Ringkasan
Artikel ini menyusun rekonstruksi forensik dan analisis multidimensi mengenai rangkaian peristiwa hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada periode 9 hingga 11 Januari 2026. Peristiwa ini bukan merupakan insiden tunggal, melainkan akumulasi dari interaksi kompleks antara anomali cuaca ekstrem, degradasi lingkungan di kawasan hulu Pegunungan Muria, dan kerentanan infrastruktur di dataran rendah. Analisis mencakup tinjauan kronologis detil, profil geografis dan astronomis presisi dari wilayah terdampak, dinamika sosial-ekonomi masyarakat pada fase pra, saat, dan pasca peristiwa, serta evaluasi respons pemangku kepentingan (stakeholders).
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa peristiwa ini berdampak pada sedikitnya 29 desa yang tersebar di lima kecamatan utama: Gebog, Dawe, Kota, Mejobo, dan Jati. Lebih dari 14.143 jiwa terdampak langsung 1, dengan kerusakan signifikan pada infrastruktur vital termasuk jalan nasional (Pantura), akses pariwisata strategis, dan permukiman warga. Artikel ini disusun secara sistematis berdasarkan klaster kewilayahan untuk memberikan gambaran utuh mengenai variabilitas dampak dan respons lokal.
I. Pendahuluan: Konteks Geografis, Astronomis, dan Meteorologis
1.1 Profil Geografis dan Astronomis Kabupaten Kudus
Kabupaten Kudus memiliki topografi unik yang membagi wilayahnya menjadi dua zona risiko peristiwa yang kontras namun saling memengaruhi. Di bagian utara, terdapat kawasan Pegunungan Muria yang merupakan area vulkanik tidak aktif dengan kelerengan curam, berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area). Di bagian selatan, terdapat dataran aluvial rendah yang menjadi zona akumulasi aliran air.
Secara astronomis, wilayah terdampak membentang dalam koordinat yang spesifik, yang menentukan pola eksposur terhadap curah hujan orografis:
Zona Hulu (Utara): Diwakili oleh Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, yang terletak pada koordinat 6°38′23″S 110°52′27″E.2 Wilayah ini memiliki luas 1.610,67 Ha dengan topografi berbukit terjal.3 Desa Colo, Kecamatan Dawe, berada pada koordinat 6°39′30″S 110°53′56″E dengan elevasi ±700 mdpl.4
Zona Transisi (Tengah): Desa Singocandi, Kecamatan Kota, terletak pada 6°47′27″S 110°50′37″E.6 Wilayah ini merupakan area permukiman padat yang dilintasi sungai-sungai utama dari utara.
Zona Hilir (Selatan & Timur): Merupakan cekungan banjir. Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, berada pada 6°49′50″S 110°50′29″E 7, sementara Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo, terletak pada 6°49′1″S 110°53′43″E.8
1.2 Kondisi Meteorologis Pra-Peristiwa
Pada awal Januari 2026, kondisi atmosfer di wilayah Jawa Tengah, khususnya Pantura Timur, menunjukkan ketidakstabilan signifikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang berlaku mulai 8 hingga 9 Januari 2026.9
Faktor pemicu utama adalah adanya Monsun Asia yang kuat, diperparah oleh konvergensi angin yang memusat di sekitar Gunung Muria. Hal ini menyebabkan pembentukan awan konvektif masif yang menghasilkan hujan dengan intensitas sangat tinggi (lebih dari 500 milimeter) dalam durasi singkat.10 Peringatan dini nowcasting menunjukkan potensi hujan lebat disertai angin kencang dan kilat pada periode 0-6 jam ke depan di wilayah tersebut.11
1.3 Kondisi Masyarakat Pra-Peristiwa
Masyarakat di wilayah terdampak berada dalam kondisi kesiapsiagaan yang bervariasi:
Masyarakat Hulu (Gebog/Dawe): Memiliki sensitivitas tinggi terhadap tanda-tanda alam (local wisdom). Di Rahtawu, warga secara aktif memantau retakan tanah yang muncul sebelum kejadian longsor, menunjukkan tingkat kewaspadaan mandiri yang baik.12
Masyarakat Hilir (Jati/Mejobo): Terbiasa dengan banjir tahunan, namun tidak mengantisipasi intensitas ekstrem Januari 2026. Banyak warga yang tetap beraktivitas normal di sektor perdagangan dan pertanian hingga air mulai memasuki permukiman. Di Pasar Glonggong, aktivitas ekonomi berjalan seperti biasa sebelum akhirnya lumpuh total akibat banjir.13
II. Kronologi Komprehensif Kejadian Peristiwa (9-11 Januari 2026)
Rekonstruksi waktu kejadian menunjukkan pola perambatan peristiwa dari hulu ke hilir yang mengikuti dinamika hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Gelis, Wulan, dan Piji.
