakkan lagi bahwa, “Mata yang penuh amarah hanya memandang segala yang nista sepertihalnya mata yang cinta akan tumpul terhadap semua cela.”

 

Pertanyaannya, salahkah menjadi perempuan cantik? Sebagian orang mungkin akan menjawab iya. Naomi Wolf dalam buku The Beauty Myth menuturkan bahwa kecantikan adalah mitos yang diciptakan industri untuk mengeksploitasi perempuan secara ekonomi melalui produk-produk kosmetik (Wolf, 2022, hal. 14).

 

Pandangan Naomi beserta pendukungnya boleh jadi tidak bisa disalahkan, tetapi kurang lengkap untuk menjadi genggaman. Pasalnya Naomi tak mementingkan paras cantik sebagai salah satu modal untuk perempuan, seperti diungkapkan oleh Catherine Hakim melalui konsep erotic capital.

 

Erotic capital merupakan kombinasi dari daya tarik fisik, estetik, visual, sosial, dan seksual yang dimiliki seseorang untuk menarik orang lain (Hakim, 2010, hal. 500). Ada enam bagian dalam erotic capital, kecantikan adalah salah satunya. Sepertihalnya jenis modal lain, erotic capital juga dapat diupayakan, kosok bali dengan pandangan yang cenderung menyangka bahwa kecantikan hanyalah ketetapan Tuhan (buat yang percaya Tuhan) atau suatu kebetulan alamiah (buat yang cuma percaya Hukum Alam).

 

Cibiran terhadap Rindy Antika banyak berpijak dari pandangan yang menyebut bahwa pintar adalah hasil tekun belajar, sedangkan cantik adalah bawaan lahir. Cerdas dianggap sesuatu yang diperoleh lewat kerja keras, sedangkan kecantikan adalah anugerah yang didapat tanpa usaha. Padahal posisinya bisa saja terbalik. Pasalnya faktor genetis pun, terutama dari ibu, berperan penting dalam menentukan kecerdasan seseorang. Sedangkan untuk tampil cantik, seseorang perlu banyak berusaha, mulai dari olah raga, menjaga pola konsumsi, merias wajah, hingga berpikir menentukan pakaian.

 

Tak perlu membutakan mata menyaksikan bahwa orang yang cantik memang kerap mendapat beragam kemudahan. Contoh paling bagus dalam hal ini ialah Maria Yuryevna Sharapova (Maria Sharapova). Pendapatan sebagai model jauh lebih banyak ketimbang menjadi petenis. Maria bahkan masih tetap menambah kekayaan saat diskors gara-gara kasus obat-obatan terlarang.

 

Erotic capital sama pentingnya dengan modal ekonomi, sosial, dan budaya. Pertanyaan selanjutnya, mengapa kita tampak enggan mengapresiasi kecantikan perempuan sepertihalnya kecerdasan? Ketika ada perempuan dandan, dibilang menghabiskan waktu tak berguna. Walakin ketika membaca buku, disangka waktu diisi dengan kegiatan bermanfaat. Perempuan yang berusaha menunjukkan kecantikan malahan tak jarang otomatis dianggap bodoh. Pekerjaan yang menjual badan perempuan, seperti biduan dan modelling, diberi stigma sebagai pekerjaan hina. Lebih menyesakkan lagi, ketika ada perempuan cantik ingin menikahi lelaki kaya dilabeli “matre” yang mengkhianati kesucian cinta dalam perkawinan. Padahal, alasan di balik julukan “matre” ini adalah bahwa lelaki harus mendapatkan kenikmatan yang mereka inginkan dari perempuan secara gratis, terutama seks.

 

Kecantikan dan upaya mempercantik diri dianggap sebagai tindakan tak baik. Para peserta kontes kecantikan, misalnya, mendapatkan banyak cibiran. Kecerdasan dan kecantikan dilihat sebagai dua hal bertentangan yang tak mungkin dipadukan oleh perempuan. Perempuan yang memiliki keduanya, tidak diizinkan untuk menggunakan semuanya, hanya boleh memaksimalkan kecerdasan saja. Why?

 

Rindy Antika memang istimewa: vokalnya, fisiknya, usahanya, maupun gagasannya. Pun karier yang dijalani, terbilang cemerlang. Wajar kalau dia banyak disuka dan kehadirannya secara off air maupun on line mudah mendapat pemirsa.

 

Rindy Antika adalah salah satu manusia yang berani berunjuk rasa (expression) dengan cara yang bisa dilakukannya (Darwin, 1872, hal. 10). Keberanian berunjuk rasa menjadi satu hal yang memang selayaknya dilatih sejak masa balita. Keberanian berunjuk rasa memberi semangat agar tak ragu mengungkapkan perasaan dengan penuh yakin diri (confident) (Stajkovic, 2006, hlm. 1209). Yakin diri menjadi pondasi penting dalam membentuk jiwa yang rendah hati (humility) (Davis, et al., 2011, hal. 225). Manusia yang piawai berunjuk rasa memiliki dua sisi berkelindan ini: yakin diri dan rendah hati. Meski seringkali yakin diri dilihat sebagai arogansi dan rendah hati dinilai sebagai wujud rendah diri.

