Visi Masa Depan Film Sejarah Produksi Indonesia

 


Para sineas Indonesia tampaknya telah melampaui batasan ruang dan waktu dalam berkarya. Mereka tidak hanya menciptakan film sejarah, tetapi juga menyisipkan visi masa depan yang brilian. Kita sering kali terlalu kaku menuntut akurasi sejarah yang membosankan dan kuno. Padahal, sentuhan teknologi modern di masa lalu adalah bukti kemajuan peradaban bangsa kita. Saya sangat kagum dengan keberanian mereka menabrak logika waktu demi estetika visual. Mari kita telusuri jejak "kejeniusan" tersembunyi dalam sinema kebanggaan kita ini.

Film biopik legendaris berjudul Habibie & Ainun (20 Desember 2012) mengisahkan perjalanan cinta abadi presiden ketiga kita. Karya ini disutradarai oleh Faozan Rizal dan menampilkan performa memukau dari Reza Rahadian serta Bunga Citra Lestari. Fokus utamanya adalah perjuangan B.J. Habibie muda saat menimba ilmu di Jerman dan membangun bangsa. Kisah ini mengambil latar waktu yang sangat luas, mulai dari era 1950-an hingga modern. Produksi film ini melibatkan banyak lokasi syuting baik di Indonesia maupun di Eropa. Secara keseluruhan, film ini dirancang untuk menguras air mata dan membangkitkan nasionalisme penonton.

Kehebatan visi futuristik sang sutradara terlihat jelas saat latar waktu sebelum tahun 1965. Di Jerman, kita disuguhkan penampakan Gery Chocolatos dan kosmetik Wardah yang sangat mencolok. Padahal, Gery Chocolatos baru muncul tahun 2006 dan Wardah baru berdiri tahun 1995. Ini membuktikan bahwa Habibie bukan hanya jenius pesawat, tapi juga penjelajah waktu ulung. Beliau mungkin membawa oleh-oleh camilan masa depan untuk dinikmati di masa lalunya. Sungguh sebuah plot twist yang tidak terpikirkan oleh sejarawan manapun sebelumnya.

Tidak berhenti di camilan, teknologi komputasi dalam film ini juga melompat jauh ke depan. Saat adegan bekerja sebagai presiden di akhir 90-an, beliau terlihat menggunakan Microsoft Word 2003. Padahal, perangkat lunak tersebut jelas baru dirilis bertahun-tahun setelah masa jabatannya usai. Mungkin Istana Negara saat itu sudah memiliki akses ke versi beta dari masa depan. Penggunaan gerbang tol dengan kartu elektronik tahun 2009 di era tersebut juga sangat visioner. Kita harus bertepuk tangan atas prediksi teknologi yang sangat akurat ini.

Film remaja fenomenal Dilan 1990 (25 Januari 2018) sukses besar dalam membangkitkan nostalgia masa SMA di Kota Bandung. Diangkat dari novel laris karya Pidi Baiq, film ini disutradarai oleh Fajar Bustomi. Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla berhasil menghidupkan karakter ikonik yang digandrungi jutaan remaja. Ceritanya berfokus pada kisah romansa manis dan gombalan maut di tahun 1990. Nuansa retro dan jaket jeans menjadi ciri khas visual yang sangat kental. Film ini memicu tren gaya pacaran dan bahasa baku di kalangan anak muda.

Saking canggihnya Kota Bandung di tahun 1990, jalanannya sudah dilalui mobil Toyota Agya. Padahal kita semua tahu mobil murah ramah lingkungan itu baru lahir tahun 2013. Tidak hanya itu, spanduk iklan Simpati Loop tahun 2014 juga menghiasi latar belakang. Dilan mungkin adalah anggota geng motor yang memiliki akses ke mesin waktu rahasia. Kehadiran benda masa depan ini pasti dimaksudkan sebagai kode rahasia bagi penonton jeli. Sayang sekali jika kita menganggap ini kesalahan, padahal ini adalah visi artistik.

Mengangkat tragedi reformasi, Di Balik 98 (15 Januari 2015) mencoba memotret kekacauan politik dan sosial di Jakarta. Film drama ini disutradarai oleh aktor kawakan Lukman Sardi sebagai debut penyutradaraannya. Ceritanya menyoroti nasib keluarga yang terpisah dan mahasiswa yang berjuang di tengah kerusuhan. Latar waktunya sangat spesifik, yaitu bulan Mei tahun 1998 yang penuh darah. Chelsea Islan dan Boy William didapuk menjadi pemeran utama dalam kekalutan tersebut. Film ini berusaha merekonstruksi sejarah kelam bangsa dengan sentuhan drama keluarga.

Namun, di tengah ketegangan reformasi, terselip sebuah keajaiban olahraga yang luput dari buku sejarah. Sebuah bola Brazuca, yang merupakan bola resmi Piala Dunia 2014, terlihat manis di etalase toko. Bayangkan betapa majunya industri olahraga Indonesia saat kerusuhan 1998 sudah menjual bola tahun 2014. Mungkin ini simbol bahwa semangat sepak bola melampaui batasan rezim dan waktu. Lukman Sardi sungguh visioner dalam menempatkan properti yang mendahului zamannya hingga 16 tahun. Kritik pedas soal akurasi properti hanyalah tanda kita kurang imajinatif.