Fase Inisiasi: Eskalasi Curah Hujan (Jumat Siang, 9 Januari 2026)
Hujan dengan intensitas lebat mulai mengguyur merata di seluruh wilayah Kabupaten Kudus. Di kawasan hulu Pegunungan Muria, saturasi tanah mencapai titik jenuh, memicu ketidakstabilan lereng.
Fase Krisis Pertama: Longsor dan Jebol Tanggul (Jumat Malam, 9 Januari 2026)
19.30 WIB - Kecamatan Dawe (Longsor Infrastruktur):
Di Desa Colo, akses jalan utama menuju kawasan wisata religi Makam Sunan Muria mengalami longsor. Lokasi kejadian berada tepat di sebelah barat portal wisata. Longsor ini menyebabkan jembatan dan badan jalan ambrol. Dua kendaraan yang sedang parkir, yaitu satu unit truk tangki air (Isuzu Elf nopol K 9397 BT) dan satu minibus (Suzuki Ertiga nopol K 1276 AK), terperosok ke dalam jurang sedalam 20 meter.14 Insiden ini memutus akses logistik dan wisata.20.30 WIB - Perbatasan Pati (Banjir Kiriman):
Di sisi timur yang berbatasan dengan Pati, tanggul sungai di Desa Bulumanis Kidul jebol sepanjang 25 meter, menandakan volume air yang luar biasa besar dari hulu.1523.00 WIB - Kecamatan Kota (Banjir Bandang Urban):
Debit air Sungai Gelis yang melintasi pusat kota Kudus meningkat drastis. Di Desa Singocandi, tekanan hidrostatis menyebabkan tanggul jebol di empat titik. Tembok pembatas Perumahan Sumur Kota sepanjang tiga meter roboh, menyebabkan air bah menerjang permukiman warga dengan arus deras.16
Fase Puncak: Genangan Luas dan Kelumpuhan Akses (Sabtu, 10 Januari 2026)
Dini Hari - Pagi:
Air limpasan dari hulu mencapai dataran rendah di Kecamatan Mejobo dan Jati. Desa Mejobo, Golantepus, Temulus, dan Kesambi mulai tergenang air dengan ketinggian bervariasi antara 40 cm hingga 100 cm.10Siang (11.30 WIB):
Banjir mencapai puncaknya di wilayah Jalan Pantura Timur Kudus-Pati. Pertigaan Pasar Glonggong terendam banjir, menyebabkan kelumpuhan total aktivitas ekonomi pasar. Pedagang terpaksa menutup kios, dan akses jalan nasional mengalami kemacetan parah atau tidak dapat dilalui kendaraan kecil.13Sore:
Evakuasi massal mulai dilakukan di wilayah Jati Wetan dan Tanjung Karang dimana ketinggian air terus bertambah akibat efek "mangkuk" (cekungan) yang tidak dapat mengalirkan air ke Sungai Wulan yang juga penuh.19
Fase Susulan: Pergerakan Tanah Lanjutan (Minggu, 11 Januari 2026)
07.00 WIB - Kecamatan Gebog (Longsor Permukiman):
Meskipun intensitas hujan sedikit menurun, tanah yang sudah jenuh air di Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, mengalami kegagalan struktur. Tebing setinggi 10 meter longsor menimpa tiga rumah warga. Berkat kewaspadaan warga yang melihat retakan sebelumnya, evakuasi mandiri berhasil dilakukan sesaat sebelum kejadian, sehingga korban jiwa dapat dihindari.12Siang - Sore:
Di Desa Kedungsari, Kecamatan Gebog, luapan Sungai Setro menghanyutkan satu unit mobil Grand Livina milik warga. Di lokasi lain, longsor di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, mengakibatkan satu korban jiwa (Sriyatun) akibat tertimpa bangunan toko yang roboh.20
III. Analisis Mendalam Per Kelompok Desa (Klaster Wilayah)
Analisis berikut menyajikan rincian kondisi, dampak, dan respon spesifik berdasarkan klaster geografis desa untuk memberikan gambaran yang utuh dan sistematis.