 

Walau unjuk rasanya menggembirakan rasa maupun melepas lara manusia lainnya, Rindy Antika tetaplah manusia biasa. Rindy Antika butuh makan, minum, maupun tidur, juga bisa berpeluh lelah, berkeluh kesah, berkeruh amarah, merasa bad mood, minder, dsb. dst. laiknya manusia pada umumnya. Kepiawaian Rindy Antika dalam berunjuk rasa dengan berbagai cara tetap disertai pembawaan diri dalam menjalani keseharian laiknya manusia biasa. Rindy Antika sendiri juga mengagumi manusia lainnya, seperti Inul Daratista.

 

Sepanjang menjalani keseharian, Rindy Antika tak pernah meminta dikagumi. Dirinya hanya berusaha melakukan perbuatan yang selaras nurani. Walakin dari sini, banyak orang yang kemudian mengagumi Rindy Antika. Tak sedikit pula yang menjadikan perempuan kelahiran Ahad Wage ini sebagai panutan untuk dianut.

 

Rindy Antika sendiri tak memikirkan hal tersebut. Dikagumi atau tidak, menjadi panutan atau bukan, tak menjadi pijakan buatnya. Rindy Antika hanya berusaha untuk terus tetap mentas, tanpa mencari pencapaian, tanpa lelah berjuang. Di-reken sukses atau tidak dalam pencapaian bukan urusannya, yang merupakan kesuksesannya adalah tak lelah berjuang mengayuh secara terus-menerus. Mengayuh… mengayuh… mengayuh perjalanan… saling mengapresiasi kesamaan dan menghormati ketidaksamaan… “You say God give me a choice…” seperti lantun Queen dalam Bicycle Race yang dirilis pada 1978 (Queen, 2008).

 

Rindy Antika tak lelah berjuang bukan semata memuaskan hasratnya, tidak juga sekadar menggembirakan orangtua. Namun, untuk memberi motivasi dan inspirasi buat sesama manusia biasa, khususnya kepada anak-anak untuk belajar dari lingkungan sekitarnya.

 

Perjalanan yang dilakoni Rindy Antika adalah duet awet ikhtiar dan takdir. Sebagian orang boleh saja memandangnya dengan cemar dan rajin mencibir. Meski demikian, Rindy Antika tak langsir ungkapan nyinyir yang dialamatkan padanya dari para tukang pandir. Biarpun sebagian orang sirik tiada akhir, Rindy Antika terus tetap mengalir.

 

Kisah Rindy Antika yang tak lelah mengembangkan diri teranyam azam. Teranyam sebagai motivasi dan inspirasi agar tetap meniti tatanan dari Sang Pencipta Semesta Raya dengan rasa riang. Rindy Antika terlahir sebagai penghibur, yang sanggup membuat orang lain gembira meski dia sendiri tak selalu merasakannya.

 

Sanjungan yang diterima tak membuat Rindy Antika melayang. Begitu juga cibiran tak membuat dirinya tumbang. Rindy Antika tetaplah Rindy Antika, yang kehadirannya selalu dirindukan, namanya dielu-elukan. Dan, dia tetaplah perempuan, yang selalu sulit untuk dimengerti sepenuhnya meski dapat dinikmati seutuhnya. Rindy Antika ketika dilihat itu fisik, ketika dinikmati itu hati.

 

K.Rb.Lg.220545.061223.13:57

 

Biodata

Nama Lengkap

:

Riendiana Weningsari

Nama Panggilan

:

Rindi

Nama Panggung

:

Rindy Antika

Tempat Lahir

:

Bantul

Hari Lahir

:

Ahad Wage

Tanggal Lahir

:

28 Jumādā al-ākhiroh 1417 H. / 10 November 1996

Jenis Kelamin

:

Perempuan

Agama

:

Islam

Golongan Darah

:

O

 

Pendidikan Formal

Tingkat

Lembaga

Tahun

Keterangan

TK

TK ABA Sumurmuling

2001–2002

-

SD

SD N Mendiro

2002–2008

-

SMP

SMP N 2 Lendah

2008–2011

-

SMA/K

SMK 1 Kasihan

(SMKI Yogyakarta)

2011–2014

Program Keahlian:

Seni Pertunjukan

 

Kompetensi Keahlian:

Seni Karawitan

 

Tugas Akhir:

Gending Endol-Endol

PT

Institut Seni Indonesia

Yogyakarta

2015–2019

Jurusan:

Pendidikan Sendratasik

 

Program Studi:

Pendidikan Seni Pertunjukan

 

Judul Skripsi:

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter pada Tari Angguk Putri Sripanglaras Desa Pripih, Hargomulyo, Kokap, Kulon Progo

 