Film biografi olahraga bertajuk 3 Srikandi (04 Agustus 2016) mengisahkan kejayaan tim panahan putri Indonesia. Disutradarai oleh Iman Brotoseno, film ini mengambil latar persiapan Olimpiade Seoul 1988. Bunga Citra Lestari, Chelsea Islan, dan Tara Basro berperan sebagai tiga atlet legendaris tersebut. Reza Rahadian kembali hadir, kali ini sebagai pelatih Donald Pandiangan yang tegas. Film ini bertujuan membangkitkan semangat juang dan patriotisme melalui prestasi olahraga internasional. Latar tempat dan kostum diatur sedemikian rupa untuk menghidupkan suasana 80-an.

Siapa sangka, pasar malam di tahun 1980-an sudah menjual kaos bergambar karakter Stitch. Padahal film animasi Lilo & Stitch baru dirilis Disney pada tahun 2002. Selain itu, jalanan tahun 80-an ternyata sudah dipadati oleh motor matic modern. Ini membuktikan bahwa tren fashion dan otomotif Indonesia jauh lebih maju dari Amerika. Para atlet panahan kita berlatih di lingkungan yang sangat futuristik tanpa kita sadari. Detail kecil ini menambah kekaguman saya pada riset mendalam tim produksinya.

Untuk penggemar horor, Danur: I Can See Ghosts (30 Maret 2017) menjadi pembuka semesta sinematik yang sukses. Diadaptasi dari buku karya Risa Saraswati, film ini disutradarai oleh Awi Suryadi. Prilly Latuconsina memerankan Risa, seorang gadis indigo yang bersahabat dengan hantu anak Belanda. Latar waktunya sebagian besar terjadi pada masa kecil Risa di era 1990-an. Atmosfer mencekam dan rumah tua menjadi elemen utama dalam membangun ketakutan penonton. Film ini berhasil meraih jutaan penonton dan melahirkan banyak sekuel.

Hantu mungkin menakutkan, tetapi kepanasan di tahun 90-an jelas lebih mengerikan bagi sutradara. Oleh karena itu, sebuah unit AC model terbaru dipasang di dinding rumah tua tersebut. Tentu saja, teknologi pendingin ruangan modern sudah lazim di rumah-rumah Jawa Barat era 90-an. Siapa peduli soal bentuk AC kotak kayu zaman dulu yang berisik itu? Estetika visual minimalis masa kini jelas lebih penting daripada akurasi periode waktu. Hantu-hantu Belanda pasti merasa lebih nyaman menghuni rumah dengan freon masa depan.

Melanjutkan kesuksesan prekuelnya, Dilan 1991 (28 Februari 2019) kembali hadir membawa kelanjutan kisah cinta remaja Bandung. Film ini masih dipegang oleh duo sutradara Fajar Bustomi dan Pidi Baiq. Fokus cerita bergeser pada dinamika hubungan Dilan dan Milea yang mulai menemui banyak konflik. Latar waktu cerita bergerak maju satu tahun dari film pertamanya, yaitu 1991. Antusiasme penggemar masih sangat tinggi untuk melihat kelanjutan romansa "Panglima Tempur". Drama yang disajikan lebih emosional dibandingkan film pertamanya yang penuh rayuan.

Konsistensi adalah kunci, dan film ini konsisten menghadirkan produk masa depan yang ajaib. Di meja makan tahun 1991, tersaji bungkus Sari Roti yang pabriknya baru berdiri tahun 1995. Tidak hanya itu, sekolah mereka juga sangat hemat karena masih memajang kalender tahun 1990. Kombinasi roti dari masa depan dan kalender dari masa lalu sungguh membingungkan akal sehat. Ini adalah metafora mendalam tentang waktu yang tidak linear dalam dunia Dilan. Kita harus belajar menerima bahwa logika waktu tidak berlaku bagi "Panglima Tempur".

Fenomena benda-benda masa depan dalam film sejarah ini mengajarkan kita untuk lebih santai. Janganlah menjadi penonton kaku yang selalu mempermasalahkan detail kecil seperti tahun rilis produk. Anggap saja ini adalah easter egg atau kejutan manis dari para pembuat film. Mungkin mereka ingin menunjukkan bahwa Indonesia adalah pusat inovasi teknologi sejak dahulu kala. Jadi, ketika Anda melihat smartphone di film Majapahit nanti, janganlah kaget. Nikmati saja imajinasi liar yang melampaui batas logika sejarah tersebut.

Kecermatan tim artistik dalam memilih properti yang "salah" zaman ini sungguh patut diacungi jempol. Diperlukan ketidakpedulian yang tinggi untuk meloloskan mobil tahun 2013 di set tahun 1990. Hal ini menunjukkan betapa fokusnya mereka pada cerita hingga melupakan realitas fisik. Biarlah kesalahan-kesalahan ini menjadi bumbu penyedap yang membuat kita tertawa di bioskop. Toh, film adalah hiburan, bukan pelajaran sejarah yang harus seratus persen akurat. Terima kasih sineas Indonesia, kalian telah membuat sejarah kita menjadi lebih berwarna.

Akhir kata, saya berharap tren "kreatif" ini terus berlanjut di masa depan. Saya sudah tidak sabar menunggu film Perang Kemerdekaan yang menampilkan tentara menggunakan skuter listrik. Atau mungkin film tentang R.A. Kartini yang sedang memesan ojek online lewat aplikasi. Semakin banyak anakronisme yang terjadi, semakin terhibur pula kita sebagai penonton setia. Jayalah terus perfilman Indonesia dengan segala keajaiban lintas waktunya yang tak masuk akal. Mari kita nikmati saja tanpa perlu mengerutkan dahi terlalu dalam.