3.1 Klaster I: Pegunungan Muria (Kecamatan Gebog & Dawe)
Wilayah ini merupakan zona bahaya longsor (landslide prone area) dan sumber aliran permukaan. Karakteristik peristiwa di sini bersifat destruktif cepat (rapid onset).
A. Desa Rahtawu (Kecamatan Gebog)
Profil Presisi: Desa terluas di Gebog (1.610,67 Ha) dengan koordinat 6°38′23″S 110°52′27″E. Penggunaan lahan didominasi oleh hutan dan tegalan di lereng curam.3
Kondisi Pra-Peristiwa: Warga di Dukuh Semliro mendeteksi adanya retakan tanah yang memanjang di depan rumah mereka sebelum longsor terjadi. Ini menunjukkan kepekaan masyarakat terhadap gejala alam.
Kondisi Saat Peristiwa: Longsor terjadi Minggu pagi (11/1) pukul 07.00 WIB. Material tanah dan batuan menerjang bagian belakang dan atap rumah. Tiga rumah rusak berat/sedang dengan kerugian estimasi Rp30 juta.
Tindakan Warga: Evakuasi mandiri dilakukan sebelum longsor terjadi. Pasca kejadian, warga bersama relawan dan TNI/Polri melakukan kerja bakti membersihkan material longsor untuk membuka akses jalan yang tertutup.12
B. Desa Colo (Kecamatan Dawe)
Profil Presisi: Terletak di 6°39′30″S 110°53′56″E, Desa Colo adalah pusat ekonomi wisata religi dengan luas 584 Ha.5
Kondisi Saat Peristiwa: Longsor pada Jumat malam (9/1) menghancurkan infrastruktur jalan kabupaten. Dua kendaraan (Truk Tangki dan Suzuki Ertiga) jatuh ke jurang sedalam 20 meter.
Dampak Pasca Peristiwa: Akses wisata ke Makam Sunan Muria terputus total. Hal ini mematikan ekonomi mikro pedagang di sekitar lokasi wisata. Proses evakuasi kendaraan memerlukan alat berat (crane) dan melibatkan koordinasi lintas sektor.22
C. Desa Menawan (Kecamatan Gebog)
Profil Presisi: Luas wilayah 825 Ha, koordinat 6°43′...S.23
Insiden Fatal: Longsor di Dukuh Kambangan RT 5/RW 5 merobohkan sebuah toko sembako. Korban atas nama Sriyatun meninggal dunia karena terjepit reruntuhan, menjadikan ini salah satu insiden paling fatal dalam rangkaian peristiwa Januari 2026.20
3.2 Klaster II: Perkotaan dan Transisi (Kecamatan Kota)
Wilayah ini mengalami banjir akibat kegagalan infrastruktur (tanggul) dalam menahan debit air ekstrem.
A. Desa Singocandi
Profil Presisi: Koordinat 6°47′27″S 110°50′37″E, merupakan area suburban padat penduduk.6
Mekanisme Peristiwa: Banjir bukan disebabkan oleh genangan hujan lokal semata, melainkan jebolnya tanggul Sungai Gelis di empat titik. Arus air memiliki kecepatan tinggi (flash flood characteristic).
Dampak: Perumahan Sumur Kota terendam hingga 1 meter. Enam rumah mengalami kerusakan struktur. Tembok pembatas perumahan roboh. Warga harus dievakuasi darurat pada malam hari di tengah arus deras.16
3.3 Klaster III: Dataran Rendah Pertanian (Kecamatan Mejobo)
Wilayah ini berfungsi sebagai area retensi alamiah namun mengalami dampak kerugian pertanian terbesar.
A. Desa Mejobo, Golantepus, & Temulus
Profil Presisi:
Desa Mejobo: Luas wilayah terdiri dari permukiman dan persawahan luas.25
Golantepus: Koordinat 6°49′1″S 110°53′43″E.8
Temulus: Koordinat 6°51′15″S 110°53′58″E.26
Kondisi Peristiwa: Banjir genangan (inundation) merendam wilayah ini mulai Sabtu (10/1). Di Desa Mejobo, 600 KK (1.741 jiwa) terdampak. 30 rumah terendam hingga 40 cm.