Referensi

al-Fārābī, A. N. (1967). Kitāb al-mūsīqī al-kabīr. Kairo: Dār al-kātib al-ʻarabī li-al-ṭibāʻa wa-al-našr. Diambil kembali dari https://archive.org/details/KitabAlMusiqaAlKadirByAlFarabiarabic_201801

Antika, R. (2023, Desember 5). Chat WhatsApp Wanda Akrom dengan Rindy Antika. (W. Akrom, Pewawancara)

Darwin, C. R. (1872). The expression of the emotions in man and animals. London: John Murray. Diambil kembali dari http://darwin-online.org.uk/content/frameset?itemID=F1142&viewtype=text&pageseq=1

David, B. (2014). Seductive pleasures, eluding subjectivities: some thoughts on dangdut’s ambiguous identity. Dalam B. Barendregt, Sonic Modernities in the Malay World: A History of Popular Music, Social Distinction and Novel Lifestyles (1930s – 2000s) (hal. 249-268). Leiden: Brill. Diambil kembali dari https://www.jstor.org/stable/10.1163/j.ctt1w8h0zn.12?seq=1

Davis, D. E., Hook, J. N., Worthington Jr, E. L., Van Tongeren, D. R., Gartner, A. L., Jennings, D. J., & Emmons, R. A. (2011). Relational humility: conceptualizing and measuring humility as a personality judgment. Journal of Personality Assessment, 93(9), 225-234. Diambil kembali dari https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00223891.2011.558871

Google Trends . (2023, Desember 6). Google Trends. Diambil kembali dari Google Trends: https://trends.google.co.id/trends/explore?date=today%205-y&geo=ID&q=rindy%20antika,rindi%20antika&hl=id

Hakim, C. (2010). Erotic capital. European sociological review, 26(5), 499-518. Diambil kembali dari http://www.catherinehakim.org/wp-content/uploads/2011/07/ESR-Erotic-Capital-Oct-2010.pdf

McNeill, R. J. (2000). Sejarah musik: Musik awal sejak masa Yunani kuno sampai akhir masa Barok, tahun 0-1760. Jakarta Pusat: Gunung Mulia. Diambil kembali dari https://books.google.co.id/books/about/Sejarah_musik_Musik_awal_sejak_masa_Yuna.html?id=gvUbPwAACAAJ&redir_esc=y

Queen. (2008, Agustus 2). Queen - Bicycle Race (Official Video). Diambil kembali dari Youtube Queen Official: https://youtu.be/xt0V0_1MS0Q

Setiawan, A. R. (2018, Maret 1). Ki Oza Kioza. Diambil kembali dari alobatnic: http://alobatnic.blogspot.com/2018/03/roza-lailatul-fitria-oza-kioza.html

Wallach, J. (2014). Notes on dangdut music, popular nationalism, and indonesian islam. Dalam B. Barendregt, P. Yampolsky, J. v. Putten, A. Johan, A. Weintraub, E. Baulch, . . . T. S. Beng, Sonic Modernities in the Malay World (hal. 269–289). Leiden: Brill. Diambil kembali dari https://brill.com/display/book/edcoll/9789004261778/B9789004261778-s010.xml

Weintraub, A. N. (2006). Dangdut soul: who are ‘the people’in indonesian popular music? Asian Journal of Communication, 16(4), hlm., 16(4), 411-431. Diambil kembali dari https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/01292980601012444

Weintraub, A. N. (2010). Dangdut stories: a social and musical history of indonesia's most popular music. Oxford: Oxford University Press. Diambil kembali dari https://books.google.co.id/books?id=VP1P_SQ5jj0C&dq=Andrew+Weintraub+musik+dangdut&lr=&hl=id&source=gbs_navlinks_s

Weningsari, R. (2019). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter pada Tari Angguk Putri Sripanglaras Desa Pripih, Hargomulyo, Kokap, Kulon Progo. Bantul: Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Diambil kembali dari http://digilib.isi.ac.id/6261/

Weningsari, R. (2020, Mei 9). Rindy Antika Ujian TA Karawitan SMKI 2013/2014. Diambil kembali dari YouTube Riendiana Weningsari: https://www.youtube.com/watch?v=F6IPAHVw44U

Weningsari, R. (2023, Desember 6). Akun Instagram Riendiana Weningsari. Diambil kembali dari Instagram @rindyantikaku: https://www.instagram.com/rindyantikaku

Wolf, N. (2022). The beauty myth: how images of beauty are used againts women. New York City: Morrow. Diambil kembali dari http://www.alaalsayid.com/ebooks/The-Beauty-Myth-Naomi-Wolf.pdf

YouTube. (2023, Desember 6). Pencarian "Rindi Antika" di YouTube. Diambil kembali dari YouTube: https://www.youtube.com/results?search_query=%22rindi+antika%22&sp=CAM%253D

YouTube. (2023, Desember 6). Pencarian "Rindy Antika" di YouTube. Diambil kembali dari YouTube: https://www.youtube.com/results?search_query=%22rindy+antika%22&sp=CAM%253D