Dampak Ekonomi: Ratusan hektare sawah yang baru tanam atau menjelang panen terendam banjir (puso), mengancam ketahanan pangan dan pendapatan petani.10
Aksesibilitas: Jalan penghubung antar-desa terputus genangan, menyebabkan isolasi parsial. Banyak kendaraan roda dua mogok saat mencoba melintas.10
3.4 Klaster IV: Cekungan Hilir (Kecamatan Jati & Kaliwungu)
Wilayah ini mengalami dampak terparah dengan durasi terlama karena topografi cekungan (basin) dan drainase yang buruk.
A. Desa Jati Wetan
Profil Presisi: Koordinat 6°49′50″S 110°50′29″E, luas 26,30 km².7 Merupakan titik terendah drainase di Kudus.
Kondisi Peristiwa: Banjir merendam ribuan rumah dengan ketinggian air mencapai 50-100 cm. Tanggul Sungai Wulan dilaporkan mengalami keretakan sepanjang 10 meter, menambah kepanikan warga.27
Infrastruktur Vital: Terminal Induk Jati (Tipe A) lumpuh total. Bus tidak dapat masuk, mengulangi sejarah kelumpuhan terminal pada tahun-tahun sebelumnya. Jalan Pantura di depan terminal berubah menjadi sungai, memutus jalur logistik nasional.28
Pengungsian: Balai Desa Jati Wetan menjadi pusat pengungsian utama. Pada fase awal, tercatat 66 KK (233 jiwa) mengungsi, namun jumlah ini terus bertambah seiring naiknya air. Kondisi pengungsian padat, dan pasokan logistik menjadi tantangan.29
B. Desa Tanjung Karang
Kondisi Peristiwa: Banjir dipicu oleh luapan Sungai Kencing dan drainase yang tersumbat. Genangan bersifat stagnan (tidak mengalir).
Dampak: Sekitar 2.300 KK terdampak genangan.30 Akses kendaraan tersendat total. Sekolah dan fasilitas umum diliburkan.
IV. Analisis Penyebab Peristiwa
Berdasarkan data lapangan, peristiwa ini disebabkan oleh multikausalitas (banyak faktor) yang saling memperkuat:
4.1 Faktor Meteorologis (Pemicu Utama)
Curah hujan ekstrem menjadi penyebab langsung (direct cause). Data presipitasi mencatat curah hujan >500 mm di hulu Muria.10 Durasi hujan yang panjang (lebih dari 48 jam) tanpa henti menyebabkan tanah jenuh dan debit sungai melampaui kapasitas tampung (Q > Q_cap).
4.2 Degradasi Lingkungan Hulu (Faktor Penguat)
Analisis dari pemerhati lingkungan Universitas Muria Kudus mengonfirmasi bahwa gundulnya hutan di kawasan Muria mempercepat laju aliran permukaan (run-off). Hilangnya vegetasi mengurangi infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga air hujan langsung meluncur ke sungai membawa material sedimen (lumpur) yang mendangkalkan sungai di hilir.31
4.3 Kegagalan Infrastruktur (Faktor Struktural)
Tanggul Kritis: Jebolnya tanggul di Singocandi dan retaknya tanggul di Jati Wetan menunjukkan bahwa infrastruktur pengendali banjir di Kudus belum didesain untuk menghadapi anomali cuaca ekstrem periode ulang 50-100 tahunan.
Sistem Drainase: Di Jati Wetan dan Mejobo, sistem pintu air dan pompa tidak mampu membuang air ke sungai utama (Wulan/Juwana) karena elevasi muka air sungai lebih tinggi daripada permukiman (backwater effect).
V. Kondisi Masyarakat dan Dampak Sosial-Ekonomi
5.1 Dampak Demografis dan Pengungsian
Total warga terdampak mencapai 14.143 jiwa.1 Data pengungsian menunjukkan konsentrasi massa di titik-titik aman:
Sumber Data: BPBD Kudus & Laporan Lapangan 29
5.2 Dampak Ekonomi
Sektor Pertanian: Kerusakan lahan sawah (puso) di Mejobo dan Undaan (Desa Ngemplak, Karangrowo) mencapai ratusan hektare. Kerugian estimasi miliaran rupiah.
Sektor Perdagangan: Pasar Glonggong dan pertokoan di sepanjang jalan Pantura tutup total selama 2-3 hari.
Transportasi: Kelumpuhan Terminal Jati mengganggu pendapatan awak bus dan pedagang asongan terminal. Kemacetan Pantura menghambat distribusi barang.
5.3 Psikososial dan Kesehatan
Masyarakat mengalami tekanan psikologis, terutama di Jati Wetan yang mengalami banjir berulang (langganan). Di pengungsian, kebutuhan akan perlengkapan bayi, alat mandi, dan pakaian bersih sangat mendesak.32 Risiko penyakit kulit dan diare meningkat seiring buruknya sanitasi lingkungan yang tergenang.
VI. Tindakan Warga dan Tanggapan Stakeholder
6.1 Tindakan Mandiri Warga
Evakuasi Mandiri: Di Rahtawu, warga proaktif mengungsi sebelum longsor, sebuah contoh sukses kearifan lokal mitigasi peristiwa.
Gotong Royong: Di Singocandi dan Jati, warga bahu-membahu membuat tanggul darurat dari karung pasir sebelum bantuan resmi datang.
Adaptasi Ekonomi: Beberapa warga memanfaatkan perahu rakitan untuk transportasi darurat atau jasa penyeberangan di lokasi banjir genangan.
6.2 Respon Pemerintah Daerah (Pemkab & BPBD)
Status Darurat: Pemerintah Kabupaten Kudus menetapkan Status Siaga Darurat Peristiwa berlaku hingga 31 Mei 2026. Hal ini memungkinkan pencairan dana Belanja Tak Terduga (BTT) untuk penanganan darurat.10
Mobilisasi Alat Berat: Dinas PUPR dan BPBD mengerahkan alat berat untuk mengevakuasi kendaraan di jurang Colo dan membersihkan longsoran di Rahtawu.22
Logistik: Pendirian dapur umum terpusat di Balai Desa Jati Wetan, Mejobo, dan Temulus. Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris, turun langsung ke lapangan untuk memantau kondisi tanggul dan pengungsi.33
6.3 Respon TNI/Polri
Evakuasi & Keamanan: Polres Kudus dan Kodim setempat menerjunkan personel untuk evakuasi warga terjebak banjir menggunakan perahu karet. Pengamanan dilakukan di lokasi rumah yang ditinggal mengungsi untuk mencegah penjarahan.
Rekayasa Lalu Lintas: Satlantas Polres Kudus melakukan pengalihan arus lalu lintas dari jalur Pantura yang lumpuh ke jalur alternatif, meskipun jalur alternatif di Desa Jojo juga sempat tergenang.35
6.4 Bantuan Lintas Wilayah
Solidaritas terlihat dari bantuan yang mengalir tidak hanya dari internal Kudus. Kemenag Pati menyalurkan bantuan ke wilayah perbatasan yang terdampak.36 Bantuan logistik juga disiapkan untuk antisipasi dampak jangka panjang.
VII. Kesimpulan
Peristiwa banjir dan longsor di Kudus pada Januari 2026 menegaskan kerentanan wilayah tersebut terhadap perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Dari hulu di Rahtawu (6°38′ S) hingga hilir di Jati Wetan (6°49′ S), setiap klaster desa menghadapi tantangan spesifik: longsor struktural di pegunungan, banjir bandang di transisi kota, dan genangan stagnan di cekungan hilir.
Meskipun respons tanggap darurat pemerintah dan masyarakat berjalan cukup efektif dalam meminimalisir korban jiwa (kecuali satu fatalitas di Menawan), kerusakan infrastruktur dan kerugian ekonomi sangat besar. Rekonstruksi pasca-peristiwa harus memprioritaskan perbaikan tanggul sungai secara permanen, normalisasi sistem drainase di Jati Wetan, serta yang paling krusial, restorasi ekosistem hutan di Pegunungan Muria untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa depan.
Karya yang dikutip
Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Kudus - Metro TV, diakses Januari 11, 2026, https://www.metrotvnews.com/read/b1oCOerY-hujan-deras-picu-banjir-dan-longsor-di-kudus
Rahtawu, Gebog, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia ..., diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Rahtawu,_Gebog,_Kudus
http://kuduskab.bps.go.id, diakses Januari 11, 2026, https://web-api.bps.go.id/download.php?f=nwYQRN533PBuc0j7ye/j5UhTZlVaa24zL2RDNm50U3E1a2g2K2JjNlhZdHVma0FOTk5rYkRFSk94ajhoVTdvdXVYVytXMm5qNFUwSTZFT0E1TnZyZzIzSHJRWEJhQ2ZEVm05bWp1YnR6R1FOREYyOGZwaEVKek5JUHlTUzFTYXhxNU5MOGdQcDJydHdoKy9nSnFZd3VzNFpNTm5SR1RLZjk2YitUUWFSWE1wdlBnZW9SbWFIU1dmUnBRSGQ5RUdEc3BqTnR3QWo4NXMyS2tSWm9VUlZTeUxVYTRMVWhSdFlncEJoV3c9PQ==
Colo, Dawe, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Colo,_Dawe,_Kudus
BAB III GAMBARAN UMUM, diakses Januari 11, 2026, https://eskripsi.usm.ac.id/files/skripsi/C51A/2017/C.511.17.0033/C.511.17.0033-06-BAB-III-20210901090404.pdf
Singocandi, Kota Kudus, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia ..., diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Singocandi,_Kota_Kudus,_Kudus
Jati, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Jati,_Kudus
Golantepus, Mejobo, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia ..., diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Golantepus,_Mejobo,_Kudus
BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem Hingga Awal Maret, diakses Januari 11, 2026, https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/ybDrqwpK-bmkg-waspada-potensi-cuaca-ekstrem-hingga-awal-maret
Hujan Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Kudus, Ribuan Warga ..., diakses Januari 11, 2026, https://betanews.id/2026/01/hujan-ekstrem-picu-banjir-dan-longsor-di-kudus-ribuan-warga-terdampak.html
Peringatan Dini Cuaca - BMKG, diakses Januari 11, 2026, https://www.bmkg.go.id/cuaca/peringatan-dini-cuaca
Tiba-tiba Tanah Bergerak dan Retak, 3 Rumah Rusak di Rahtawu ..., diakses Januari 11, 2026, https://jateng.tribunnews.com/muria/1240138/tiba-tiba-tanah-bergerak-dan-retak-3-rumah-rusak-di-rahtawu-kudus
Pati Siaga Satu: 14 Kecamatan Dikepung Banjir dan Longsor, BPBD Kerahkan Bantuan Lintas Kabupaten, diakses Januari 11, 2026, https://jateng.tribunnews.com/jawa-tengah/1240158/pati-siaga-satu-14-kecamatan-dikepung-banjir-dan-longsor-bpbd-kerahkan-bantuan-lintas-kabupaten
Truk dam Mobil Terjun ke Jurang akibat Jalan Menuju Makam Sunan Muria di Kudus Longsor, diakses Januari 11, 2026, http://regional.kompas.com/read/2026/01/10/193953178/truk-dam-mobil-terjun-ke-jurang-akibat-jalan-menuju-makam-sunan-muria-di
Tanggul Jebol, Ratusan Rumah Warga Desa Bulumanis Kidul Pati Kebanjiran, diakses Januari 11, 2026, https://jateng.tribunnews.com/jawa-tengah/1240013/tanggul-jebol-ratusan-rumah-warga-desa-bulumanis-kidul-pati-kebanjiran
Hujan Deras Picu Banjir di Kudus, Perumahan dan Jalur Pantura Tergenang, Warga Dievakuasi - Radar Kudus, diakses Januari 11, 2026, https://radarkudus.jawapos.com/kudus/697051854/hujan-deras-picu-banjir-di-kudus-perumahan-dan-jalur-pantura-tergenang-warga-dievakuasi
Banjir Melanda Sejumlah Wilayah di Kudus - JPNN.com, diakses Januari 11, 2026, https://www.jpnn.com/news/banjir-melanda-sejumlah-wilayah-di-kudus
Banjir Landa Sejumlah Wilayah Kabupaten Kudus usai Diguyur ..., diakses Januari 11, 2026, https://demakbicara.pikiran-rakyat.com/fakta-jateng/pr-1399922962/banjir-landa-sejumlah-wilayah-kabupaten-kudus-usai-diguyur-hujan-deras
Pengungsi Banjir Semakin Bertambah, Bupati Kudus Bakal Siapkan ..., diakses Januari 11, 2026, https://www.zonanews.id/pengungsi-banjir-semakin-bertambah-bupati-kudus-bakal-siapkan-pendopo-jadi-tempat-pengungsian/nila-rustiyani/2/
Murianews.com: Cepat. Tepat. Akurat., diakses Januari 11, 2026, https://www.murianews.com
bab iv hasil penelitian dan pembahasan - IAIN Kudus Repository, diakses Januari 11, 2026, http://repository.iainkudus.ac.id/9335/7/07%20BAB%20IV.pdf
Dua Kendaraan yang Terbawa Longsor di Colo Berhasil Dievakuasi, diakses Januari 11, 2026, https://betanews.id/2026/01/dua-kendaraan-yang-terbawa-longsor-di-colo-berhasil-dievakuasi.html
Menawan, Gebog, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia ..., diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Menawan,_Gebog,_Kudus
Banjir Kudus Rendam Pemukiman dan Rusak Fasilitas Umum Akibat Hujan Deras, diakses Januari 11, 2026, https://www.merdeka.com/peristiwa/banjir-kudus-rendam-pemukiman-dan-rusak-fasilitas-umum-akibat-hujan-deras-519275-mvk.html
Wilayah Desa - Desa Mejobo - Kabupaten Kudus, diakses Januari 11, 2026, https://desa-mejobo.kuduskab.go.id/artikel/2016/8/26/wilayah-desa
Temulus, Mejobo, Kudus - Wikipedia bahasa Indonesia ..., diakses Januari 11, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Temulus,_Mejobo,_Kudus
Tanggul Sungai Wulan Retak, Bupati Kudus Siapkan Upaya Darurat, diakses Januari 11, 2026, https://jatengprov.go.id/beritadaerah/tanggul-sungai-wulan-retak-bupati-kudus-siapkan-upaya-darurat/
Banjir Kudus, Terminal Jati lumpuh - ANTARA News Jateng, diakses Januari 11, 2026, https://jateng.antaranews.com/berita/478293/banjir-kudus-terminal-jati-lumpuh
Kondisi Terkini Bencana Banjir di Kabupaten Kudus., diakses Januari 11, 2026, https://bpbd.kuduskab.go.id/kondisi-terkini-bencana-banjir-di-kabupaten-kudus/
Diguyur Hujan Seharian, Ribuan Warga Desa Tanjungkarang ..., diakses Januari 11, 2026, https://betanews.id/2025/02/diguyur-hujan-seharian-ribuan-warga-desa-tanjungkarang-kudus-terdampak-banjir.html
BPBD: Penyebab banjir bandang di Kudus akibat hutannya gundul, diakses Januari 11, 2026, https://www.antaranews.com/berita/3840576/bpbd-penyebab-banjir-bandang-di-kudus-akibat-hutannya-gundul
Pengungsi Banjir Bandang Siau Sulut Masih Butuh Alat Mandi dan Pakaian, Erna: Kalau Makanan Banyak, diakses Januari 11, 2026, https://manado.tribunnews.com/sitaro/1860652/pengungsi-banjir-bandang-siau-sulut-masih-butuh-alat-mandi-dan-pakaian-erna-kalau-makanan-banyak
Pantau Langsung Banjir di Jembatan Tambak Lulang, Bupati Kudus ..., diakses Januari 11, 2026, https://www.zonanews.id/pantau-langsung-banjir-di-jembatan-tambak-lulang-bupati-kudus-pastikan-debit-sungai-mulai-turun/elang/
Banjir Melanda Di Beberapa Wilayah di Kabupaten Kudus., diakses Januari 11, 2026, https://bpbd.kuduskab.go.id/banjir-melanda-di-beberapa-wilayah-di-kabupaten-kudus/
IMG-20260109-WA0024 - Jurnal Pantura, diakses Januari 11, 2026, https://jurnalpantura.id/relokasi-diwarnai-protes-sejumlah-pedagang-ngotot-tetap-gelar-lapak-di-pasar-bitingan/img-20260109-wa0024/
Peduli Korban Banjir, Kemenag Pati Salurkan Bantuan, diakses Januari 11, 2026, https://berita.murianews.com/umar-hanafi/457933/peduli-korban-banjir-kemenag-pati-salurkan-bantuan